ETF topang Bitcoin ke $66.000

Jakarta, 2 Maret 2026 Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin (BTC) menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya volatilitas pasar akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Hingga pukul 08.00 WIB, BTC diperdagangkan di level $66.500 (sekitar Rp1.118.732.968), terkoreksi tipis -0,40%. Dominasi pasar Bitcoin (BTC.D) berada di 58,60%, sementara total kapitalisasi pasar kripto global melemah -0,32% ke level $2,327 triliun. Analisis menggunakan data Senin, 2 Maret 2026 pukul 08:00 Wib.

Financial Expert Ajaib, Panji Yudha mengatakan, meski volatilitas meningkat akibat konflik geopolitik, arus masuk dana ke ETF Bitcoin menunjukkan bahwa minat institusi masih kuat. “Ini menjadi faktor penopang utama yang membantu Bitcoin bertahan di kisaran $66.000. Namun, pelaku pasar tetap perlu mencermati risiko eksternal, termasuk potensi eskalasi di Timur Tengah yang dapat memengaruhi seluruh kelas aset,” ujarnya.

Dalam periode yang sama, sejumlah aset mencatatkan pergerakan signifikan. Perpetual Protocol (PERP) memimpin kenaikan dengan lonjakan 59,60%, disusul AI Rig Complex (ARC) yang naik 42,24% dan Centrifuge (CFG) sebesar 27,60%. Di sisi lain, tekanan terjadi pada Skyai (SKYAI) yang terkoreksi 30,35%, Moonveil (MORE) turun 16,15%, serta Myro (MYRO) melemah 15,50%. Data ini diambil pada pukul 08.00 WIB.

Memasuki awal Maret, BTC bergerak di kisaran $66.000 setelah sempat mengalami volatilitas ekstrem di penghujung Februari. Pada 28 Februari, harga sempat turun di bawah $63.000 akibat meningkatnya ketegangan geopolitik, sebelum akhirnya pulih hingga mendekati $68.000 pada Minggu sebelumnya. Kenaikan tersebut dipicu spekulasi pasar terkait potensi de-eskalasi konflik setelah muncul laporan mengenai tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran dalam operasi militer Amerika Serikat dan Israel.

Meski demikian, ketidakpastian global masih membayangi, terutama risiko gangguan pada Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan strategis dunia yang berpotensi memicu dampak luas ke pasar saham, komoditas, hingga aset kripto.

Secara kuartalan, data CoinGlass menunjukkan Bitcoin sementara mencatatkan return -24,98% pada Kuartal I 2026, menjadikannya kinerja kuartal pertama terburuk ketiga sejak 2019. Februari sendiri ditutup dengan pelemahan sebesar -14,95%. Namun di tengah tekanan harga tersebut, sisi fundamental institusional mulai menunjukkan perbaikan. Berdasarkan data SoSoValue, Spot Bitcoin ETF mencatat net inflow mingguan sebesar $787,31 juta, menjadi pekan positif pertama setelah lima minggu berturut-turut mengalami arus keluar dana. Inflow tersebut didorong arus masuk selama tiga hari berturut-turut, dengan IBIT milik BlackRock memimpin kontribusi sebesar $503 juta.

Hari ini, Bitcoin diperkirakan berpotensi bergerak di rentang $67.000 hingga $71.000, sementara Ethereum berpeluang bergerak di kisaran $1.950 hingga $2.150. Untuk strategi perdagangan, BNB (Layer-1) direkomendasikan pada area entry IDR10.000.000 dengan target IDR11.600.000 dan stop loss di IDR9.300.000. HYPE (DEX) dapat dipertimbangkan di level IDR510.000 dengan target IDR620.000 dan stop loss IDR469.000. Sementara itu, JUP (DEX) berada pada area entry IDR2.700 dengan target IDR3.300 dan stop loss IDR2.450.

Dengan dukungan inflow ETF yang kembali positif, Bitcoin mulai menunjukkan fondasi pemulihan meski tekanan eksternal masih tinggi. Investor tetap disarankan menerapkan manajemen risiko yang disiplin di tengah volatilitas pasar yang belum mereda. (mas)