Menunggu raja menara melantai di bursa saham

PT Telkom Indonesia Tbk (Telkom) akhirya mewujudkan impian lama yang terpendam yakni membawa PT Dayamitra Telekomunikasi atau Mitratel ke bursa saham melalui Initial Public Offering (IPO).

Mitratel akan menggelar IPO dengan menerbitkan sebanyak 25,5 miliar saham atau setara 29,85% dari modal yang ditempatkan dan disetor.

Mitratel telah menetapkan harga saham perdana Rp800 dalam rangka penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO). Sebelumnya Mitratel menawarkan harga IPO Rp 775-Rp 975 per saham.  

Dengan harga IPO yang ditetapkan Rp 800 per saham, Mitratel berpotensi meraup dana Rp 20,43 triliun dari IPO. Target perolehan dana IPO tersebut termasuk salah satu yang terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan telah menunjuk penjamin pelaksana emisi efek antara lain PT Mandiri Sekuritas dan PT BRI Danareksa Sekuritas.

Mitratel yang disebut-sebut berpotensi sebagai salah satu raja menara di tanah air, akan memakai dana IPO antara lain sekitar 90% untuk belanja modal dan sisanya modal kerja.

Rinciannya, untuk belanja modal itu antara lain sekitar 44% digunakan untuk belanja modal organik antara lain mengembangkan dan memperluas hubungan dengan pelanggan melalui penambahan penyewa kolokasi yang mencakup berbagai pengeluaran terkait dengan penguatan dan penambahan menara.

Mitratel berencana menggunakan dana hasil IPO untuk membeli 6.000 menara. Sejauh ini, Mitratel sudah mengelola lebih dari 28.000 menara telekomunikasi di seluruh Indonesia, dengan lebih dari setengahnya terletak di luar pulau Jawa.

Selain itu, pembangunan menara baru dan penambahan site baru termasuk biaya sewa lahan baru untuk dibangun untuk pesanan built-to-suit untuk berbagai operator telekominukasi dan ekspansi ke teknologi dan layanan yang dapat bersinergi dengan bisnis penyewaan menara telekomunikasi.

Sementara itu, sekitar 56% akan digunakan untuk belanja modal anorganik. Hal itu antara lain untuk akuisisi strategis portofolio menara berkualitas di Indonesia terutama menara yang dimiliki oleh operator telekomunikasi terkemuka di Indonesia dan akuisisi strategis produk, teknologi dan layanan baru yang dapat bersinergi dengan bisnis penyewaan menara perseroan di Indonesia.

Seandainya berjalan mulus, anak usaha Telkom ini berpotensi langsung memimpin emiten menara dari segi kapitalisasi pasar dengan potensi mencapai Rp83,42 triliun, mengungguli PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).

Berdasarkan prospektus yang dirilis perusahaan, hingga akhir semester pertama tahun 2021, Mitratel berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 3,22 triliun, meningkat 10,65% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2,91 triliun.

Sepanjang tahun 2020 lalu pendapatan Mitratel tercatat mencapai Rp 6,18 triliun, meningkat 16,16% dari tahun sebelumnya di mana pendapatan total perusahaan sebesar Rp 5,32 triliun, yang mana pendapatan tahun 2019 tersebut juga naik 17,70% dari tahun 2018 sebesar Rp 4,52 triliun.

Hingga tengah tahun laba bersih anak usaha Grup Telkom tercatat melonjak 356% menjadi Rp 700,7 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 153,7 miliar.

Selain itu dalam dua tahun terakhir pendapatan tahunan perusahaan juga selalu mengalami peningkkatan, dengan terakhir sepanjang tahun 2020 lalu tercatat laba bersih Mitratel sejumlah Rp 602 miliar.

Hingga akhir Juni tahun ini, aset perusahaan tercatat naik 27,57% menjadi Rp 32,25 triliun dari periode akhir Desember tahun lalu yang hanya sebesar Rp 25,28 triliun. Aset ini terdiri dari aset lancar sejumlah Rp 3,61 triliun dan Rp 28,64 triliun sisanya berupa aset tidak lancar.

Total nilai aset yang dimiliki Mitratel tercatat sedikit lebih kecil dari nilai aset TOWR (Rp 34,65 triliun) dan TBIG (Rp 41,83 triliun).

Liabilitas perusahaan juga tercatat naik menjadi Rp 18,57 triliun dari semula posisi akhir tahun lalu di angka Rp 17,12 triliun. Liabilitas ini terdiri dari kewajiban jangka pendek sejumlah Rp 7,12 triliun, dan mayoritas sisanya berupa liabilitas jangka panjang sebesar Rp 11,45 triliun.

Ekuitas perusahaan akhir Juni 2021 tercatat melonjak hingga 67,64% menjadi Rp 13,68 triliun dari semula senilai Rp 8,16 triliun.

Keberhasilan IPO Mitratel ini bisa dikatakan sebagai bukti masih tingginya daya tarik bisnis menara bagi investor. Kebutuhan menara untuk akomodasi teknologi 5G dan potensi valuasi Mitratel yang masih bisa digenjot dengan memacu kolokasi dianggap sebagai mesin pertumbuhan untuk berinvestasi oleh investor.

@indoTelko