Cisco: 40% organisasi RI terancam AI Infrastructure Debt

JAKARTA (IndoTelko) - Cisco menyoroti risiko serius yang dihadapi organisasi di Indonesia dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI). Berdasarkan temuan Cisco AI Readiness Index 2025, sekitar 40% organisasi berpotensi kehilangan nilai bisnis akibat fenomena yang disebut sebagai AI Infrastructure Debt atau utang infrastruktur AI. Isu ini mengemuka dalam gelaran Cisco Connect Indonesia 2026 yang dihadiri pemangku kepentingan industri, pakar teknologi, serta Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria.

Laporan tersebut menunjukkan kesenjangan kesiapan AI yang cukup lebar. Secara global, hanya sekitar 13% organisasi yang tergolong AI Pacesetters, yakni kelompok yang telah mengambil keputusan fundamental terkait infrastruktur sehingga mampu mengimplementasikan AI secara luas dan konsisten. Sebanyak 97% organisasi dalam kategori ini tercatat telah menerapkan AI dengan skala dan kecepatan yang mendukung penciptaan nilai serta pengembalian investasi.

Managing Director Cisco Indonesia, Cin Cin Go, menekankan bahwa keputusan infrastruktur yang diambil saat ini akan menentukan kemampuan organisasi di masa depan. Menurutnya, para pemimpin AI membangun arsitektur yang berorientasi jaringan, mengoptimalkan daya sejak awal, serta mengintegrasikan keamanan sebagai fondasi, bukan tambahan. Melalui Cisco Connect, Cisco mendorong organisasi untuk saling berbagi pengalaman dan mendapatkan panduan praktis agar lebih siap menghadapi era AI.

Risiko Akumulasi Utang Infrastruktur AI

Cisco menilai, keunggulan Pacesetters bukan semata karena besarnya investasi, melainkan karena keputusan investasi yang dilakukan lebih awal. Sebaliknya, banyak organisasi justru mengadopsi agen AI dengan cepat tanpa diimbangi kesiapan infrastruktur dan keamanan yang memadai. Di Indonesia, hanya 29% organisasi yang menilai jaringannya telah optimal, sementara 43% masih menghadapi keterbatasan daya, padahal hampir separuh responden memperkirakan beban kerja AI akan tumbuh lebih dari 50%.

Empat Pilar Arsitektur Penentu Kesiapan AI

Cisco mengidentifikasi empat pilihan arsitektur utama yang membedakan pemimpin AI dengan organisasi lainnya. Pertama, kesiapan infrastruktur daya untuk mengantisipasi lonjakan beban kerja AI. Kedua, penempatan jaringan sebagai fondasi utama guna mencegah bottleneck. Ketiga, penerapan optimalisasi berkelanjutan melalui pemantauan dan retraining model secara otomatis. Keempat, integrasi keamanan sejak awal agar kecepatan inovasi tetap terjaga.

Dalam aspek keamanan, tantangan masih signifikan. Meski hampir seluruh organisasi di Indonesia telah mengadopsi agen AI otonom, kurang dari separuh yang mampu mengamankannya secara optimal. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Pacesetters global yang mayoritas telah menerapkan enkripsi menyeluruh dan pemantauan berkelanjutan.

Peran Cisco di Era AI

Melalui Cisco Connect Indonesia 2026, Cisco menegaskan posisinya sebagai penyedia infrastruktur krusial di era AI. Perusahaan memperkenalkan portofolio terintegrasi untuk pusat data siap AI, lingkungan kerja masa depan, hingga ketahanan digital. Berbagai inovasi turut diperlihatkan, mulai dari platform komputasi edge AI-ready, Cisco Unified Edge, arsitektur AI tervalidasi, hingga Secure AI Factory yang dikembangkan bersama NVIDIA.

Cisco AI Readiness Index 2025 sendiri merupakan studi global tahun ketiga yang melibatkan 8.000 pemimpin IT dan bisnis di 30 pasar. Studi ini menunjukkan bahwa organisasi yang tergolong AI Pacesetters memiliki peluang hingga empat kali lebih besar untuk mencatat peningkatan kinerja finansial dan produktivitas, sekaligus menjadi tolok ukur bagi organisasi lain dalam menilai kesiapan AI mereka. (mas)