WEF Davos 2026: agenda global yang perlu dicermati Indonesia

JAKARTA (IndoTelko) - Dunia tengah berada di persimpangan antara akselerasi teknologi dan tuntutan pembangunan berkelanjutan. Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) yang semakin masif di satu sisi membuka peluang pertumbuhan baru, namun di sisi lain memunculkan tantangan serius terkait etika, tata kelola, dan dampaknya terhadap masyarakat serta lingkungan.

Di tengah dinamika tersebut, World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 kembali digelar di Davos, Swiss, sebagai barometer arah diskursus global.

Sejak lebih dari lima dekade lalu, WEF Davos menjadi ruang pertemuan strategis bagi para pengambil kebijakan, pelaku industri, akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil untuk merumuskan respons kolektif terhadap perubahan dunia. Bagi Indonesia, yang tengah menggenjot transformasi ekonomi digital, hasil percakapan di Davos memiliki implikasi langsung terhadap arah kebijakan dan strategi nasional ke depan.

Spirit Dialog di Tengah Ketidakpastian Globa

Diselenggarakan pada 1923 Januari 2026, WEF Davos tahun ini mengangkat tema “A Spirit of Dialogue”. Tema tersebut merefleksikan kebutuhan mendesak akan komunikasi dan kolaborasi lintas negara di tengah fragmentasi geopolitik dan ekonomi global. Forum ini membingkai diskusi ke dalam sejumlah isu utama, mulai dari penguatan kerja sama internasional, pencarian motor pertumbuhan ekonomi baru, investasi pada pengembangan manusia, hingga pemanfaatan inovasi secara bertanggung jawab.

Pendekatan ini menegaskan bahwa masa depan ekonomi global tidak hanya ditentukan oleh kecepatan inovasi, tetapi juga oleh kualitas tata kelola dan kepercayaan publik terhadap teknologi yang digunakan.

AI dan Kesenjangan Talenta Digital

Salah satu sorotan utama WEF Davos 2026 adalah bagaimana teknologi, khususnya AI, dapat diterapkan secara luas tanpa mengabaikan aspek etika dan keamanan. Isu ini mencakup pula tantangan keamanan siber serta regulasi ekosistem digital yang semakin kompleks.

Dalam konteks Indonesia, tantangan tersebut masih cukup besar. Tingkat pemanfaatan AI secara nasional hingga 2025 tercatat belum mencapai sepertiga populasi pengguna internet. Sementara itu, kebutuhan sumber daya manusia di bidang digital terus meningkat.

Pemerintah memperkirakan Indonesia memerlukan ratusan ribu talenta digital baru setiap tahun untuk mencapai target jutaan tenaga terampil pada akhir dekade ini. Kondisi ini menuntut strategi pengembangan teknologi yang tidak hanya berorientasi pada efisiensi, tetapi juga inklusivitas dan kesiapan SDM.

Menjaga Pertumbuhan di Batas Daya Dukung Bumi

Selain teknologi, agenda keberlanjutan menjadi pilar penting dalam WEF Davos 2026. Melalui diskusi bertema “How can we build prosperity within planetary boundaries?”, forum ini menekankan perlunya model ekonomi yang mampu menciptakan nilai tanpa memperparah krisis lingkungan.

Perubahan perilaku konsumen global memperkuat urgensi tersebut. Mayoritas konsumen kini cenderung mendukung produk dan layanan yang memperhatikan aspek keberlanjutan. Bagi pelaku usaha, hal ini membuka peluang baru untuk menggabungkan kinerja bisnis dengan tanggung jawab lingkungan.

Di Indonesia sendiri, potensi ekonomi hijau dinilai sangat besar, mencakup layanan profesional, teknologi pengurangan emisi, hingga skema kompensasi karbon yang berkelanjutan.

Kiprah Indonesia dan Peran Industri Digital

WEF Davos 2026 dihadiri sekitar 3.000 peserta dari hampir 130 negara, mencerminkan beragam perspektif lintas sektor dan kawasan. Dalam forum ini, Indonesia turut diwakili oleh sejumlah pelaku industri, termasuk DANA yang kembali berpartisipasi untuk ketiga kalinya.

Kehadiran DANA menegaskan komitmen perusahaan dalam mendorong pengembangan ekosistem teknologi finansial nasional yang aman, inklusif, dan berkelanjutan. Fokus pada layanan keuangan digital berbasis komunitas serta transparansi praktik keberlanjutan, yang tercermin dalam Sustainability Report 2024, menjadi bagian dari upaya tersebut.

CEO & Co-Founder DANA Indonesia, Vince Iswara, menilai WEF Davos sebagai wadah strategis untuk memahami arah pergerakan global sekaligus memperkuat peran Indonesia. Menurutnya, partisipasi dalam forum internasional ini sejalan dengan komitmen DANA untuk mendorong kebiasaan finansial yang sehat melalui layanan digital yang tepercaya, inklusif, dan selaras dengan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan. (mas)