JAKARTA (IndoTelko) Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah setelah rilis notulensi terbaru Federal Open Market Committee (FOMC) mengungkap perbedaan pandangan di antara pembuat kebijakan bank sentral AS.
Pada Kamis (19/2), BTC turun sekitar 1,25% ke level US$66.450 (sekitar Rp1,11 miliar), menyeret sentimen pasar kripto ke zona “Extreme Fear”.
Notulensi FOMC menunjukkan mayoritas pejabat hampir sepakat mempertahankan suku bunga, namun berbeda pandangan terkait langkah berikutnya. Sebagian masih membuka ruang kenaikan suku bunga jika inflasi bertahan tinggi, sementara lainnya memberi sinyal peluang pemangkasan bila tekanan harga mereda.
Narasi “higher for longer” mendorong penguatan Indeks Dolar AS (DXY) ke level 97,7, yang memberi tekanan pada aset berisiko termasuk kripto. Berdasarkan data FedWatch Tool milik CME Group, probabilitas pemangkasan suku bunga sebelum pertemuan Juni kini berada di bawah 50%.
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menilai koreksi ini masih tergolong wajar dalam siklus pasar.
“Koreksi setelah FOMC adalah reaksi pasar yang natural dan bersifat sementara. Investor global sedang menyesuaikan ekspektasi terhadap timeline pemangkasan suku bunga The Fed. Meskipun Bitcoin sempat di bawah US$67.000, pergerakan ini masih dalam rentang konsolidasi sehat. Level US$64.000 menjadi support kuat,” ujarnya.
Menurutnya, secara historis fase konsolidasi kerap menjadi fondasi sebelum pasar kembali menguat.
Antony juga menyinggung pengaruh kebijakan moneter domestik. Ia menyebut keputusan Bank Indonesia (BI) terkait BI Rate di kisaran 4,75%5,5% turut memengaruhi arah likuiditas investor lokal.
“Langkah BI menjaga stabilitas rupiah memberikan kepastian bagi perekonomian domestik. Di tengah dinamika suku bunga dan isu geopolitik global, investor kripto tak perlu panik. Kondisi makro seperti ini justru mengingatkan fungsi Bitcoin sebagai aset lindung nilai jangka panjang,” tambahnya.
Sebagai salah satu bursa kripto terbesar di Indonesia, Indodax mendorong investor tetap rasional di tengah volatilitas. Strategi investasi bertahap seperti Dollar Cost Averaging (DCA) dinilai relevan untuk meredam risiko fluktuasi harga, disertai riset mandiri dan manajemen risiko yang disiplin. (mas)