☰
✕

Cloudera ungkap era baru arsitektur AI Enterprise

JAKARTA (IndoTelko) - Perusahaan global mulai melakukan perubahan besar pada fondasi teknologi mereka untuk mendukung implementasi kecerdasan buatan (AI) dalam skala enterprise. Namun, keterbatasan infrastruktur dan tata kelola data masih menjadi hambatan utama dalam mempercepat adopsi AI.

Hal tersebut terungkap dalam laporan terbaru Cloudera bertajuk The Great AI Re-Architecture. Survei yang melibatkan 1.500 profesional teknologi dari berbagai negara tersebut menunjukkan bahwa 95% organisasi pernah menunda atau membatalkan proyek AI dalam satu tahun terakhir akibat kendala tata kelola data, kepatuhan, maupun regulasi.

Laporan tersebut juga mencatat sebanyak 77% perusahaan telah menggunakan AI dalam operasional mereka. Namun, 72% responden menilai arsitektur data yang digunakan saat ini membutuhkan perubahan besar agar mampu memenuhi kebutuhan AI di masa depan.

Cloudera menyebut kondisi tersebut sebagai “The Great AI Re-Architecture”, yaitu pergeseran dari sistem data lama menuju arsitektur modern berbasis hybrid yang memungkinkan perusahaan menjalankan AI secara lebih aman, fleksibel, dan terukur.

Chief Technology Officer Cloudera Sergio Gago mengatakan, banyak perusahaan menyadari bahwa infrastruktur yang sebelumnya dibangun untuk kebutuhan analitik tradisional belum mampu memenuhi tuntutan AI modern.

“Keberhasilan AI akan bergantung pada fondasi data yang memungkinkan organisasi menjalankan AI di lingkungan yang paling sesuai tanpa mengorbankan keamanan maupun kendali,” ujarnya.

Biaya AI dan Tata Kelola Jadi Tantangan

Perkembangan AI yang semakin luas turut memberikan tekanan terhadap infrastruktur perusahaan. Sebanyak 75% responden menyatakan penggunaan AI telah mengubah cara organisasi menyimpan dan mengelola data, sementara 84% mengalami peningkatan biaya infrastruktur akibat beban kerja AI.

Selain biaya, tata kelola data menjadi persoalan penting. Sebanyak 73% responden mengaku AI membuat pengelolaan data menjadi lebih kompleks. Bahkan, 55% perusahaan harus menunda atau membatalkan lebih dari enam proyek AI selama 12 bulan terakhir karena kendala governance, compliance, dan regulasi.

Country Manager Indonesia Cloudera Sherlie Karnidta mengatakan tantangan tersebut juga mulai dirasakan perusahaan di Indonesia.

Menurutnya, perusahaan kini tidak lagi hanya berlomba mengadopsi AI, tetapi harus memastikan teknologi tersebut dapat dikelola secara optimal dengan dukungan infrastruktur dan tata kelola yang tepat.

Hybrid Cloud Jadi Pilihan Baru

Untuk menghadapi tantangan AI, perusahaan mulai beralih ke strategi infrastruktur hybrid. Model ini memungkinkan organisasi mengombinasikan public cloud, private cloud, on-premises, dan edge sesuai kebutuhan bisnis.

Survei Cloudera mencatat 66% responden telah memindahkan sebagian workload AI dari public cloud kembali ke private cloud atau infrastruktur lokal dalam setahun terakhir.

Ke depan, sebanyak 25% organisasi berencana menjadikan pendekatan hybrid-first sebagai prioritas dalam dua tahun mendatang.

Cloudera menilai masa depan AI enterprise tidak akan bergantung pada satu model infrastruktur saja, melainkan pada kemampuan perusahaan membangun arsitektur data yang fleksibel, aman, dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan bisnis.

Dengan semakin luasnya pemanfaatan AI, perusahaan yang berhasil memodernisasi sistem data dan menerapkan tata kelola secara konsisten dinilai memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan manfaat jangka panjang dari teknologi tersebut. (mas)