JAKARTA (IndoTelko) Menjelang Ramadan 2026, aktivitas belanja daring diperkirakan kembali meningkat seiring pertumbuhan ekonomi digital nasional. Data Bank Indonesia menunjukkan nilai transaksi digital telah mencapai Rp44,4 triliun pada Juli 2025 dan diproyeksikan terus tumbuh, terutama saat periode Ramadan dan Idul Fitri yang identik dengan lonjakan konsumsi.
Momentum ini juga dimanfaatkan oleh Lazada Indonesia melalui program Lazada Ramadan Daily Sale yang telah dimulai sejak 16 Februari 2026. Namun di balik tingginya transaksi, ancaman kejahatan siber turut meningkat, mulai dari phishing, tautan palsu hingga pencurian data pribadi.
Ketua Communication & Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha, mengungkapkan bahwa modus yang paling banyak ditemukan menjelang musim belanja adalah phishing melalui pesan instan, penyamaran sebagai customer service, serta tautan pelacakan pengiriman palsu.
Menurutnya, peningkatan literasi keamanan digital menjadi kunci agar masyarakat tetap aman saat bertransaksi. “Aktivitas belanja online memang meningkat signifikan menjelang Ramadan. Konsumen harus lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan digital yang semakin beragam,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya memperkuat keamanan akun dengan penggunaan kata sandi unik dan tidak digunakan di banyak platform. Aktivasi autentikasi dua faktor (2FA) atau verifikasi biometrik juga dinilai efektif untuk menambah lapisan perlindungan.
Konsumen juga diimbau untuk selalu bertransaksi di dalam aplikasi resmi dan memastikan alamat situs yang diakses benar. Platform eCommerce tidak dapat menelusuri transaksi yang dilakukan di luar sistem resmi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai karyawan platform atau jasa pengiriman dan meminta data pribadi melalui kanal tidak resmi, hal tersebut patut dicurigai sebagai upaya penipuan.
Modus lain yang marak terjadi adalah penyebaran tautan palsu dengan iming-iming diskon, hadiah, atau notifikasi pengiriman paket. Tautan semacam ini berpotensi mencuri data pribadi atau mengambil alih perangkat korban. Informasi pengiriman resmi seharusnya dapat diakses langsung melalui aplikasi.
Praktik yang juga perlu diwaspadai adalah permintaan instalasi aplikasi di luar toko resmi atau ajakan berbagi layar dengan dalih membantu proses pengembalian dana. Tidak ada platform eCommerce maupun lembaga keuangan resmi yang meminta pelanggan mengunduh file APK melalui pesan pribadi atau mengaktifkan fitur screen sharing untuk memproses transaksi.
Selain itu, kode OTP dan data pribadi tidak boleh dibagikan kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengatasnamakan perusahaan. OTP merupakan lapisan verifikasi yang bersifat rahasia dan menjadi kunci perlindungan akun.
Head of Customer Experience Lazada Indonesia, Intan Eugenia, menegaskan pihaknya terus memperkuat sistem keamanan dan pemantauan transaksi di platform. “Kami mengimbau pelanggan untuk menggunakan seluruh fitur resmi di aplikasi agar transaksi tetap aman. Jika terjadi indikasi pembobolan akun, segera hubungi platform dan lakukan penggantian kata sandi,” katanya.
Sebagai langkah tambahan, konsumen disarankan berbelanja di toko tepercaya dan memeriksa ulasan sebelum melakukan pembelian. Kanal LazMall, misalnya, menyediakan jaminan produk asli serta sistem pengembalian barang yang terintegrasi di dalam aplikasi.
Dengan meningkatnya adopsi digital, penguatan keamanan tidak hanya menjadi tanggung jawab platform, tetapi juga pengguna. Kewaspadaan terhadap penawaran yang terlalu menarik dan disiplin menjaga kerahasiaan data menjadi benteng utama dalam menghadapi ancaman siber.
Ramadan menjadi momentum belanja sekaligus ujian literasi digital. Dengan langkah preventif yang tepat, masyarakat dapat menikmati kemudahan eCommerce secara aman dan nyaman sepanjang periode promo hingga 24 Maret 2026. (mas)