Pengguna eCommerce andalkan media sosial sebagai referensi

JAKARTA (IndoTelko) Tekanan ekonomi pada paruh kedua 2025 membentuk pola belanja online yang semakin selektif. Di tengah pendapatan yang cenderung stagnan dan kenaikan biaya hidup, konsumen tetap bertransaksi secara digital, namun semakin aktif melakukan riset melalui media sosial sebelum memutuskan pembelian.

Temuan tersebut terungkap dalam survei terbaru Jakpat terhadap 2.125 responden dari Gen Z, Milenial, dan Gen X. Hasil survei menunjukkan 92% responden tetap melakukan transaksi online pada semester II 2025, naik tipis 1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, 86% berbelanja melalui platform e-commerce, sedangkan 16% memanfaatkan layanan quick-commerce.

Meski e-commerce masih menjadi kanal utama untuk melihat-lihat produk, porsinya turun dari 90% menjadi 86% secara tahunan. Sebaliknya, media sosial brand mencatat kenaikan signifikan dari 43% pada 2024 menjadi 53% pada 2025. Data ini menunjukkan pergeseran peran media sosial dari sekadar kanal promosi menjadi ruang riset dan eksplorasi produk sebelum transaksi dilakukan.

Head of Research Jakpat, Aska Primardi, menilai perubahan tersebut dipicu kondisi ekonomi yang menuntut konsumen lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

Menurutnya, tekanan finansial mendorong masyarakat membangun kebiasaan baru dengan melakukan riset komprehensif melalui media sosial guna memastikan kualitas dan nilai produk sebelum membeli. Dengan cara itu, konsumen berupaya meminimalkan risiko kesalahan belanja di tengah situasi ekonomi yang menantang.

Selain e-commerce dan media sosial brand, responden juga melakukan window shopping melalui marketplace online (16%), quick-commerce (16%), serta website resmi brand (14%), yang memperlihatkan pola pencarian informasi semakin tersebar di berbagai kanal digital.

Dari sisi persaingan platform, Shopee masih menjadi e-commerce paling banyak digunakan dengan tingkat penggunaan 85%, naik 3% secara tahunan. Posisi kedua ditempati TikTok Shop yang melonjak 10% menjadi 51%, sementara Tokopedia mengalami penurunan 12% menjadi 32% pada semester II 2025. Perubahan ini mengindikasikan dinamika kompetisi yang semakin ketat di tengah konsumen yang makin sensitif terhadap harga dan promosi.

Adapun rata-rata pengeluaran belanja e-commerce per bulan tercatat Rp469.575, naik tipis 1% dibandingkan Rp463.439 pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan yang terbatas tersebut mencerminkan bahwa meskipun aktivitas belanja digital tetap tinggi, konsumen cenderung lebih rasional dan terukur dalam mengambil keputusan pembelian. (mas)