Milenial, politik, dan medsos

Peserta aksi demo #ReformasiDikorupsi pada Selasa (24/9).(ist)

JAKARTA (IndoTelko) - Gedung DPR RI di Jakarta pada Selasa (24/9) seperti menjadi saksi bisu bangkitnya gerakan mahasiswa Indonesia pasca era reformasi 98.

Selasa (24/9) seperti menjadi titik kulminasi (entah berlanjut atau tidak) dari kegelisahan mahasiswa atas sejumlah perilaku elit politik yang membuat reformasi berada di titik nadir.

Tanda pagar atau hashtag #ReformasiDikorupsi digulirkan para milenial di Media Sosial (Medsos) sebagai simbol pergerakan menentang dikebirinya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui revisi Undang-undang KPK dan pemilihan pemimpin dari lembaga tersebut yang dianggap tak pro pemberantasan rasuah.

Puncak kegelisahan milenial yang dianggap terlalu banyak bermain di dunia maya oleh para seniornya ini adalah rencana parlemen mengesahkan RUU Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RUU KUHP) yang dinilai memuat sejumlah pasal kontroversial. 

Tak hanya itu, RUU Agraria, dan RUU Ketenagakerjaan, RUU Sumber Daya Air, RUU Pertanahan, RUU Pertambangan Minerba, UU MD3, RUU PKS, RUU Masyarakat Adat dan RUU Perlindungan Data Pribadi ikut juga ditolak.

Tuntutan lainnya adalah batalkan hasil seleksi calon pimpinan KPK. Menolak dwifungsi Polri. Selesaikan masalah Papua dengan pendekatan kemanusiaan. Hentikan Operasi Korporasi yang merampok dan merusak sumber-sumber agraria, menjadi predator bagi kehidupan rakyat. Termasuk mencemari Udara dan Air sebagai Karunia Tuhan Yang Maha Esa. Seperti Halnya Kebakaran Hutan yang saat ini terjadi di Sumatera dan Kalimantan serta Pidanakan semua pihak yang terlibat.

Rapi
Founder Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia Ismail Fahmi dalam risetnya melihat penggalangan opini yang dibangun mahasiswa melalui media sosial lumayan rapih dan berhasil mendapatkan simpati pengguna internet.

"Gerakan #GejayanMemanggil adalah contoh mobilisasi offline dan online. Gerakan ini tidak akan ramai jika hanya online saja. Hanya mainan buzzer di medsos dan GiveAway. Memang bisa membangun opini, namun impact kalah kuat kalau tidak ada aksi offline. #GejayanMemanggil memanggil sudah disiapkan dulu kajiannya secara offline. Setelah tagar muncul secara online, diikuti dengan aksi di berbagai kota, secara offline. Aksi organik, tidak bisa dipalsukan. Yang dipalsukan biasanya ketahuan, hanya sesaat dan oleh massa bayaran," sebut Ismail melalui akun Facebook-nya menganalisa aksi #GejayanMemanggil yang dianggap sebagai "Pembuka" dari gerakan #ReformasiDikorupsi.

#GejayanMemanggil terinspirasi dengan gerakan serupa di Yogyakarta 21 tahun lalu dimana mahasiswa bergerak ingin menggulingkan rezim Soeharto. Demonstrasi #GejayanMemanggil ini dilandasi oleh penilaian politik Indonesia saat ini sedang dikuasai oleh kelas borjuis yang oligarkis. 

Ismail juga mengungkapkan fakta Generasi Z/K-Poppers ternyata turut bersuara lantang bersama Mahasiswa, aktivis, dan oposisi atas perkembangan bangsa. 

Hal itu terlihat dari analisa Drone Emprit pada (24/9) terhadap tujuh tagar yakni #DiperkosaNegara, #TurunkanJokowi, #ReformasiDikorupsi yang dianggap pro gerakan mahasiswa dan #PercayaLangkahJokowi, #SayaBersamaJokowi, #JokowiMendengarRakyat, #KitaDukungJokowi sebagai bentuk dukungan ke pemerintah.

"Dari semua tagar itu, volume percakapan tagar yang mengkritik jauh lebih besar dari tagar dukungan. #ReformasiDikorupsi paling tinggi, diikuti #TurunkanJokowi dan #DiperkosaNegara. Tagar dukungan yg paling ramai adalah #SayaBersamaJokowi. Lainnya volume sangat kecil,"ulasnya.

Peta Social Network Analysis (SNA) dari semua tagar memperlihatkan bagaimana user Twitter berkelompok berdasarkan isu yang diangkat. Ada 4 cluster: Pro Rezim dan Give Away, GenZ/K-Poppers, Aktivis, dan Oposisi. Semua tagar yang mendukung berada di klaster Pro pemerintah. Sementara yang mengkritik membentuk 3 klaster.

Hal yang mengejutkan adalah Tagar #DiperkosaNegara membentuk klaster dengan lead oleh akun @awkarin dan @BEAUTIFULYOONGO. Network mereka adalah GenZ dan fans K-Pop.

Tagar #TurunkanJokowi oleh Oposisi, dan #ReformasiDikorupsi oleh para aktivis dan artis seperti @ernestprakasa, @Arie_Kriting, @Dandhy_Laksono, dan lainnya.

Sedangkan 4 tagar lainnya yang mendukung pemerintah, semua bersatu dalam satu klaster. Top influencer terdiri dari akun @permadiaktivis, @Dwiyana_DKM, @BiLLRaY2019, @BamsBulaksumur.

"Ini sebuah nuansa aksi mahasiswa yang sangat baru, jauh berbeda dengan 1998. Sama-sama peduli, tanpa meninggalkan minat mereka pada Kpop. Strategi menghadapi mereka harusnya tidak konvensional. Bukan melalui kekerasan. Tetapi kreativitas,"sarannya.(id)