Ini tren di industri venture capital dan startup Indonesia versi PE-VC Summit

Foto : Ilustrasi Startup

JAKARTA (IndoTelko) - Perusahaan media yang fokus membahas private capital investment di Asia Tenggara, DealStreetAsia, menggelar event flagship PE-VC Summit untuk keempat kalinya. Acara ini digelar di The Langham Jakarta, kemarin (12/1) yang dibuka dengan keynote speech Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno dan Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono.

Dikatakan Founder dan Editor-in-Chief DealStreetAsia, Joji Thomas Philip, Indonesia berhasil menghindari stagflasi yang mendominasi perekonomian global. "Indonesia merupakan salah satu dari sedikit bright spots di dunia yang memiliki risko tinggi mengenai resesi, tingginya inflasi, peningkatan nilai suku bunga dan juga risiko geopolitik," katanya.

Ia pun mengapresiasi pencapaian pemerintah Indonesia yang berhasil membatasi fiscal deficit di bawah $30 miliar atau setara dengan 2,38% dari PDB - lebih rendah dari target awal di 4,85%. Hal ini tentunya dapat dicapai karena pendapatan fiskal yang meningkat 30,6%, lebih tinggi dari target awal di 16%. Pertumbuhan PDB yang meningkat 5,2% di tahun 2022 juga tercatat jauh lebih cepat dari 3,7% di tahun 2021.

Meski terjadinya gejolak perekonomian global, para investor masih tertarik berinvestasi di private capital market Indonesia. Riset DATA VANTAGE dari DealStreetAsia, total equity funding deals di Indonesia mencapai jumlah 253 dengan total dana yang meningkat 14% dari tahun sebelumnya. Hal tersebut sebagian besar disokong oleh investasi di tahap awal (seed stage).

Secara garis besar jumlah dana untuk equity funding deals di Indonesia menurun drastis ke $3,71 miliar di 2022 atau 61% lebih rendah dari tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan adanya krisis di sektor tech dunia yang mengakibatkan minimnya mega funding deals. Namun, total pendanaan untuk startup di Indonesia sendiri masih mencapai 22% dari total pendanaan di kawasan Asia Tenggara untuk tahun 2022.

Tahun lalu, ada tiga perusahaan startup dengan fokus Indonesia yang berhasil mencapai status unicorn, yaitu perusahaan fintech lending Akulaku, perusahaan e-payment DANA, dan platform pinjaman konsumen Kredivo. Ketiganya menjadi bagian dari delapan perusahaan di Asia Tenggara yang berhasil melewati valuasi USD 1 milyar.

Data dari DealStreetAsia, ia juga mengindikasikan adanya dana investasi baru sebesar $ 5 miliar untuk ditempatkan di kawasan Asia Tenggara dan lebih dari 60% dana ini akan dialokasikan di Indonesia. Strategi ini dianggap penting untuk mendukung ekosistem startup Indonesia melewati masa tech winter yang tengah berlangsung saat ini.

Pada kesempatan itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan, untuk berinvestasi di sektor pariwisata Indonesia, kita harus memiliki manajemen yang baik serta tim berpengalaman yang memiliki rekam jejak yang baik. "Sekitar 50% turis di Indonesia datang ke Bali. Kami tengah mengembangkan lima tujuan wisata alternatif super prioritas—Surabaya, Borobudur, Labuan Bajo, Mandalika, Likupang. Indonesia sedang membuat institusi pemerintahan khusus yang akan menyediakan pinjaman lunak atau pendanaan untuk ekosistem gaming," jelasnya.

Sementara, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, dua sektor terpenting bagi investor di sektor kesehatan ada bioteknologi dan startup kesehatan. "Fokus pada kesehatan digital akan bergeser dari pelaporan ke pelayanan. Semua fasilitas kesehatan akan berinovasi untuk menciptakan aplikasi digital," ujarnya.

Sedangkan Patrick Walujo, Managing Partner di Northstar Group, mengatakan, valuasi perusahaan-perusahaan yang pertumbuhannya pesat sudah jatuh dalam tiga tahun terakhir namun performa bisnis mereka ditengarai akan membaik. "Exits akan mudah bagi bisnis yang berjalan dengan baik namun bisnis yang buruk akan sulit untuk exit; dengan atau tanpa pendanaan. Valuasi tidak lagi berarti. Risiko bisnis yang minim, kepemimpinan dan prospek bisnis yang menjanjikan menawarkan lebih banyak kesempatan," katanya.

Pun Jessica Huang Pouleur, Partner Openspace Ventures, menegaskan bahwa perjanjian akan tetap dibuat namun akan ada moderasi agar startup bisa menghasilkan penghasilan dan profit. (ak)