Hamil tua FMC di TelkomGrup

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) tengah memasuki tahap akhir dalam melahirkan layanan Fixed Mobile Convergence (FMC) melalui integrasi fixed broadband IndiHome ke Telkomsel.

FMC adalah sebuah konsep yang menggabungkan jaringan mobile dan fixed broadband. Dengan menggunakan FMC, pengguna akan layanan internet secara terus-menerus, kapan pun dan di mana pun.

Ibarat usia kehamilan yang sudah tua, Telkom tinggal meminta persetujuan pemegang saham terlebih dahulu sebelum resmi menggabungkan Indihome ke Telkomsel.

Hal tersebut dilakukan melalui rapat umum pemegang saham (RUPS) yang rencananya digelar pada 30 Mei 2023. RUPS independen untuk menyetujui rencana transaksi akan dilaksanakan pada tanggal 30 Mei 2023 sebagai agenda kelima rapat.

Berdasarkan perkiraan jadwal rencana penggabungan segmen usaha Indihome ke Telkomsel terungkap bahwa hasil RUPS ditargetkan bisa dirilis pada 5 Juni 2023 dan diharapkan penandatanganan akta pemisahan digelar pada 30 Juni (atau tanggal lain yang ditentukan perseroan).

Pemisahan dilakukan berdasarkan nilai valuasi segmen usaha Indihome yang disepakati sebesar Rp 58,24 triliun dan nilai valuasi Telkomsel yang disepakati sebesar Rp 319,35 triliun.

Rincian transaksi terkait sebagai berikut:
a. Untuk transaksi berdasarkan wholesale agreement (WSA), biaya jasa yang akan diterima oleh perseroan dari Telkomsel akan dihitung berdasarkan persentase dari pendapatan segmen usaha Indihome dikali dengan proyeksi pendapatan segmen usaha Indihome dari periode 2023 H2 sampai 2024 H1, jumlah mana diperkirakan sebesar Rp 18,74 triliun yang akan dibayarkan oleh Telkomsel secara tunai.

b. Untuk transaksi berdasarkan perjanjian layanan transisi fixed broadband core (TSA-1), biaya jasa yang akan diterima oleh perseroan dari Telkomsel akan dihitung berdasarkan 3 jumlah komponen: (i) operating expenses (OPEX), (ii) nilai aset eksisting, dan (iii) tambahan biaya investasi di masa depan dari periode 2023 H2 sampai 2024 H1, jumlah mana diperkirakan sebesar Rp 495,97 miliar yang akan dibayarkan oleh Telkomsel secara tunai

c. Untuk transaksi berdasarkan perjanjian layanan transisi IT system (TSA-2), biaya jasa yang akan diterima oleh perseroan dari Telkomsel akan dihitung berdasarkan 3 jumlah komponen: (i) operating expenses (OPEX), (ii) nilai aset eksisting, dan (iii) tambahan biaya investasi di masa depan dari periode 2023 H2 sampai 2024 H1, jumlah mana diperkirakan Rp 489,26 miliar yang akan dibayarkan oleh Telkomsel secara tunai.

Nilai keseluruhan dari rencana transaksi merupakan gabungan dari nilai pemisahan segmen usaha Indihome dan transaksi terkait yakni WSA, TSA-1, dan TSA-2 sebesar Rp 77,98 triliun. Angka itu merupakan 52,25% dari ekuitas Telkom berdasarkan laporan keuangan audit perseroan per 31 Desember 2022.

Pemisahan atas segmen usaha Indihome akan diselesaikan melalui penerbitan saham baru oleh Telkomsel kepada perseroan dengan nilai konversi per saham sebesar Rp 1,74 miliar

Bersamaan dengan pemisahan, Singtel (pemegang 35% saham Telkomsel) juga memutuskan untuk turut melakukan penyertaan modal dengan melakukan setoran secara tunai kepada Telkomsel dengan menggunakan valuasi Telkomsel yang sama dengan yang dijadikan acuan pada saat perseroan melakukan pemisahan yaitu sebesar Rp 2,71 triliun.

Nantinya, setelah tanggal efektif pemisahan kepemilikan saham Telkom di Telkomsel menjadi sebesar 69,9% dan kepemilikan saham Singtel di Telkomsel menjadi 30,1%.

Sebagai bagian dari pemisahan yang akan dilakukan oleh perseroan, Telkom dan Telkomsel juga akan melakukan transaksi terkait berupa penyediaan infrastruktur, perangkat, layanan profesional dan kapasitas jaringan pendukung serta pemberian layanan fixed broadband core dan IT system dari perseroan.

Bagi TelkomGrup, harus ada inovasi bisnis yang menguntungkan masyakarat dan juga negara sehingga FMC dianggap pilihan tepat.

Telkom melihat besarnya peluang pasar di fixed broadband karena penetrasinya baru 14% dibanding mobile broadband (wireless).

Mesin Pertumbuhan
FMC bisa menjadi mesin pertumbuhan keuangan terbaru bagi operator telekomunikasi di tengah tekanan terus menurunnya Average Revenue Per User (ARPU) karena perang harga dan saturasi di layanan seluler.

Syaratnya, operator tidak terjebak dengan perang harga layaknya yang terjadi di layanan mobile broadband.

FMC harus dijadikan sebagai era baru layanan broadband di Indonesia dimana dari sisi kecepatan pelanggan merasakan true broadband, dari sisi harga terjangkau, dan pelayanan purna jual membuat nyaman pelanggan.

Jika kembali terjebak ke dalam perang harga ketika menyelenggarakan FMC, maka yang dirugikan tidak hanya operator tetapi masyarakat.

Hal yang harus diingat, jangan karena ada FMC, masyarakat dipaksa berpindah karena layanan berubah. Buktikan dengan konsistensi kualitas, maka pelanggan akan datang sendiri.

@IndoTelko