Fintech tumbuh tangguh, Amartha genjot desa

JAKARTA (IndoTelko) Industri financial technology (fintech) diproyeksikan tetap menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dengan kontribusi layanan keuangan digital mencapai 80,5% terhadap tingkat inklusi keuangan nasional.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan layanan digital, mulai dari pembiayaan hingga pembayaran, kian memperluas akses keuangan masyarakat sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi daerah melalui pembiayaan UMKM.

Sejalan dengan tren tersebut, perusahaan pembiayaan mikro Amartha mencatat penyaluran pembiayaan kumulatif lebih dari Rp37 triliun sejak berdiri pada 2010. Sepanjang 2025 saja, penyaluran mencapai Rp13,2 triliun yang menjangkau lebih dari 3,7 juta pelaku usaha di lebih dari 50.000 desa.

Founder & CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra mengatakan pertumbuhan tersebut ditopang pemahaman karakteristik masyarakat perdesaan serta pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), untuk menjaga kualitas portofolio.

“Penguatan tata kelola, mitigasi risiko, dan kemitraan strategis menjadi fondasi pertumbuhan berkelanjutan kami,” ujarnya.

Dalam pengembangan layanan, Amartha telah mengantongi izin dompet digital dari Bank Indonesia. Melalui aplikasi AmarthaFin, pengguna dapat mengakses investasi mikro, pembayaran digital, jaringan agen AmarthaLink, hingga pinjaman modal kerja dalam satu platform terintegrasi.

Untuk memperluas jangkauan di wilayah dengan literasi digital terbatas, perusahaan mengembangkan program AmarthaLink yang memungkinkan pengguna menjadi agen pembayaran digital di komunitasnya. Hingga akhir 2025, lebih dari 50.000 agen telah tergabung dalam jaringan tersebut.

Komisaris Utama Amartha Rudiantara menilai model bisnis yang fokus pada perempuan pengusaha mikro, disiplin manajemen risiko, serta tata kelola setara perusahaan publik menjadi faktor utama yang menarik minat investor global.

Secara industri, Indonesia masih menjadi destinasi investasi fintech yang atraktif. Pendanaan asing ke sektor ini tercatat mencapai US$549 juta pada 2024 di tengah ketidakpastian global.

Kontribusi fintech juga terlihat dari penciptaan lapangan kerja. UMKM mitra Amartha membuka lebih dari 110.000 lapangan kerja, sementara sekitar 65% perusahaan fintech berencana menambah tenaga kerja tetap pada 2026.

Direktur Ekonomi Digital CELIOS Nailul Huda menilai kebutuhan pembiayaan UMKM masih tinggi seiring kontraksi kredit perbankan, sehingga pinjaman daring diperkirakan terus tumbuh sebagai alternatif pembiayaan.

Meski peluang terbuka, pelaku industri tetap dihadapkan pada risiko geopolitik, potensi fraud, dan rendahnya literasi keuangan digital. Karena itu, strategi ekspansi selektif, diversifikasi produk, serta kolaborasi lintas institusi dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan.

Memasuki 2026, Amartha menegaskan fokus memperluas layanan keuangan terintegrasi bagi masyarakat desa. Perusahaan juga akan menggelar Asia Grassroots Forum (AGF) 2026 pada Mei untuk mempertemukan investor, regulator, dan pelaku usaha dalam membahas penguatan ekonomi akar rumput bertema “Enabling Growth, Elevating Financial Health”. (mas)