Kesenjangan gender masih jadi tantangan di era AI

JAKARTA (IndoTelko) Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence membuka peluang besar bagi transformasi digital di berbagai sektor. Namun di balik percepatan tersebut, kesenjangan gender masih menjadi tantangan serius, terutama dalam bidang teknologi dan pengembangan AI, sehingga membutuhkan langkah strategis agar perempuan dapat berperan lebih besar dalam ekosistem digital.

Country Manager Indonesia Cloudera, Sherlie Karnidta, mengatakan tema International Women’s Day tahun ini, Give to Gain, menjadi pengingat bahwa investasi perusahaan terhadap kemajuan perempuan di tempat kerja memberikan manfaat luas bagi organisasi.

Menurutnya, ketika perusahaan memberi ruang bagi perempuan untuk berkembang, organisasi akan memperoleh tim yang lebih beragam, sudut pandang yang lebih kaya dalam pengambilan keputusan, serta lingkungan kerja yang lebih inklusif.

“Ketika perusahaan berinvestasi pada kemajuan perempuan di tempat kerja, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh organisasi secara keseluruhan melalui tim yang lebih beragam dan perspektif yang lebih luas,” ujarnya.

Di era ekonomi berbasis AI, perempuan menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, keterwakilan perempuan dalam profesi terkait AI masih relatif rendah, padahal sektor ini menjadi salah satu bidang dengan pertumbuhan tercepat. Di sisi lain, perempuan justru lebih banyak bekerja pada fungsi yang paling rentan terdampak otomatisasi.

Data Asian Development Bank menunjukkan perempuan yang menjadi peneliti di bidang STEM di Asia Pasifik hanya sekitar 23,9%, lebih rendah dibandingkan rata-rata global sebesar 29,3%. Di Indonesia sendiri, perempuan baru mencakup sekitar 27% dari total tenaga kerja di sektor teknologi.

Kesenjangan ini tidak hanya terkait jumlah partisipasi, tetapi juga faktor struktural seperti stereotip gender, rendahnya rasa percaya diri, hingga terbatasnya figur panutan di industri teknologi. Dalam komunitas pengembang perangkat lunak misalnya, jumlah perempuan developer tercatat jauh lebih sedikit dibandingkan laki-laki.

Kondisi tersebut turut berdampak pada proses pengembangan teknologi, termasuk sistem AI. Minimnya keterlibatan perempuan berpotensi membuat sistem yang dibangun kurang sensitif terhadap perspektif dan kebutuhan pengguna yang beragam. Secara global, perempuan juga masih terbatas dalam posisi kepemimpinan industri teknologi, dengan sekitar 23% posisi senior dan hanya 8% posisi teknis senior yang diisi oleh perempuan.

Isu ini menjadi semakin penting seiring berkembangnya konsep Agentic AI. Lembaga riset International Data Corporation memprediksi pada 2027 sekitar setengah perusahaan akan menggunakan agen AI untuk mendefinisikan ulang kolaborasi antara manusia dan mesin.

Dalam konteks tersebut, keberagaman perspektif dalam pengembangan teknologi menjadi krusial untuk meminimalkan potensi bias maupun risiko lain. Sistem AI pada dasarnya dibangun dari data, asumsi, dan perspektif tim pengembangnya. Jika komposisi tim terlalu homogen, bias tidak hanya muncul dari dataset, tetapi juga dari cara menentukan prioritas masalah hingga metode pengujian.

Karena itu, pendekatan inklusif perlu diterapkan secara nyata, seperti melakukan audit dataset untuk memastikan representasi yang lebih seimbang, menguji model terhadap potensi hasil yang bias, serta melibatkan panel peninjau yang beragam sepanjang siklus hidup pengembangan AI.

Dari sisi tata kelola, sejumlah negara mulai membangun kerangka pengawasan AI yang menekankan prinsip etika dan akuntabilitas. Salah satunya melalui kerangka pengujian AI Verify yang dikembangkan pemerintah Singapura untuk mengevaluasi sistem AI berdasarkan prinsip keadilan, transparansi, dan pengawasan manusia.

Sementara di Indonesia, pemerintah juga menegaskan bahwa pengembangan AI perlu memperhatikan prinsip etika, termasuk aspek inklusivitas dan perlindungan data pribadi.

Peran divisi sumber daya manusia dinilai penting untuk memastikan implementasi AI berjalan secara etis dan inklusif. Namun laporan The Moment of Truth dari NINEby9 menunjukkan hanya sekitar 13% tim HR yang terlibat dalam pengambilan keputusan strategis terkait AI, sementara hampir separuh perusahaan di Asia Pasifik masih menempatkan tim IT sebagai pengambil keputusan utama.

Ketika HR baru dilibatkan pada tahap akhir implementasi, isu penting seperti transformasi pekerjaan, kebutuhan keterampilan baru, hingga kesiapan tenaga kerja sering kali tidak dibahas sejak awal. Kondisi ini berpotensi memperlebar kesenjangan gender karena kelompok yang lebih rentan terhadap dampak otomatisasi menjadi kurang siap menghadapi perubahan.

Di sisi lain, perubahan lanskap teknologi juga membuka peluang baru. Pada era AI, kontribusi teknis tidak lagi hanya diukur dari kemampuan pemrograman, tetapi juga dari pemahaman bisnis, komunikasi, serta kolaborasi lintas fungsi yang kuat.

Pemerintah memperkirakan Indonesia membutuhkan lebih dari 12 juta talenta digital hingga 2030. Mengoptimalkan potensi tenaga kerja perempuan menjadi langkah penting untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut sekaligus menciptakan ekosistem teknologi yang lebih inklusif.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Cloudera menghadirkan sejumlah inisiatif pengembangan kepemimpinan perempuan di sektor teknologi, salah satunya melalui program Women Leaders in Technology (WLIT). Program ini dirancang untuk memperluas jejaring profesional, memberikan akses pembelajaran, serta membuka peluang bagi perempuan untuk berkembang menuju posisi kepemimpinan.

Sherlie menegaskan bahwa ketika perempuan memperoleh akses yang setara terhadap sumber daya, peluang, dan otoritas dalam pengembangan AI, organisasi tidak hanya menciptakan sistem yang lebih inklusif, tetapi juga membangun fondasi teknologi yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Menurutnya, di era agentic AI yang semakin kompleks, keberagaman dalam kepemimpinan dan pengawasan bukan sekadar isu kesetaraan, tetapi juga bagian penting dari manajemen risiko teknologi. Organisasi yang mampu mengintegrasikan pendekatan lintas fungsi dan menyediakan jalur pengembangan keterampilan yang jelas akan memiliki fondasi lebih kuat untuk membangun AI yang bertanggung jawab di masa depan. (mas)