JAKARTA (IndoTelko) Memasuki 2026, kecerdasan buatan (AI) tidak lagi diposisikan sebagai teknologi eksperimental oleh organisasi di kawasan Asia Pasifik. Perusahaan kini berfokus pada bagaimana AI dapat dioperasionalkan secara bertanggung jawab, terukur, dan terintegrasi langsung ke dalam platform digital inti.
“Organisasi di Asia Pasifik sudah melampaui fase uji coba. Tantangannya sekarang adalah bagaimana AI benar-benar diimplementasikan dalam skala besar dengan hasil yang terukur dan relevan dengan kebutuhan bisnis,” ujar Vony Tjiu, Country Manager Red Hat Indonesia.
Menurut Vony, pendekatan AI juga semakin mengarah pada spesialisasi. Perusahaan tidak lagi mencari model yang bersifat umum, melainkan sistem yang dirancang sesuai industri, data, dan realitas operasional masing-masing.
“Ke depan, perusahaan akan semakin memilih AI yang tepat guna. Bukan soal seberapa besar atau kompleks modelnya, tetapi seberapa efektif AI tersebut menjawab kebutuhan spesifik organisasi,” jelasnya.
AI Praktis dan Spesifik Mulai Menggantikan Pendekatan Generik
Jika periode 2023 hingga 2025 didominasi oleh antusiasme terhadap AI generatif, Vony menilai bahwa tahun 2026 akan menjadi titik balik menuju pemanfaatan AI yang lebih pragmatis.
“Kita sedang melihat pergeseran besar dari pembuktian potensi AI menuju pembuktian nilai bisnisnya. AI harus mampu memberikan dampak nyata, bukan sekadar menjadi proyek inovasi,” kata Vony.
Ia menambahkan, di Asia Tenggara termasuk Indonesia, AI telah mendorong transformasi di sektor ritel, jasa keuangan, telekomunikasi, hingga manufaktur, seiring dengan meningkatnya kesiapan infrastruktur digital dan dukungan pemerintah.
Infrastruktur dan Virtualisasi Harus Ikut Berevolusi
Seiring meningkatnya kompleksitas beban kerja AI, Vony menekankan bahwa infrastruktur TI juga perlu beradaptasi. Pendekatan virtualisasi konvensional dinilai tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan AI modern.
“Perusahaan membutuhkan model virtualisasi yang lebih fleksibel, yang mampu menjalankan aplikasi tradisional dan beban kerja AI secara berdampingan tanpa mengorbankan performa maupun tata kelola,” ungkapnya.
Ia melihat bahwa integrasi virtual machine, container, dan akselerator AI dalam satu model operasional akan menjadi pendekatan yang semakin lazim pada 2026.
Hybrid Cloud Menjadi Fondasi AI Enterprise
Menurut Vony, hybrid cloud akan semakin mengukuhkan posisinya sebagai arsitektur standar bagi implementasi AI di lingkungan enterprise.
“Tidak ada satu lingkungan tunggal yang ideal untuk semua beban kerja AI. Hybrid cloud memberi fleksibilitas bagi organisasi untuk menjalankan AI di lokasi yang paling masuk akal, baik di on-premise, public cloud, maupun edge,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan ini sangat relevan bagi industri yang diatur ketat seperti jasa keuangan, di mana keseimbangan antara kepatuhan regulasi dan kebutuhan inovasi menjadi kunci.
Tata Kelola dan Talenta Jadi Penentu Keberhasilan
Di tengah percepatan adopsi AI, Vony menegaskan pentingnya tata kelola dan kesiapan sumber daya manusia.
“AI yang kuat harus dibangun di atas fondasi tata kelola yang jelas. Sistem harus dapat diaudit, transparan, dan selaras dengan regulasi agar kepercayaan tetap terjaga,” ujarnya.
Ia juga menyoroti peran talenta dan komunitas open source dalam mempercepat inovasi AI di kawasan ini.
“Teknologi tidak akan berjalan tanpa manusia. Investasi pada pengembangan keahlian dan kolaborasi terbuka akan menjadi akselerator utama bagi keberhasilan AI di Asia Pasifik,” pungkas Vony. (mas)