GoTO, too big to fail?

Aksi korporasi yang dilakukan Gojek dan Tokopedia dengan mengumumkan pembentukan Grup GoTo dinilai sebagai kolaborasi usaha terbesar di Indonesia dan Asia hingga saat ini.

GoTo menyatukan kekuatan dua perusahaan teknologi terdepan di Indonesia yang menciptakan ekosistem unik dan saling melengkapi secara global.

Mengombinasikan layanan eCommerce, pengiriman barang dan makanan, transportasi serta keuangan, Grup GoTo diyakini akan menciptakan platform konsumen digital terbesar di Indonesia.

Dilihat berdasarkan putaran penggalangan dana Gojek di tahun 2019 dan Tokopedia di awal tahun 2020, total valuasi dari kedua perusahaan tersebut adalah US$18 miliar. Penggabungan tersebut diperkirakan akan menghasilkan entitas baru dengan valuasi mencapai US$ 40 miliar atau setara Rp560 triliun

Sementara jika dilihat nilai transaksi harian dari GoTo rinciannya
● Total Gross Transaction Value (GTV) secara Grup lebih dari US$22 miliar pada tahun 2020
● Lebih dari 1,8 miliar transaksi pada tahun 2020
● Lebih dari dua juta mitra driver yang terdaftar per Desember 2020
● Lebih dari 11 juta mitra usaha (merchant) per Desember 2020
● Lebih dari 100 juta pengguna aktif bulanan (Monthly Active User/MAU)
● Kontribusi sebesar 2% kepada total PDB Indonesia

Grup GoTo pun memiliki daftar investor blue-chip termasuk (sesuai abjad) Alibaba Group, Astra International, BlackRock, Capital Group, DST, Facebook, Google, JD.com, KKR, Northstar, Pacific Century Group, PayPal, Provident, Sequoia Capital, SoftBank Vision Fund 1, Telkomsel, Temasek, Tencent, Visa dan Warburg Pincus.

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) menyebutkan, aksi merger ini akan menyumbangkan Rp300 triliun atau 1,9%-2,1% terhadap PDB serta menciptakan nilai ekonomi langsung sebesar Rp 17-34 triliun.

Masih menurut lembaga ini, secara makro, penggabungan dua unicorn anak bangsa tersebut diperkirakan akan menambahkan 0,1-0,3% dari kontribusi gabungan Gojek dan Tokopedia terhadap PDB, yang dilaporkan mencapai sampai dengan lebih dari 2% atau sekitar Rp 300 triliun.

Merger Gojek-Tokopedia akan meningkatkan nilai tambah hampir di seluruh lini bisnis GoTo. Melalui penghematan biaya dan peningkatan produktivitas, diperkirakan akan ada 20,4 juta tambahan pengguna layanan same day/instant courier melalui Tokopedia, tambahan 1,3 juta transaksi oleh pengguna lama tokopedia dan 2 juta tambahan transaksi dari pengguna lama Gojek.

Diperkirakan akan terdapat 3,9 juta pengguna baru Gojek, 9,1 juta pengguna baru Tokopedia, 15,2 juta pengguna baru dompet digital, dan 589 ribu penjual terdaftar baru di Tokopedia.

Cerita-cerita manis yang beredar di atas sudah banyak ditulis media massa. Bahkan, paska merger, Gojek dan Tokopedia dikabarkan juga akan menjalankan initial public offering (IPO) di bursa saham Indonesia.

Pasar Digital
Hal yang pasti, pasca kehadiran GoTo, wajah pasar digital Indonesia mulai tergambar jelas yakni, pemodal besar, terutama asing, yang berkuasa.

Jika di Amerika Serikat dikenal pemain seperti Google, Amazon, Facebook, Apple. Di Tiongkok ada Alibaba, Tencent, Baidu, ByteDance, dan JD. Maka di Indonesia, beberapa dari raksasa dua negara itu berkolaborasi melalui GoTo.

Lantas adakah jaminan jika para raksasa yang menjalankan bisnis nantinya akan sukses? 

Jika melihat laporan CBInsights yang dirilis beberapa hari lalu menyatakan Quibi yang dapat funding US$1,75 miliar dari Goldman Sachs, NBC Universal, JPMorgan Chase, dalam kondisi bubar.

LeSports setelah disuntik US$1,7 miliar dari HNA Capital, Caissa Travel, Zhongtai Securities, Fortune Link, dalam keadaan tak berdaya.

Arrivo tak mampu menoptimalkan dana US$1 miliar dari Plug and Play Ventures dan Trucks VC. Bahkan, eToys yang sudah listing di Nasdaq dan dapat US$166,4 juta, terpaksa tutup.

Penyebab kehancuran startup-startup ini pandemi, financial fraud, perkara hukum, dan pendiri atau pengurusnya tersangkut masalah hukum.

Sebuah pernyataan dari pemain saham senior, Lo Kheng Hong, layak menjadi referensi yang tak melihat GoTo sebagai tempat seksi untuk berinvestasi. “Kalau jual ke saya masa depan, halusinasi, dongeng, gak mungkin saya beli,” katanya.

Jadi, siapa bilang bintang tak bisa jatuh?

@IndoTelko