☰
✕

Lima lapisan AI jadi kunci ambisi digital Indonesia

JAKARTA (IndoTelko) - Pemerintah Indonesia menyiapkan strategi pengembangan kecerdasan artifisial (AI) secara menyeluruh untuk memperkuat posisi nasional dalam industri teknologi global. Strategi tersebut mencakup lima lapisan utama, mulai dari energi, infrastruktur, chip, talenta, hingga aplikasi.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan Indonesia tidak ingin hanya menjadi pasar bagi teknologi AI, tetapi juga berperan sebagai pemain yang memiliki kontribusi dalam pengembangan ekosistem AI dunia.

“Pada akhirnya kita tidak ingin hanya menjadi user, kita ingin menjadi player yang signifikan dalam pengembangan AI di tingkat global,” ujar Nezar saat menghadiri acara UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center di Yogyakarta, Kamis (13/8).

Menurut Nezar, pendekatan lima lapisan tersebut menjadi cara pemerintah melihat AI secara lebih menyeluruh melalui konsep full stack of AI. Setiap lapisan memiliki fungsi penting untuk membangun kemandirian dan daya saing digital Indonesia.

Lapisan pertama dimulai dari sektor energi sebagai fondasi operasional infrastruktur AI, kemudian dilanjutkan dengan infrastruktur komputasi, pengembangan chip, peningkatan kualitas talenta digital, hingga pemanfaatan aplikasi AI.

Saat ini, Indonesia masih berfokus pada pengembangan aplikasi dengan memanfaatkan foundation model yang telah tersedia. Pemerintah mendorong proses post-training agar teknologi tersebut dapat digunakan untuk menyelesaikan berbagai kebutuhan di sektor strategis seperti kesehatan, pertanian, dan pendidikan.

Nezar menjelaskan pembangunan model AI secara mandiri membutuhkan investasi besar serta waktu yang panjang. Karena itu, pemanfaatan model yang sudah ada menjadi langkah awal yang lebih realistis untuk mempercepat adopsi AI di berbagai sektor.

Namun, pemerintah memastikan pengembangan AI nasional tidak berhenti pada tingkat aplikasi. Jika hanya berfokus sebagai pengguna, Indonesia dinilai berisiko tertinggal dalam rantai nilai teknologi AI global.

Melalui Peta Jalan Nasional Pengembangan AI, pemerintah mendorong kolaborasi antara industri, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat seluruh lapisan ekosistem AI.

Selain infrastruktur digital, Indonesia juga melihat potensi sumber daya alam sebagai modal strategis. Kekayaan mineral kritis yang dimiliki Indonesia dinilai dapat mendukung pengembangan industri bernilai tambah, termasuk dalam rantai pasok teknologi seperti chip.

“Kita punya critical minerals yang cukup banyak dan cukup strategis,” kata Nezar.

Dengan pendekatan full stack AI tersebut, pemerintah berharap Indonesia dapat membangun ekosistem teknologi yang lebih kuat dan memiliki peran lebih besar dalam perkembangan kecerdasan artifisial di tingkat global. (mas)