Kembali normal

Lebaran tahun ini terasa istimewa karena sejak pandemi covid-19 merebak pada 2020, baru pada 2022 pemerintah mengeluarkan kebijakan mudik.

Pemerintah juga menetapkan cuti bersama yang longgar. Harapannya, rakyat Indonesia dapat merayakan Idul Fitri di kampung halaman serta menjadi salah satu momen pemulihan ekonomi nasional setelah selama dua tahun terjerembap karena pembatasan aktivitas akibat pandemi covid-19.

Tradisi merayakan Lebaran ini dan menguatnya ikatan keluarga menciptakan budaya “mudik” yang pada dasarnya membangun ikatan keluarga yang lebih kuat antar-anggota keluarga, saudara, serta teman-teman sekampung. Sangatlah wajar, fenomena mudik di Indonesia ini menjadi gawe tahunan rutin bagi pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Aktivitas mudik ini disinyalir merupakan khas Indonesia. Fenomena mudik memiliki dimensi sosial, budaya, dan ekonomi yang cukup besar.

Para pemudik ini membawa sebagian hartanya untuk dibagikan kepada sanak saudara dan lingkungan terdekatnya, sehingga dampak ekonomi “uang kota” ini ke daerah cukup besar. Berpengaruh pada meningkatnya konsumsi dalam bentuk pembelian baju baru, makanan khusus Lebaran, selamatan Lebaran, serta transportasi dalam bentuk budaya saling mengunjungi.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno telah memperkirakan momen lebaran bisa memberikan perputaran jumbo untuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Sandi menjelaskan bahwa rata-rata pengeluaran wisatawan nusantara di Indonesia pada 2020 mencapai Rp1,5 juta.

Sedangkan, wisatawan nusantara yang berasal dari Pulau Jawa dan berkunjung ke destinasi di Pulau Jawa rentang rata-rata pengeluarannya mencapai Rp900 ribu hingga Rp1,5 juta. Maka, asumsi mudik melibatkan sekitar 48 juta orang, total uang yang dikeluarkan oleh seluruh pemudik selama momen lebaran dapat mencapai Rp72 triliun.

Center of Economic and Law Studies (Celios) mengatakan secara total termasuk pariwisata, perputaran uang dapat mencapai Rp250 triliun termasuk THR yang dikeluarkan perusahaan dan belanja selama libur lebaran.

Di sisi telekomunikasi, aktifitas komunikasi juga terlihat terus menanjak, khususnya untuk jasa data.

Telkomsel mencatatkan adanya lonjakan trafik layanan data pada periode Lebaran tahun ini sebesar 21 persen dibandingkan periode RAFI tahun lalu, atau 9 persen dibanding hari biasa. Di sisi lain, untuk layanan SMS dan panggilan suara (voice) di momen Ramadan dan Idul Fitri 2022 masing-masing mengalami penurunan sebesar 31 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya.

Lonjakan trafik komunikasi layanan data dan digital selama periode RAFI 2022 tersebut didorong dengan tumbuhnya aktivitas digital pelanggan yang meliputi akses layanan communication (instant messaging dan video conference) yang naik mencapai 21 persen, mobile gaming melonjak hingga 17 persen, streaming video sekira 16 persen, dan akses media sosial yang meningkat mencapai 3 persen, dibandingkan hari biasa.

Sedangkan untuk akses layanan e-commerce mengalami penurunan sekira 38 persen, diikuti aktivitas browsing yang juga berkurang 7 persen. Telkomsel juga mencatat adanya peningkatan aktivitas akses pada sejumlah aplikasi atau platform favorit seperti WhatsApp (tumbuh 35%), TikTok (meningkat 16%), Instagram (naik 15%), YouTube (melonjak 13%) dan Facebook (naik 1%).

Sementara  Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) mencatatkan pertumbuhan trafik data harian tertinggi dengan kenaikan 27% pada tanggal 29 April 2022 dibandingkan periode yg sama tahun lalu, dimana sekitar 97% diantaranya dapat terlayani di jaringan 4G.

Indosat Ooredoo Hutchison juga mencatatkan peningkatan trafik data sebesar 13% di masa libur lebaran dibandingkan dengan hari normal tahun ini. Ditunjang dengan data statistik di masa Ramadan dan Lebaran sebelumnya.

Sinyal positif selama musim lebaran ini tentu diharapkan berlanjut hingga waktu mendatang agar ekonomi kembali pulih.

Selamat berlebaran, jangan lupa dengan protokol kesehatan!

@IndoTelko