JAKARTA (IndoTelko) - UniPin bersama Kementerian Komunikasi dan Digital menggelar forum diskusi bertajuk “Silaturahmi & Iftar Industri Game: Kupas Tuntas IGRS bersama UniPin & KOMDIGI”. Kegiatan ini mempertemukan regulator dan pelaku industri untuk membahas tantangan implementasi Indonesia Game Rating System (IGRS).
Acara yang berlangsung di GoWork Pacific Place tersebut dihadiri lebih dari 50 peserta yang terdiri dari pengembang gim, penerbit gim, serta media yang bergerak di industri gaming. Diskusi difokuskan pada topik “Tantangan Game Publishers dalam Implementasi IGRS”, khususnya terkait berbagai kendala operasional dalam menerapkan sistem klasifikasi usia gim nasional tersebut.
Sesi diskusi menghadirkan sejumlah pembicara, di antaranya Poeti Fatima dari UniPin, Tita Ayuditya Surya, serta Cendana. Para narasumber membahas berbagai aspek implementasi IGRS, mulai dari proses penyesuaian internal di perusahaan penerbit gim hingga pentingnya koordinasi yang lebih erat antara regulator dan pelaku industri.
Forum ini juga menjadi ruang bagi para peserta untuk menyampaikan masukan langsung mengenai penerapan kebijakan tersebut, sekaligus berbagi pengalaman dalam proses adaptasi terhadap sistem klasifikasi usia yang baru.
Poeti Fatima menyampaikan bahwa sebagai bagian dari ekosistem industri game di Indonesia, UniPin memandang implementasi IGRS membutuhkan kolaborasi yang kuat antara regulator dan pelaku industri. Menurutnya, forum diskusi seperti ini penting untuk membuka ruang dialog yang konstruktif agar seluruh pihak dapat memahami tantangan yang dihadapi penerbit gim sekaligus mencari solusi bersama demi mendukung pertumbuhan industri game yang sehat dan berkelanjutan.
Sementara itu, Tita Ayuditya Surya menjelaskan bahwa IGRS dirancang sebagai sistem klasifikasi usia bagi seluruh gim yang beredar di Indonesia. Melalui kebijakan ini, pemerintah ingin memastikan setiap produk gim memiliki pengelompokan usia yang jelas, sekaligus memudahkan penerbit dalam menerapkan standar yang berlaku.
Ia menambahkan bahwa implementasi IGRS tidak hanya berfungsi sebagai instrumen regulasi, tetapi juga sebagai upaya mendorong penguatan operasional industri gim nasional agar lebih kompetitif di tingkat global.
Selain sesi diskusi, acara tersebut juga menjadi momentum silaturahmi di bulan Ramadan melalui kegiatan iftar dan networking. Kegiatan ini diharapkan dapat mempererat hubungan antarpelaku industri sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.
Melalui inisiatif ini, UniPin berharap dialog antara regulator dan pelaku industri dapat terus berlanjut sehingga implementasi IGRS dapat berjalan lebih efektif dan mampu mendukung perkembangan industri game Indonesia ke depan. (mas)