JAKARTA (IndoTelko) - Huawei mengumumkan telah menghadirkan konektivitas digital bagi 170 juta orang di wilayah terpencil di lebih dari 80 negara, melampaui komitmennya kepada International Telecommunication Union (ITU) melalui koalisi digital Partner2Connect (P2C).
Pengumuman tersebut disampaikan oleh Yang Chaobin, CEO Huawei ICT Business Group, dalam ajang TECH Cares Forum yang digelar di Barcelona. Ia menyatakan bahwa capaian ini melampaui komitmen yang dibuat Huawei saat bergabung dengan ITU P2C Digital Coalition pada 2022, yakni menghubungkan 120 juta orang di wilayah terpencil pada 2025. Yang juga menyampaikan apresiasi kepada pelanggan dan mitra telekomunikasi atas kolaborasi yang telah terjalin.
Forum tersebut dihadiri sekitar 80 perwakilan pemerintah, industri, organisasi mitra, dan lembaga internasional. Diskusi berfokus pada urgensi mendorong inklusi digital di era AI, sekaligus membangun konsensus untuk kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
Dalam sambutannya, Yang menekankan bahwa meskipun perkembangan AI berlangsung pesat, kesenjangan digital masih berisiko melebar. Ia menyatakan bahwa jaringan digital berkecepatan tinggi dan kapabilitas komputasi andal merupakan fondasi penting bagi era AI yang inklusif dan berkelanjutan. Pemenuhan komitmen ITU P2C ini, lanjutnya, mencerminkan upaya berkelanjutan Huawei dalam membuka akses lebih luas terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan keuangan bagi komunitas terpencil melalui konektivitas digital.
Direktur Biro Pengembangan Telekomunikasi ITU, Cosmas Zavazava, mengapresiasi pencapaian Huawei dalam menjembatani kesenjangan digital. Ia menegaskan bahwa konektivitas pedesaan memerlukan model bisnis inovatif, pendekatan inklusif, pemanfaatan sumber daya komunikasi secara efektif, serta investasi berkelanjutan dalam pengembangan kapasitas lokal, dan menyampaikan apresiasi atas kemitraan kuat antara ITU dan Huawei.
Jeff Wang, President of Huawei Public Affairs and Communications, menambahkan bahwa inklusi digital bertumpu pada dua pilar utama, yaitu konektivitas yang inklusif dan pemberdayaan keterampilan digital. Untuk menjembatani kesenjangan keterampilan, Huawei bermitra dengan pemerintah dan berbagai organisasi guna mendukung pelajar, generasi muda, lansia, serta perempuan melalui perluasan akses digital, pelatihan keterampilan, dan pengembangan kurikulum STEM.
Sejak diluncurkan pada 2019, program Skills on Wheels Huawei telah memberikan pelatihan digital berbasis mobilitas kepada lebih dari 130.000 orang di 21 negara, membuka peluang baru bagi komunitas yang kurang terlayani.
Dalam konteks inovasi jaringan pedesaan, Huawei terus mengembangkan solusi Rural Series sejak 2017 guna meningkatkan keterjangkauan dan efisiensi implementasi. Pada November 2025, perusahaan meluncurkan Huawei RuralCow yang memperluas cakupan jaringan ke desa-desa berpenduduk sekitar 1.500 orang dengan dukungan MTN Nigeria. Solusi ini turut berkontribusi pada pencapaian konektivitas bagi 170 juta orang sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan akses layanan publik digital.
Seluruh peserta forum sepakat bahwa percepatan inklusi digital di era AI memerlukan kolaborasi erat antara pemerintah, operator, organisasi internasional, dan sektor swasta. Ke depan, Huawei menyatakan akan terus mendorong inovasi jaringan pedesaan, memperkuat kolaborasi terbuka, serta mempercepat pemberdayaan keterampilan digital guna mewujudkan dunia digital yang lebih setara dan berkelanjutan. (mas)