JAKARTA (IndoTelko) - Meutya Hafid menyebut pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) berpotensi memberikan tambahan hingga 3,67 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Potensi ini seiring meningkatnya kebutuhan efisiensi dan produktivitas di berbagai sektor ekonomi.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum “The Power of AI” di Bali, di tengah tren global yang menempatkan AI sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Menurut Meutya, daya saing saat ini tidak lagi ditentukan oleh ketersediaan sumber daya, melainkan kemampuan beradaptasi terhadap teknologi dan memanfaatkan data menjadi solusi bernilai tambah.
Indonesia dinilai memiliki modal kuat untuk mengoptimalkan peluang tersebut, ditopang oleh ekosistem digital yang terus berkembang. Data dari World Bank juga menempatkan Indonesia dalam kategori kuat untuk transformasi digital sektor publik, memperkuat posisi di tingkat global.
Namun demikian, adopsi AI masih perlu dipercepat di sejumlah sektor strategis. Saat ini, sektor keuangan dan ritel dinilai lebih maju dalam implementasi teknologi tersebut, sementara sektor seperti kesehatan, pertanian, dan manufaktur dinilai memiliki potensi dampak yang lebih besar jika dioptimalkan.
Seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat, pemerintah juga menekankan pentingnya tata kelola yang adaptif. Regulasi terkait AI dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk memastikan pemanfaatan teknologi berjalan aman dan bertanggung jawab.
Untuk itu, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital tengah menyiapkan peta jalan dan etika nasional AI sebagai dasar kebijakan. Regulasi ini diharapkan dapat memberikan arah yang jelas sekaligus melindungi masyarakat dari potensi risiko penggunaan AI.
Ke depan, pemerintah menargetkan adopsi AI yang lebih inklusif, termasuk mendorong pemanfaatannya oleh pelaku usaha kecil dan menengah, agar manfaat transformasi digital dapat dirasakan secara merata di seluruh Indonesia. (mas)