Transportasi online berperan dalam mendukung sistem transportasi massal

JAKARTA (IndoTelko)- Tim peneliti dari Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) merilis hasil riset terbaru mengenai “Peran Transportasi daring dalam Penggunaan Transportasi Umum Massal”.

Berdasarkan hasil survei wawancara terhadap 5064 responden yang merupakan komuter yang tinggal di wilayah Jabodetabek, riset ini menemukan bahwa layanan transportasi daring memainkan peran integrasi dalam mendukung sistem transportasi massal. Berdasarkan hasil riset yang dirilis tersebut, tim peneliti merekomendasikan kolaborasi yang lebih kuat antara regulator, layanan transportasi massal dan layanan transportasi daring untuk mendorong peningkatan jumlah penumpang transportasi massal agar kemacetan dan polusi udara dapat berkurang.

Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Yos Sunitiyoso berlangsung sejak Desember 2019 hingga awal Maret 2020. Penelitian tersebut mengeksplorasi pengalaman dan opini komuter terkait layanan transportasi massal dan penggunaan multimoda harian komuter di Jabodetabek. Ditemukan bahwa 48% penumpang menggunakan layanan transportasi daring sebagai salah satu moda transportasi dalam perjalanan multimoda harian mereka.
 
“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan yang cukup signifikan dalam perilaku komuter warga Jabodetabek sejak munculnya berbagai layanan transportasi daring. Kami menemukan bahwa alih-alih mengganti transportasi massal, layanan transportasi daring sebenarnya telah mendorong lebih banyak orang untuk beralih menggunakan transportasi massal, karena keberadaan transportasi daring tersebut dianggap mempermudah perjalanan komuter dari dan menuju stasiun/halte transportasi massal. Hal ini tentunya membantu mengatasi kemacetan lalu lintas yang merajalela di Jabodetabek dan membantu mengurangi polusi udara yang disebabkan oleh asap kendaraan bermotor,” katanya.
 
Temuan penting dari penelitian ini meliputi:
1. Layanan transportasi daring memainkan peran penting dalam melayani perjalanan First Mile (FM) / Last Mile (LM), sehingga mendorong lebih banyak orang untuk berpindah menggunakan transportasi massal.

Penelitian ini menemukan bahwa jarak rata-rata yang ditempuh oleh komuter setiap hari mencapai 50 kilometer (pulang-pergi) yang terbagi menjadi 3 hingga 6 segmen perjalanan. Kesulitan akses menjadi salah satu alasan utama untuk tidak menggunakan transportasi massal - karena lokasi stasiun atau halte bisa terlalu jauh untuk dicapai dengan berjalan kaki dari rumah atau tempat kerja mereka.

Sejak diperkenalkannya transportasi daring ke ibu kota dalam beberapa tahun terakhir, komuter telah menggunakan layanan ini sebagai moda transportasi FM / LM, dengan mengandalkan karakter layanannya yang dapat menyesuaikan dengan permintaan (on demand) dan keterjangkauan biaya untuk melengkapi sistem transportasi massal yang kurang terintegrasi. Kemudahan melanjutkan perjalanan dengan layanan transportasi daring serta titik penjemputan yang jelas untuk layanan transportasi daring disebut sebagai 2 dari 5 alasan utama penggunaan transportasi multimoda.

Riset ini juga mengungkapkan bahwa sebagian besar pengguna transportasi daring untuk FM / LM menggunakan lebih dari satu penyedia layanan transportasi daring, dengan 74% menyatakan bahwa mereka menggunakan Grab, sementara 49% menyatakan bahwa mereka menggunakan Gojek. Layanan transportasi daring berbasis sepeda motor menjadi layanan yang paling sering digunakan oleh 96% pengguna, dengan GrabBike paling sering digunakan oleh 61% pengguna dan Go-Ride paling sering digunakan oleh 35% pengguna.

Temuan lain dari riset ini menunjukkan bahwa 31% komuter menyatakan mereka beralih ke transportasi massal karena keberadaan layanan transportasi daring, yang telah mempermudah mereka untuk mencapai halte/stasiun transportasi massal, sekaligus mempermudah mereka untuk melanjutkan perjalanan.

2. Integrasi kendaraan dan transportasi massal mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK)
Di tengah kekhawatiran akan perubahan iklim yang kian meningkat, penggunaan transportasi massal mampu memberi dampak baik untuk lingkungan.

Studi ini menemukan bahwa pilihan moda transportasi saat ini telah mengurangi emisi karbon sebesar 11% (secara agregat) dibandingkan sebelumnya. Dengan mengkonversi dari kendaraan pribadi (mobil dan motor) ke perjalanan multimoda, 44,37% dari semua responden telah berhasil mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (CO2, N20, CH4) mereka.

Data lebih lanjut menunjukkan bahwa pengguna transportasi daring memberikan kontribusi lebih besar terhadap penurunan emisi GRK dibandingkan dengan pengguna non-transportasi daring. Pengurangan emisi GRK bersih per orang dalam perjalanan satu arah adalah 41% lebih tinggi untuk pengguna transportasi daring (0,31 kg) dibandingkan dengan komuter yang tidak menggunakan transportasi daring (0,22 kg).
 
3. Potensi skuter elektrik (e-Scooter) dalam perjalanan multimodal
Walaupun hanya 8% responden yang pernah menggunakan layanan skuter elektrik, contohnya GrabWheels, sekitar 35% responden menyatakan ketertarikannya untuk menggunakan skuter elektrik di masa depan untuk melakukan perjalanan singkat dari dan menuju titik-titik transportasi umum.

Hal ini menunjukkan potensi skuter elektrik sebagai moda transportasi alternatif yang selanjutnya dapat meningkatkan penggunaan sistem transportasi massal. Meski demikian, penelitian ini juga menunjukkan bahwa komuter memiliki kekhawatiran terhadap risiko keselamatan, kegunaan dan kemudahan penggunaan layanan skuter elektrik yang perlu ditangani dan diantisipasi.

Bagian terakhir dari penelitian ini mengemukakan rekomendasi kepada pembuat kebijakan, layanan transportasi massal dan layanan transportasi daring. Rekomendasi ini menyerukan kolaborasi yang lebih baik antara semua pihak dan integrasi yang lebih kuat antara transportasi massal dan layanan transportasi daring untuk membantu mendorong peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.

Rekomendasi tersebut meliputi:
● Karena keterbatasan tempat parkir di perkotaan, pembuat kebijakan hendaknya dapat mempertimbangkan untuk mengembangkan kebijakan drop-and-ride dalam rangka mendorong para penumpang untuk menggunakan layanan transportasi daring saat mencapai stasiun / pemberhentian. Layanan transportasi massal dan transportasi daring dapat bekerja bersama untuk menyediakan titik penjemputan / perhentian khusus di stasiun / halte untuk penjemputan dan pengantaran.

● Pembuat kebijakan disarankan untuk mengarahkan berbagi informasi antara operator transportasi massal dan layanan transportasi daring guna meningkatkan kualitas integrasi multimoda dan menciptakan pelanggan baru. Platform transportasi daring juga dapat mendorong penumpang untuk menggunakan transportasi massal dengan memberikan informasi yang relevan terkait dengan layanan transportasi massal seperti halte angkutan umum terdekat, serta saran untuk opsi transportasi umum termurah dan rute transportasi daring.

● Sistem pembayaran terintegrasi dapat menjadi nilai tambah bagi komuter. Operator transportasi massal dan layanan transportasi daring menggunakan berbagai jenis platform pembayaran. Layanan terintegrasi untuk para pengguna ini, seperti ongkos bundling untuk menciptakan pengalaman tanpa batas antara segmen jarak jauh dan first mile/last mile, akan bermanfaat bagi pengguna.

● Mengembangkan kebijakan dan infrastruktur yang sesuai (seperti jalur khusus) untuk penggunaan skuter elektrik di jalan umum, untuk meningkatkan potensi skuter elektrik dalam perjalanan transportasi multimoda. Penyedia layanan transportasi massal perlu mulai mengeksplorasi penyediaan fasilitas parkir / penyewaan skuter elektrik yang memadai di stasiun / halte bus mereka.(wn)