Valuasi Mitratel diperkirakan naik dengan IPO

JAKARTA (IndoTelko) - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) menyakini valuasi dari anak usahanya yang bermain di bisnis penyewaan menara telekomunikasi, PT Dayamintra Telekomunikasi (Mitratel), akan meningkat jika melakukan Initial Public Offering (IPO).

VP Investor Relation Telkom Andi Setiawan menjelaskan IPO Mitratel dapat merealisasikan potensi kenaikan valuasi dalam bisnis menara yang dikelola Telkom.

"Saat ini nilainya masih berada di bawah nilai pasar (undervalued) dibandingkan dengan industri.Selain itu, IPO Mitratel akan memperkuat posisi perseroan di pasar sekaligus mempersiapkan peluang pengembangan 5G dan mendapatkan efisiensi melalui skala ekonomi. Ujungnya akan memperkuat posisi Telkom Grup untuk memberikan layanan konektivitas terbaik di Indonesia,” ujarnya.

Diungkapkannya, pemain telekomunikasi global dan Indonesia kini semakin memonetisasi infrastruktur melalui pasar modal untuk memaksimalkan nilai dan mempersiapkan belanja modal baru.

Indonesia merupakan salah satu industri menara paling menarik dengan potensi valuasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasar yang sudah mapan seperti Amerika Serikat dan Eropa. Rasio pelanggan mobile per tower yakni US$3,5.

Dijelaskannya, pertumbuhan Mitratel sebagai lini bisnis menara Telkom sangat terbuka karena Indonesia merupakan pasar yang berkembang dan memiliki peluang besar, didorong oleh transisi ke 4G dan 5G serta lonjakan data.

Andi mengatakan Mitratel juga memiliki potensi untuk menawarkan layanan baru dan terintegrasi terkait dengan penggunaan dan optimalisasi aset, mengingat perseroan memiliki end to end kapasitas infrastruktur tower.

Tak hanya itu, Mitratel diklaim memiliki basis pelanggan yang kuat dengan peringkat kredit yang tinggi serta proyeksi pendapatan masa depan yang bisa diprediksi. Plus, punya prospek pertumbuhan inorganik yang kuat.
 
Namun, Andi menilai ada sejumlah tantangan yang dihadapi perseroan dalam melakukan aksi korporasi ini seperti mencarii waktu yang tepat baik untuk proses unlock maupun tindakan anorganik, mengingat situasi di tengah kondisi pandemi.

Ada pula tantangan untuk smart financing untuk membiyai kegiatan anorganik perseroan seperti akuisisi menara. Ditambah antisipasi kemungkinan perubahan regulasi dalam industri.

Asal tahu saja, Telkom sudah merintis monetisasi Mitratel sejak 2014.

Pada 2014, Telkom sudah melakukan Conditional Sales Purchase Agreement (CSPA) dengan Tower Bersama terkait monetisasi Mitratel.   

Dalam perjanjian kerjasama itu Telkom dan  Tower Bersama akan menukar 100% sahamnya di Mitratel dengan 13,7% saham dari Tower Bersama yang berasal dari penerbitan saham baru. Sayangnya, kerjasama ini gagal.

Padahal waktu itu, dalam kajian yang dilakukan sejumlah analis kala CSPA di 2014 dinyatakan strategi menggandeng Tower Bersama untuk monetisasi Mitratel adalah langkah yang tepat karena jika emiten Halo-halo ini mengandalkan pertumbuhan organic tak memberikan nilai tambah.

Sementara jika monetisasi dengan melepas saham ke pasar (IPO), diperkirakan tak memberikan valuasi premium bagi Telkom.

Langkah backdoor listing dengan Tower Bersama dianggap tepat karena nilainya empat kali Booked Value mengingat dilepas dengan harga premium dan bisa mengurangi beban utang.

Sementara sekarang, J.P. Morgan mengkalkulasi enterprise value Mitratel sekitar US$2,3 miliar—US$3,9 miliar dalam potensi skenario IPO.

Dalam analisis valuasi, J.P Morgan berasumsi Telkom akan mentransfer 20% hingga 80% menara Telkomsel kepada Mitratel. Dengan skema itu, perhitungan EBITDA Mitratel berada di kisaran Rp3,5 triliun atau US$240 juta hingga Rp4,7 triliun atau US$324 juta.

Tim Analis J.P. Morgan berasumsi Telkomsel akan mentransfer portofolio menara ke Mitratel sebelum eksekusi wacana IPO. Telkom memiliki 16.000 menara telekomunikasi di bawah Mitratel dan 17.500 melalui Telkomsel.

J.P. Morgan menghitung portofolio Mitratel akan berkembang menjadi 25.000 menara dengan 33 ribu penyewa.

Sebelumnya, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menyatakan dalam rangka transformasi ekonomi, BUMN sangat terbuka kepada segala bentuk transformasi dan inovasi, baik melalui kerja sama strategis maupun pembaruan model bisnis.

“Ke depan juga dalam klaster yang ada kita akan lakukan IPO dan strategic partnership. Seperti Pertamina upsteram holding. Di Telkom nanti di menara yaitu Mitratel akan ada IPO,”paparnya.(id)