Ketegangan AS - Iran dorong volatilitas pasar, bitcoin berpotensi uji level $65.000

JAKARTA (IndoTelko) - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menekan sentimen pasar global, termasuk pasar aset kripto. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim kemenangan dalam konflik dengan Iran, namun menegaskan operasi militer akan tetap berlanjut, menambah ketidakpastian di pasar keuangan global.

Trump menyatakan bahwa militer AS telah menghancurkan sebagian besar kekuatan angkatan laut dan udara Iran dalam waktu singkat, namun operasi militer belum selesai dan akan dilanjutkan hingga misi dianggap tuntas. Di sisi lain, Iran melancarkan serangan balasan di berbagai wilayah Timur Tengah, termasuk menyerang kapal tanker bahan bakar di perairan Irak.

Eskalasi konflik ini memicu lonjakan harga minyak dunia setelah International Energy Agency mengumumkan rencana pelepasan sekitar 400 juta barel dari cadangan strategis global. Harga minyak sempat menembus hampir US$120 per barel, turun ke kisaran US$90, namun pada perdagangan terbaru naik sekitar 5% menjadi US$94 per barel. Pihak militer Iran bahkan memperingatkan harga minyak dapat mencapai US$200 per barel jika ketegangan terus meningkat.

Kondisi ini turut memengaruhi pasar kripto, khususnya Bitcoin, yang sensitif terhadap dinamika makroekonomi. Saat ini, Bitcoin kembali bergerak di bawah level psikologis US$70.000, diperdagangkan di kisaran US$69.000, turun sekitar 4,8% dalam sepekan terakhir.

Potensi Tekanan pada Pasar Kripto

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menilai, eskalasi geopolitik dan kenaikan harga energi berpotensi menekan aset berisiko dalam jangka pendek. “Ketika ketegangan meningkat dan harga energi melonjak, investor cenderung mengalihkan investasi ke aset yang lebih aman, sehingga tekanan jual pada Bitcoin dan kripto lainnya dapat meningkat,” ujarnya.

Fyqieh menambahkan, kenaikan harga minyak juga berpotensi memicu inflasi global yang memengaruhi kebijakan moneter Amerika Serikat. “Jika harga minyak terus naik dan inflasi meningkat, ruang bagi Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga akan terbatas. Suku bunga tinggi biasanya mengurangi likuiditas dan menekan aset spekulatif seperti kripto,” jelasnya.

Analisis Teknikal Bitcoin

Secara teknikal, Bitcoin masih menghadapi tekanan setelah gagal mempertahankan level support di atas US$70.000. Fyqieh menekankan, jika tekanan jual berlanjut, area support berikutnya berada di kisaran US$65.000US$60.000. Namun, volatilitas pasar saat ini masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik yang cepat, sehingga arah pergerakan harga dapat berubah sewaktu-waktu.

“Pasar kripto sangat sensitif terhadap perkembangan global, terutama konflik geopolitik dan dinamika kebijakan moneter. Pelaku pasar perlu mencermati faktor makro yang lebih luas karena dapat memengaruhi sentimen dalam waktu singkat,” tutupnya. (mas)