☰
✕

Serangan rantai pasokan dominasi ancaman siber

JAKARTA (IndoTelko) - Serangan terhadap rantai pasokan kini menjadi ancaman siber paling sering dihadapi perusahaan secara global, termasuk di kawasan Asia Pasifik (APAC). Studi terbaru Kasperskymengungkap hampir sepertiga perusahaan di dunia mengalami insiden tersebut dalam 12 bulan terakhir.

Fenomena ini juga tercermin di APAC, dengan tingkat paparan yang cukup tinggi di sejumlah negara. China mencatat angka tertinggi, diikuti Vietnam, India, Singapura, dan Indonesia. Di Indonesia sendiri, sekitar 20% perusahaan mengaku pernah terdampak serangan rantai pasokan dalam setahun terakhir.

Data dari World Economic Forum turut memperkuat temuan ini, di mana 65% perusahaan besar menyebut risiko dari pihak ketiga dan rantai pasokan sebagai tantangan utama dalam menjaga ketahanan siber. Kondisi ini dipicu tingginya ketergantungan terhadap vendor dan mitra teknologi, terutama pada perusahaan besar yang bisa mengelola hingga ratusan pemasok serta memberikan akses sistem ke banyak kontraktor.

Selain itu, serangan berbasis hubungan tepercaya (trusted relationship) juga menjadi ancaman signifikan. Secara global, seperempat perusahaan terdampak jenis serangan ini, dengan Singapura menjadi negara paling terdampak di APAC. Indonesia sendiri mencatat tingkat paparan sekitar 22%, menunjukkan bahwa eksploitasi hubungan antar organisasi semakin sering dimanfaatkan pelaku siber.

Meski demikian, banyak perusahaan dinilai masih meremehkan risiko tersebut. Survei menunjukkan hanya sebagian kecil organisasi yang menempatkan serangan rantai pasokan dan hubungan tepercaya sebagai prioritas utama, meskipun dampaknya dapat mengganggu operasional bisnis secara signifikan.

Kepala Pusat Operasi Keamanan Kaspersky, Sergey Soldatov menekankan bahwa meningkatnya konektivitas digital turut memperbesar risiko serangan. “Kami beroperasi dalam ekosistem digital di mana setiap koneksi, setiap pemasok, setiap integrasi menjadi bagian dari profil keamanan kami. Seiring organisasi menjadi lebih saling terhubung, paparan mereka terhadap serangan juga meningkat,” ujarnya.

Sementara itu, Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, Adrian Hia menyoroti adanya kesenjangan antara persepsi dan realitas ancaman. “Persepsi risiko tidak selalu sebanding dengan kerentanan aktual. Perkiraan yang kurang tepat ini dapat menghambat investasi keamanan siber, sehingga organisasi menjadi lebih rentan ketika ancaman terus berkembang,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa tingginya keterkaitan rantai pasokan di kawasan APAC menuntut perusahaan untuk memperkuat pertahanan secara menyeluruh, tidak hanya pada sistem internal, tetapi juga pada seluruh ekosistem mitra dan pemasok.

Sebagai langkah mitigasi, Kaspersky mendorong perusahaan untuk memperketat evaluasi vendor, menerapkan standar keamanan yang ketat dalam kontrak, mengadopsi pendekatan zero trust, serta melakukan pemantauan sistem secara berkelanjutan. Selain itu, kesiapan respons insiden dan kolaborasi aktif dengan mitra juga dinilai krusial untuk meminimalkan dampak serangan di masa depan. (mas)