JAKARTA (IndoTelko) - UNICEF Indonesia bersama DBS Foundation resmi menjalin kemitraan dua tahun untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan status gizi anak di Nusa Tenggara Timur (NTT). Inisiatif ini difokuskan pada anak usia 412 tahun di sejumlah PAUD dan sekolah dasar.
DBS Foundation mengalokasikan dukungan senilai SGD 3,51 juta (sekitar USD 2,7 juta) untuk menjalankan program terpadu yang ditargetkan menjangkau sedikitnya 5.270 penerima manfaat langsung. Selain anak-anak, program juga menyasar orang tua, pengasuh, guru, dan kepala sekolah melalui penguatan kapasitas dan dukungan sistem.
NTT masih menghadapi tantangan di sektor pendidikan dan gizi anak. Karena itu, program dirancang dengan pendekatan holistik yang mengintegrasikan peningkatan kualitas pembelajaran usia dini dengan intervensi pemenuhan gizi. Melalui kolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah, inisiatif ini diharapkan turut memperkuat sistem pendidikan dan kesehatan di tingkat nasional maupun subnasional.
Chief of Education UNICEF Indonesia, Katheryn Bennett, menegaskan pentingnya memastikan setiap anak mendapatkan awal kehidupan terbaik. Menurutnya, akses terhadap gizi yang memadai, pembelajaran berkualitas, serta lingkungan yang aman menjadi fondasi utama agar anak dapat tumbuh optimal dan mencapai potensi penuh. UNICEF juga menyampaikan apresiasi atas komitmen DBS Foundation dalam mendukung pendekatan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Sementara itu, Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, menyatakan kolaborasi ini sejalan dengan komitmen DBS Foundation untuk meningkatkan kualitas hidup komunitas rentan melalui pemenuhan kebutuhan dasar dan penguatan inklusi. Ia menekankan bahwa membangun fondasi sejak dini penting untuk memutus siklus ketidakberuntungan dan menciptakan dampak jangka panjang.
Dalam implementasinya, guru dan kepala sekolah akan memperoleh pelatihan serta paket pembelajaran guna meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa. Anak-anak juga akan diperkenalkan pada bahan bacaan lokal serta kegiatan berkebun di sekolah untuk mendorong pola hidup sehat.
Dari sisi gizi, program mencakup pemantauan pertumbuhan, pemberian obat cacing, serta edukasi peningkatan kesadaran nutrisi. Orang tua dan pengasuh turut diberikan pembekalan praktis agar dapat mendukung pola makan sehat dan pembelajaran anak di rumah.
Program ini juga membantu pemerintah dalam perencanaan dan pengalokasian anggaran agar intervensi pendidikan dan gizi dapat berjalan berkelanjutan. Peluncuran kemitraan tersebut menegaskan bahwa investasi pada kesejahteraan anak menjadi fondasi penting dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045.
Pada akhir periode kemitraan, capaian program akan diukur melalui asesmen komprehensif di awal dan akhir pelaksanaan menggunakan instrumen internasional, guna memantau peningkatan literasi, numerasi, serta status gizi anak. (mas)