☰
✕

Mayoritas korban pelecehan online di Asia Pasifik alami trauma

JAKARTA (IndoTelko) Pelecehan dan penyalahgunaan yang difasilitasi teknologi tidak hanya berdampak pada aktivitas digital, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis, hubungan sosial, hingga kehidupan profesional korban. Temuan terbaru Kaspersky menunjukkan bahwa sebagian besar korban di kawasan Asia Pasifik merasakan konsekuensi nyata, meski banyak yang masih enggan atau tidak mengetahui cara mencari bantuan.

Berdasarkan studi yang melibatkan 7.600 responden di 19 negara, sebanyak 80% responden di Asia Pasifik menilai dampak psikologis dan sosial sebagai konsekuensi utama dari pelecehan digital. Dampak tersebut mencakup trauma, depresi, stres berkepanjangan, kerusakan reputasi, hingga isolasi sosial.

Namun, tingkat kesadaran terhadap dampak lain masih relatif rendah. Hanya 59% responden yang mengaitkan pelecehan digital dengan kerugian ekonomi, sementara 53% menyadari potensi eskalasi menjadi ancaman fisik. Padahal, berbagai bentuk penyalahgunaan teknologi dapat berujung pada risiko keselamatan pribadi maupun gangguan kesehatan akibat tekanan yang berlangsung dalam jangka panjang.

Laporan tersebut juga menunjukkan dampak nyata terhadap kehidupan korban. Sebanyak 55% korban mengaku menjadi lebih berhati-hati saat beraktivitas di internet, sementara 25% memilih mengurangi kehadiran mereka di ruang digital. Selain itu, 18% membatasi komunikasi dengan keluarga atau teman, dan sekitar 12% mengakhiri hubungan personal.

Pada kasus yang lebih serius, 4% responden menyatakan kehilangan atau meninggalkan pekerjaan akibat dampak pelecehan yang dialami. Sementara itu, 3% lainnya mengaku harus menghentikan pendidikan mereka.

Meski dampaknya signifikan, Kaspersky menemukan masih banyak korban yang tidak mengambil langkah apa pun. Di Asia Pasifik, sekitar 13% korban memilih tidak melakukan tindakan setelah mengalami pelecehan digital. Fenomena serupa juga terjadi pada para saksi, di mana 9% responden yang mengetahui kasus pelecehan terhadap orang lain memilih untuk tidak terlibat.

Menurut Kaspersky, kondisi tersebut lebih banyak dipicu oleh ketidakpastian dibandingkan sikap acuh. Secara global, 32% responden mengaku tidak mengetahui cara membantu korban, sedangkan 23% merasa ragu apakah keterlibatan mereka diperlukan atau tepat dilakukan.

Peneliti Keamanan Utama Kaspersky sekaligus Kepala Pusat Penelitian Amerika dan Eropa pada tim Global Research and Analysis Team (GReAT), Tatyana Shishkova, menilai masih terdapat kesenjangan pemahaman mengenai dampak penuh dari pelecehan digital. Banyak orang memahami dampak emosionalnya, tetapi belum menyadari konsekuensi yang dapat menjalar ke dunia kerja, pendidikan, maupun hubungan sosial.

Sementara itu, Associate Professor UCL Computer Science sekaligus Kepala Laboratorium Penelitian Gender and Technology, Dr. Leonie Maria Tanczer, mengatakan bahwa penyalahgunaan berbasis teknologi masih sering dianggap sebagai masalah yang lebih ringan dibandingkan kejahatan di dunia nyata. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan dampaknya dapat sama seriusnya dan sering kali sulit dikenali maupun dibuktikan oleh korban.

Managing Director Kaspersky Asia Pasifik, Adrian Hia, menambahkan bahwa ruang digital kini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, peningkatan kesadaran, penguatan keamanan siber, serta keterlibatan seluruh pihak diperlukan untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih aman dan bebas dari penyalahgunaan teknologi.

Temuan ini menunjukkan bahwa tantangan utama tidak hanya terletak pada pencegahan pelecehan digital, tetapi juga pada upaya mendorong korban dan masyarakat untuk lebih berani mencari serta memberikan dukungan ketika kasus terjadi. (mas)