Bitcoin tetap tahan di tengah ketegangan geopolitik

JAKARTA (IndoTelko) Pergerakan harga Bitcoin tetap menunjukkan ketahanan meski situasi geopolitik global memanas, terutama terkait meningkatnya ketegangan antara Iran dan United States di kawasan Timur Tengah. Dalam beberapa hari terakhir, harga aset kripto terbesar tersebut sempat terkoreksi hingga kisaran US$66.000US$67.000 sebelum kembali menguat di rentang US$68.000 hingga US$72.000.

Analis dari Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai kondisi ini mencerminkan permintaan terhadap Bitcoin yang masih cukup solid. Menurutnya, koreksi harga yang terjadi justru dimanfaatkan sebagian investor untuk melakukan akumulasi.

Ia menjelaskan pemulihan harga yang relatif cepat setelah penurunan menunjukkan aktivitas beli di pasar spot masih aktif. Ketika harga turun ke area US$66.000US$67.000, sejumlah pelaku pasar memanfaatkan momentum tersebut untuk menambah kepemilikan aset kripto.

Tekanan terhadap pasar sebelumnya dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah yang sempat mencapai sekitar US$85 per barel, level tertinggi sejak 2024. Kenaikan harga energi ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.

Meski demikian, Fyqieh menilai respons pasar kripto relatif lebih stabil dibandingkan sejumlah aset berisiko lainnya. Ia mengatakan kemampuan Bitcoin mempertahankan level harga tertentu menunjukkan daya tahan pasar yang cukup baik di tengah sentimen global yang bergejolak.

Minat investor terhadap Bitcoin juga tercermin dari arus dana yang masuk ke produk investasi berbasis kripto, termasuk Bitcoin Exchange Traded Fund. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah laporan mencatat aliran dana masuk hingga ratusan juta dolar AS, yang mengindikasikan ketertarikan investor institusional masih cukup kuat.

Fyqieh menilai kehadiran investor institusional melalui instrumen seperti ETF berperan penting dalam menjaga likuiditas pasar sekaligus membantu menahan tekanan harga ketika terjadi koreksi jangka pendek.

Di sisi lain, data on-chain juga menunjukkan tren akumulasi yang masih berlangsung. Arus keluar Bitcoin dari sejumlah bursa kripto tercatat lebih besar dibandingkan arus masuk atau dikenal sebagai exchange netflow negatif. Kondisi ini biasanya menandakan investor memindahkan aset mereka ke dompet pribadi untuk disimpan dalam jangka panjang.

Di salah satu bursa kripto terbesar dunia, Binance, tercatat sekitar 13.500 BTC telah ditarik dari platform sejak akhir Februari. Bahkan dalam satu hari, lebih dari 3.800 BTC keluar dari bursa. Secara keseluruhan, tren netflow negatif ini berlangsung selama tujuh hari berturut-turut di sejumlah bursa kripto utama.

Menurut Fyqieh, pola tersebut biasanya menjadi sinyal bahwa sebagian investor memiliki pandangan jangka panjang terhadap Bitcoin. Ketika aset dipindahkan dari bursa ke dompet pribadi, hal itu umumnya menunjukkan bahwa pemiliknya tidak berencana menjual dalam waktu dekat.

Dari sisi teknikal, Bitcoin saat ini masih bergerak dalam rentang harga tertentu atau range-bound. Level US$70.000 dinilai menjadi area penting yang perlu dipertahankan untuk menjaga momentum pergerakan harga dalam jangka pendek.

Jika Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, peluang untuk melanjutkan kenaikan menuju kisaran US$72.000 hingga US$74.000 masih terbuka. Namun demikian, volatilitas pasar masih berpotensi terjadi karena investor tetap mencermati perkembangan geopolitik, pergerakan harga energi, serta dinamika ekonomi global.

Ke depan, pelaku pasar diperkirakan akan terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah, perubahan kondisi pasar energi, serta arus dana dari investor institusional yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan Bitcoin dalam waktu dekat. (mas)