Kencan digital bagian dari new normal?

JAKARTA (IndoTelko) -  Lebih dari setengah pengguna Tinder di seluruh dunia adalah Gen Z (dewasa muda yang berusia 18 hingga 25 tahun).

Sebenarnya, sebelum pandemi pun Tinder sudah melihat bagaimana Gen Z mengubah aturan dan kebiasaan kencan, tapi pandemi terjadi di tahun 2020 merubah semuanya.

Rasa kehilangan, kerinduan, dan kesepian akibat pandemi berdampak serius pada kehidupan anak-anak muda saat ini dan mendorong mereka untuk mencari cara baru agar bisa terhubung dengan lebih banyak orang, berkumpul dengan gaya ‘new normal’ dan menjadi lebih terbuka di Tinder.

Justru tahun ini adalah tahun yang paling sibuk dalam sejarah Tinder, dan merupakan awal dari dekade yang sangat berbeda di dunia kencan.

Gen Z berhasil mematahkan stigma dan tabu seputar kencan. Kencan tidak lagi dilakukan dengan tata cara yang kaku. Kencan sudah menjadi lebih fleksibel dalam hal ekspektasi (jalani dulu sebelum memutuskan untuk serius atau tidak), emosi (lebih jujur dan otentik), dan juga pengalaman (lebih banyak melakukan aktivitas bersama daripada hanya sekedar basa basi dan ini yang kemungkinan besar akan membuat kencan digital jadi langgeng).

Dengan gaya mereka sendiri, Gen Z dengan mudah menjalani kontradiksi dimana di satu sisi mereka memperluas lingkup kencan mereka dan di sisi lain memilih berkencan dengan orang yang ada di sekitar mereka.

Selain itu, Gen Z juga merasakan dorongan kuat untuk mulai berkencan lagi tanpa mengabaikan momen-momen kecil sebagai bukti kasih sayang mereka terhadap pasangannya.
 
1. Orang akan lebih jujur ​​dan otentik dalam berkencan
Pandemi memberikan pandangan baru mengenai berbagai hal bagi banyak orang. Sehingga, pengguna Tinder pun menjadi lebih jujur ​​dan terbuka tentang siapa mereka, penampilan mereka, dan apa yang sedang mereka rasakan. Ekspresi ini disampaikan lewat bio pengguna Tinder dengan tulisan  'anxiety' dan 'normalize', yang tumbuh cukup signifikan di Tinder selama pandemi ('anxiety' lebih banyak ditulis 31%; 'normalize' ditulis 15x lebih banyak).

2. Batasan akan menjadi lebih transparan
Pandemi juga mendorong diskusi mengenai batasan ruang pribadi menjadi lebih marak. Pengguna Tinder menggunakan bio mereka untuk memperjelas ekspektasi mereka: kata-kata 'pakai masker' atau ‘wear a mask’ 100x lipat lebih banyak dipakai selama pandemi, 'batasan' atau ‘boundaries’ digunakan 19% lebih banyak dari sebelumnya, dan istilah 'kesediaan' atau ‘consent’ juga naik 11%. Praktik ini akan membuat percakapan tentang ‘kesediaan’ atau ‘consent’ menjadi lebih umum dan nyaman di masa mendatang.

3. Lebih banyak orang ingin "Kita jalanin dulu saja"
Dalam survei pengguna Tinder yang dilakukan baru-baru ini, pengguna yang mencari pasangan kencan dengan status 'tidak mencari jenis hubungan tertentu' naik hampir 50%. Jadi, alih-alih pandemi mendorong keinginan mereka untuk menikah, generasi berikutnya justru akan berpikir lebih ke arah “jalanin dulu aja” dan mencari hubungan yang lebih terbuka.

4. Kencan digital akan tetap menjadi bagian dari “new normal”
Karena kontak langsung masih berisiko, orang beralih ke pengalaman virtual untuk terhubung dengan orang lain. Dan meskipun saat ini kontak langsung sudah mulai dilakukan kalau memang sangat penting, namun kencan digital akan tetap ada. Menurut survei Tinder baru-baru ini, mereka yang telah mencoba kencan digital merasa lebih santai saat berusaha kenal lebih jauh dengan pasangan kencannya, dan 40% pengguna Gen Z di Tinder mengaku bahwa mereka akan terus melakukan kencan digital, bahkan saat tempat kencan favorit mereka telah dibuka kembali.

5. Kencan pertama akan lebih banyak tentang aktivitas daripada icebreakers
Dengan banyaknya bar dan restoran yang tutup, banyak tempat yang biasanya menjadi tempat kencan pertama tidak lagi menjadi pilihan. Jadi, ketika tiba waktunya untuk bertemu, orang akan lebih memilih untuk melakukan aktivitas kencan pertama yang lebih kreatif, personal, dan kasual dibandingkan sebelumnya. Misalnya, Tinder melihat peningkatan 3x lipat dalam penyebutan 'sepatu roda' di bio pengguna dan permintaan untuk aktivitas kencan seperti, ‘fort building’ atau ‘snowball fights’ yang muncul di bio.

6. Sentuhan kecil akan berdampak besar
Pengguna Tinder menggunakan biografi mereka untuk mencari kasih sayang seperti berpegangan tangan, berpelukan, atau sentuhan seseorang di rambut mereka. Hal ini terlihat dari penggunaan kata 'berpelukan' atau ‘cuddle’ yang meningkat 23%, dan 'berpegangan tangan'  atau ‘hand holding’ meningkat 22%. Setelah mengalami berbulan-bulan tanpa kontak fisik, para daters menjadi sangat menghargai bentuk kasih sayang secara fisik sekecil apapun. Jadi, meskipun pertemuan menjadi hal biasa, namun sentuhan fisik paling kecil sekalipun akan memiliki peran penting dalam berkencan.

7. Orang akan selalu ingin berkencan dengan seseorang yang dekat
Geolokasi Tinder, atau kemampuan untuk menemukan orang di sekitar pengguna, sangat relevan pada masa pandemi. Sebutan 'pindah' ​​atau ‘moving’ di bio naik 28% pada tahun 2020. Jadi, meskipun teknologi terus memungkinkan orang untuk tinggal atau bekerja di mana saja, pengguna Tinder masih tetap mencari seseorang yang tinggal dekat dengan mereka.

8. 'Cinta Musim Panas' atau ‘summer love’ mungkin akan tiba.
Pada Oktober 2020, lebih dari 40% pengguna Tinder yang berusia di bawah 30 tahun belum pernah bertemu secara langsung. Namun, penyebutan kata “Pergi kencan” atau ‘Go on a date’ pada bio pengguna Tinder, mencapai puncaknya pada bulan Februari 2021. Meski kebanyakan mengaku menahan diri untuk melakukan kencan secara langsung pada tahun 2020 (54% lajang mengatakan kepada YPulse bahwa "COVID-19 telah secara signifikan menghambat kehidupan cintaku"), mereka merasa siap untuk keluar rumah setelah vaksin tersedia.(pg)