Mewaspadai dampak perang Rusia-Ukraina bagi dunia siber

Tak terasa perang Rusia-Ukraina sudah berusia lebih dari seminggu. Perang yang terjadi tidak hanya akan dirasakan kedua negara tersebut serta pendukungnya, tetapi juga secara global hingga ke dunia maya.

Invasi Rusia ke Ukraina berlangsung sejak Kamis (242/2) dengan sejumlah serangan udara di pangkalan militer dan kota-kota besar termasuk Kyiv, ibu kota Ukraina.

Invasi Rusia tersebut mengakibatkan sanksi besar-besaran oleh negara-negara Barat untuk merusak ekonomi Rusia dan menegaskan Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai pihak bersalah.

Respons berbagai negara ini dapat berimbas secara global, termasuk Indonesia. Sektor yang mulai terasa dampak diantaranya kenaikan harga komoditas, tertahannya pemulihan ekonomi pasca Covid-19, terhambatnya suplai komoditas dan logistik, potensi harga ekspor naik, dan lainnya.

Bagaimana dengan dunia siber? Secara historis, Rusia memiliki keunggulan atas Ukraina di dunia maya.

Dan minggu lalu, Ukraina diserang oleh malware penghapus yang merusak. Namun, situasinya mulai berubah, karena sebagian besar hacker non Rusia mulai memihak Ukraina. Untuk mempertahankan diri, pemerintah Ukraina telah menciptakan “tentara TI” peretas internasional. Saluran Telegram "tentara" ini sudah memiliki lebih dari 175.000 anggota.

Para pemain Anonymous pun telah mengambil sisi dalam konflik, berhasil menyerang berbagai situs Rusia beberapa hari terakhir.

Perusahaan teknologi besar seperti SpaceX milik Elon Musk telah mengambil sisi yang jelas, menyediakan layanan internet satelit Starlink ke Ukraina untuk membantu menjaga konektivitas internet negara tersebut.

Meski demikian, ada juga pihak yang berpihak pada Rusia dalam konflik tersebut. Misalnya, grup ransomware Conti telah mengancam bahwa jika ada serangan siber di Rusia, mereka akan membalas. Ada kemungkinan bagi Rusia untuk menargetkan serangannya terhadap negara-negara pemberi sanksi maupun industri sektor privat dari negara tersebut.

Selain itu, banyak penjahat dunia maya memanfaatkan situasi untuk mendistribusikan berbagai email phishing dengan subjek berorientasi donasi Ukraina.

Check Point Research (CPR) merilis data tentang serangan dunia maya yang diamati di sekitar konflik Rusia-Ukraina saat ini. Serangan siber terhadap pemerintah dan sektor militer Ukraina melonjak sebesar 196% dalam tiga hari pertama pertempuran. Serangan siber terhadap organisasi Rusia meningkat sebesar 4%.

Email phishing dalam bahasa Slavia Timur meningkat 7 kali lipat, di mana sepertiga dari email phishing berbahaya tersebut diarahkan ke penerima Rusia yang dikirim dari alamat email Ukraina.   

Penting untuk dipahami bahwa perang saat ini juga memiliki dimensi dunia maya, di mana orang-orang online memilih sisi, dari web gelap hingga media sosial.

Konflik Rusia-Ukraina telah mempolarisasi ruang siber. Hacktivists, penjahat dunia maya, peneliti, atau bahkan perusahaan teknologi memilih sisi yang jelas, berani bertindak atas nama pilihan mereka.

Potensi ancaman siber ini bisa merembet ke Indonesia yang hingga kini masih kerap berhadapan dengan isu keamanan siber, baik dalam hal infrastruktur keamanan siber maupun persebaran disinformasi dan hoaks di dalam ruang digital.

Ancaman disinformasi terkait konflik yang terjadi di Ukraina terdeteksi tersebar secara masif perlu diwaspadai, karena warganet Indonesia sangat mudah dipecah belah oleh berita hoaks di dunia maya.

Terus tingkatkan kewaspadaan sebagai pengguna internet dengan senjata literasi digital yang rasional.

@IndoTelko