81% perusahaan kesulitan cari talenta berkualitas

Ilustrasi (dok)

JAKARTA (IndoTelko) - Aktivitas rekrutmen di Indonesia sepanjang 2026 masih bergerak dinamis. Namun di balik pasar tenaga kerja yang tetap hidup, mayoritas perusahaan menghadapi kendala dalam menemukan kandidat yang sesuai kebutuhan.

Temuan dalam Robert Walters Salary Survey 2026 mengungkapkan bahwa 81% perusahaan menilai kualitas kandidat di pasar belum sepenuhnya selaras dengan kompetensi yang dibutuhkan. Padahal, hampir separuh responden menyatakan tetap berencana menambah karyawan tahun ini.

Meski perekrutan berlanjut, strategi perusahaan kini jauh lebih selektif. Fokus diarahkan pada posisi-posisi strategis yang berdampak langsung terhadap kinerja dan ekspansi bisnis. Dari sisi remunerasi, mayoritas perusahaan merencanakan kenaikan gaji secara moderat di kisaran 36%, sejalan dengan pendekatan pengelolaan biaya yang lebih hati-hati.

Eric Mary, Country Head Robert Walters Indonesia & Vietnam, mengatakan perusahaan tetap aktif mencari talenta, tetapi dengan penyaringan yang jauh lebih ketat. Ia menegaskan bahwa perusahaan kini memprioritaskan kecocokan keterampilan dan pengalaman untuk mengisi peran-peran krusial, sehingga proses pencarian kandidat yang tepat menjadi semakin menantang. Dampaknya, durasi rekrutmen cenderung lebih panjang dan persaingan untuk profesional berpengalaman tetap tinggi.

Dari sisi kandidat, minat untuk menjajaki peluang baru masih besar, namun sikapnya lebih selektif. Banyak profesional mengharapkan kenaikan gaji dua digit saat berpindah kerja, sementara perusahaan umumnya hanya dapat memenuhi ekspektasi tersebut untuk posisi spesialis atau peran strategis tertentu.

Michelle Tanjung, Associate Director Sales & Marketing and Commerce Finance Robert Walters Indonesia, menyampaikan bahwa para profesional tidak mundur dari pasar tenaga kerja, tetapi kini mempertimbangkan faktor yang lebih luas sebelum menerima tawaran. Menurutnya, kejelasan arah kepemimpinan, ruang lingkup tanggung jawab, serta prospek karier jangka panjang menjadi pertimbangan utama selain kompensasi.

Survei ini juga menyoroti percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI) di berbagai sektor. Lebih dari 60% perusahaan telah mengimplementasikan atau tengah merencanakan penggunaan AI, yang berdampak pada perubahan struktur pekerjaan dan kebutuhan keterampilan baru. Walau sebagian besar profesional melihat AI sebagai peluang, masih terdapat kekhawatiran terkait kesiapan kompetensi dan akses terhadap pelatihan.

Dengan perusahaan dan kandidat sama-sama lebih berhati-hati, pasar tenaga kerja Indonesia diproyeksikan tetap aktif namun semakin kompleks. Ke depan, keberhasilan perekrutan tidak lagi ditentukan oleh kuantitas, melainkan oleh keselarasan antara ekspektasi gaji, kesiapan keterampilan, efektivitas proses seleksi, serta nilai pengembangan karier jangka panjang. (mas)