☰
✕

Sektor migas jadi target utama serangan siber ICS di Indonesia

JAKARTA (IndoTelko) Komputer sistem kontrol industri atau industrial control systems (ICS) di Indonesia masih menjadi sasaran utama serangan siber sepanjang kuartal pertama 2026. Data terbaru Kaspersky menunjukkan sektor minyak dan gas mencatat tingkat ancaman tertinggi dibandingkan industri lainnya.

Laporan Kaspersky ICS CERT mengungkapkan, sebanyak 21,81% komputer ICS di Indonesia terdeteksi dan berhasil diblokir dari berbagai objek berbahaya selama periode Januari hingga Maret 2026. Artinya, lebih dari satu dari lima sistem industri di dalam negeri menghadapi ancaman siber.

Secara global, persentase komputer ICS yang menjadi target serangan mencapai 19,6% pada kuartal pertama tahun ini. Selama periode tersebut, solusi keamanan Kaspersky mendeteksi dan memblokir 10.052 keluarga malware dari berbagai kategori yang menyasar sistem otomasi industri.

Berdasarkan wilayah, proporsi komputer ICS yang diserang berkisar antara 27,4% di Afrika hingga 9,1% di Eropa Utara. Kaspersky juga mencatat peningkatan serangan terhadap sektor manufaktur di sejumlah kawasan, termasuk Asia dan Eropa.

Untuk pasar Indonesia, sektor minyak dan gas menjadi industri dengan tingkat ancaman tertinggi, dengan 28% komputer ICS terpapar objek berbahaya yang berhasil diblokir. Posisi berikutnya ditempati sektor tenaga listrik dan otomasi gedung dengan persentase masing-masing 24,5%.

Sementara itu, sektor teknik dan integrasi ICS mencatat angka 21,2%, diikuti konstruksi sebesar 20,5%. Adapun sektor manufaktur dan biometrik mencatat tingkat paparan yang relatif lebih rendah, masing-masing sebesar 19,4% dan 19,3%.

Tingginya ancaman terhadap sektor energi menunjukkan bahwa infrastruktur kritis masih menjadi target utama pelaku kejahatan siber. Selain memiliki nilai strategis, gangguan pada sektor tersebut berpotensi menimbulkan dampak operasional dan kerugian ekonomi yang signifikan.

Country Manager Indonesia Kaspersky, Defi Nofitra, mengatakan transformasi digital yang semakin masif di berbagai sektor industri turut meningkatkan kompleksitas ancaman siber.

“Data kuartal pertama 2026 menunjukkan lingkungan operasional, terutama sektor yang mendukung infrastruktur nasional dan pertumbuhan ekonomi, terus menjadi sasaran ancaman siber. Organisasi perlu menerapkan strategi keamanan komprehensif yang mencakup pemantauan berkelanjutan, intelijen ancaman, peningkatan kesadaran karyawan, serta perlindungan khusus untuk sistem ICS dan OT,” ujarnya.

Sementara itu, Head of Kaspersky ICS CERT, Evgeny Goncharov, menilai penggunaan teknologi operasional lama masih menjadi tantangan utama di sektor industri.

“Kompleksitas rantai pasok dan perluasan jaringan mitra tepercaya meningkatkan permukaan serangan di luar batas jaringan perusahaan. Penyerang memahami bahwa aset OT di sektor industri masih rentan, sehingga insiden penghentian operasional dapat memicu kerugian finansial yang besar,” katanya.

Untuk memperkuat perlindungan sistem industri, Kaspersky merekomendasikan perusahaan melakukan penilaian keamanan sistem OT secara berkala, menerapkan manajemen kerentanan berkelanjutan, memperbarui komponen jaringan tepat waktu, memanfaatkan solusi EDR, meningkatkan kapasitas tim keamanan, serta mengoptimalkan penggunaan layanan intelijen ancaman. (mas)