Menjaga kearifan lokal dalam mengembangkan ekosistem startup

JAKARTA (IndoTelko) - Percepatan transformasi digital yang terjadi saat ini telah mempengaruhi dan membentuk cara pandang, tradisi dan gaya hidup masyarakat.

Pandemi Covid- 19 telah memicu proses transformasi digital menjadi lebih cepat. Sayangnya, cepat proses transformasi tidak diimbangi dengan literasi masyarakat.

Menurut laporan world digital competitiveness tahun 2020, daya saing digital Indonesia berada di urutan ke 56 dari 63 negara di dunia. Indonesia termasuk negara yang berada di posisi bawah dalam hal daya saing digital.

Dalam upaya meningkatkan daya saing Indonesia, Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menyelenggarakan Webinar Nasional dengan tema “Keberadaan Nilai Kearifan Lokal dalam Pusaran Transformasi Digital” secara tatap muka melalui jaringan/online pada Rabu, (6/10).
 
“Daya saing digital Indonesia yang masih rendah salah satunya disebabkan oleh rendahnya literasi digital. Kondisi tersebut juga membuat Indonesia rentan terhadap ancaman penyebaran hoaks, ujaran kebencian, radikalisme, konten pornografi yang tersebar di dunia maya dan cyber bullying. Fenomena ini tersebut perlu diwaspadai bersama, karena dapat merusak kearifan lokal yang telah mendarah daging dan menjadi ciri khas kehidupan masyarakat Indonesia. Jika kearifan lokal terpinggirkan, bangsa Indonesia berisiko kehilangan jati diri bangsa yang ramah, toleran, gotong royong, sopan santun dan lain-lain,” kata Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Sebelas Maret Surakarta Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, M.S.

Ahmad mengharapkan kearifan lokal mampu menjadi benteng yang luar biasa untuk menangkal berbagai paham dan aliran yang berasal dari luar yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Transformasi digital merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari oleh masyarakat. Kearifan lokal sedang diuji kekuatannya untuk beradaptasi dengan era kekinian.
 
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Kementerian Komunikasi dan Informatika Dr. Eng. Hary Budiarto, M.Kom., IPM. mengatakan kominfo fokus mengembangkan literasi digital dan target sampai 2024 adalah 50 juta masyarakat yang mengikuti program literasi digital. Artinya setiap tahunnya ada 12,5 juta masyarakat yang harus mendapat literasi digital.

Kominfo sudah membuat suatu modul yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan literasi digital mereka. Modul tersebut berisi beberapa fokus antara lain cakap bermedia digital, etis bermedia digital, aman bermedia digital, dan budaya bermedia digital. Kominfo terbuka untuk menambahkan kearifan lokal dalam modul tersebut.

Harry menambahkan masyarakat digital dibangun dengan konsep segitiga. Paling atas adalah pimpinan digital. Lapis tengah adalah talenta digital. dan yang paling bawah adalah literasi digital. Harapan kami dengan menyasar mulai dari tingkat pimpinan, kemudian masyarakat menengah sampai ke literasi, masyarakat bisa berkembang dan masuk ke ekonomi digital, sehingga transformasi digital dapat terakselerasi.

Kominfo mencatat ekonomi digital Indonesia pada 2020 mencapai US$44 miliar atau setara dengan Rp 632 triliun. Diprediksi pada 2025, nilai ekonomi digital meningkat menjadi US$ 124 miliar dan menjadi senilai US$315,5 miliar pada 2030.

Direktur Digital Business Telkom Indonesia Muhammad Fajrin Rasyid mengungkapkan hanya dalam 5 tahun saja ekonomi digital Indonesia akan tumbuh kurang lebih 3 kali lipat pada 2025 menjadi Rp1.760 triliun. Pertanyaannya, siapa yang akan memanfaatkan pertumbuhan ekonomi digital ini? Tentu akan sayang sekali kalau Indonesia hanya berperan sebagai konsumen atau pasar saja.
“Pada 2020, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 175,4 juta, dengan jumlah ponsel yang terhubung ke jaringan sebanyak 338 juta ponsel atau 124% dari total populasi Indonesia. Jumlah tersebut sangat besar dan masih akan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan. Kearifan lokal kental hubungannya dengan posisi startup lokal dalam menghadapi kompetisi dengan pemain global. Kalau kita melihat beberapa contoh di indonesia, dalam beberapa kasus startup lokal atau yang dibangun di indonesia dapat berkompetisi dengan startup global. Dalam beberapa kasus, memaksa pemain global tersebut untuk berhenti beroperasi atau merger.,” katanya.
 
Fajrin mengungkapkan, beberapa rahasia dari startup yang bisa bersaing dengan startup global adalah kearifan lokal itu sendiri. Kearifan lokal membuat Startup Indonesia mampu atau mencoba untuk memahami local market dengan lebih baik lagi. Kemudian dari sisi model bisnis, lahir fitur-fitur atau hal-hal yang dekat terhadap pasar Indonesia atau dalam negeri, yang sulit dipenuhi atau dicapai oleh startup global.

 Sementara itu, Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia Sarwoto Atmosutarno mengatakan memahami peran budaya lokal dalam pusaran transformasi digital akan membuat Indonesia banyak mengambil manfaat dan mencegah banyak mudharat atas suksesnya transformasi digital. Transformasi digital dengan memanfaatkan kearifan lokal juga berperan penting untuk pembelajaran dan kesinambungan bangsa Indonesia.

“Memahami peran nilai unggul bangsa, kekayaan budaya lokal yang mendorong suksesnya transformasi digital akan memperbaiki banyak hal, seperti indeks-indeks strategis dalam millennium development goal, digital competitiveness index dan banyak indeks penting yang lain sebagai bekal menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.(wn)