Iklan paling sering muncul, PSI malah kalah di Pemilu 2019

JAKARTA (IndoTelko) - Kejutan dihasilkan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Gencar beriklan di televisi nasional ternyata tak menjamin sebuah kemenangan bagi peserta Pemilu. Setidaknya itu terlihat dari nasib Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Mengutip siaran pers (17/4) dari Ketua Umum PSI Grace Natalie, terlihat bendera putih sudah dikibarkan oleh partai yang mengklaim dirinya sebagai representasi generasi milenial ini.

"Hasil quick count lembaga kredibel memperlihatkan bahwa rakyat Indonesia telah mengambil keputusan. Sambil menunggu real count sebagai standar konstitusional, kita sudah bisa mengambil kesimpulan mengenai hasil pemilu kali ini," kata Grace.

Diungkapkannya, menurut quick count, PSI mendapat perolehan suara 2%. Hasil ini menjadikan PSI tidak akan berada di Senayan lima tahun ke depan.

"Kami telah berjuang dengan apa yang kami bisa. Tidak, kami tak akan menyalahkan siapa-siapa. Kader kami, pengurus PSI, Caleg kami, telah bekerja keras siang dan malam meyakinkan rakyat. Tapi inilah keputusan rakyat melalui mekanasime demokrasi yang harus kami terima dan hormati. Perlu dicatat, perolehan PSI 2% atau sekitar 3 juta suara. Ini adalah suara rakyat yang harus diperhitungkan," katanya. 

Paling Banyak    
Padahal, jika merujuk kepada hasil produk monitoring iklan televisi milik PT SIGI Kaca Pariwara, Adstensity, sepanjang masa kampanye terbuka, iklan PSI paling banyak muncul di televisi sejumlah 1.277 iklan dengan total belanja Rp42,84 miliar

Adstensity mencatat data statistik di atas berdasarkan rekaman semua iklan televisi di 13 stasiun tv nasional yakni RCTI, SCTV, Indosiar, MNC TV, TransTV, Trans7, Global TV, MetroTV, TVOne, ANTV, Kompas TV, Net TV, dan TVRI. 

"Adstensity mencatat volume iklan dan harga iklan sesuai dengan data yang dipublikasikan (publish rate), sehingga nilai yang tercatat adalah nilai bruto. Nilai-nilai data yang disajikan hanya yang berada di dalam waktu jeda iklan (commercial break)," kata CEO SIGI Kaca Pariwara A Sapto Anggoro dalam keterangan, akhir pekan lalu.

Hasil monitoring iklan televisi (TV) Adstensity menunjukkan total belanja iklan di 13 stasiun TV nasional pada kampanye terbuka Pemilu 2019 mencapai Rp602,98 miliar dengan total 14.234 iklan televisi (tvc). 

Data Adstensity ini menghitung iklan-iklan televisi di dalam jeda iklan (commercial break) dan tidak menghitung apabila ada iklan televisi yang dibuat dalam bentuk atau bagian dari sebuah program acara khusus.

Untuk pebelanja iklan televisi pada kategori partai politik ditempati oleh Partai Perindo dengan nilai Rp 82,73 miliar, yang mana Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo merupakan pemilik grup Media Nusantara Citra (MNC) dan memiliki 3 stasiun TV nasional, yaitu RCTI, MNC TV dan Global TV. Dari sisi iklan, Perindo berada pada posisi ke-2 dengan 1.220 iklan.

Selanjutnya posisi ke-3 yaitu Partai Hanura dengan 1.053 iklan dan belanja iklan sebesar Rp40,16 miliar. Posisi ke-4 dan ke-5 diraih oleh Partai NasDem dengan 800 iklan dengan belanja iklan Rp30,20 miliar, dan Partai Golkar dengan 659 iklan dengan belanja iklan sebesar Rp 35,46 miliar.

Partai Garuda menempati posisi ke-6 dengan 551 iklan. Selanjutnya di posisi ke-7 dan ke-8 ditempati oleh Partai Kebangkitan Bangsa dengan 532 iklan dan Partai Demokrat dengan 528 iklan. Posisi ke-9 dan ke-10  ditempati oleh PDI Perjuangan dengan 522 iklan dan PAN dengan 424 iklan. Catatan tersendiri untuk Partai Gerindra yang hanya muncul dengan 200 iklan senilai Rp 7,71 Miliar dan berada di urutan ke-16 partai yang beriklan di televisi.

Dari tiga besar partai-partai politik yang beriklan, iklan PSI paling banyak muncul di tiga stasiun televisi, yaitu Trans TV dengan total 192 iklan dan nilai belanja iklan Rp 4,06 miliar, Trans 7 sejumlah 191 iklan dengan nilai belanja iklan Rp 4,36 miliar, dan Indosiar dengan 185 iklan dengan nilai belanja iklan Rp 9,81 miliar. 

Sedangkan Partai Perindo beriklan terutama di tiga stasiun televisi, yaitu RCTI dengan total 276 iklan dan nilai belanja iklan Rp 31,04 miliar, MNC TV sejumlah 262 iklan dan nilai belanja iklan RP 20,16 miliar, serta Global TV sebanyak 261 iklan dengan nilai belanja iklan Rp 14,44 miliar. 

Sementara itu, Partai Hanura banyak beriklan di tiga stasiun televisi, yaitu di TV One dengan total 205 iklan dan nilai belanja iklan Rp 7,87 miliar, ANTV dengan total 196 iklan dan nilai belanja iklan Rp 12,09 miliar, dan TVRI dengan total 184 iklan dan nilai belanja iklan Rp 1,11 miliar.

Capres 
Untuk kategori pasangan capres-cawapres, selama periode Kampanye Terbuka 2019 iklan pasangan Capres-Cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin paling sering tampil di televisi dengan 2.031 iklan senilai total belanja iklan Rp 89,27 miliar dibandingkan dengan pasangan Capres-Cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dengan 1.467 iklan senilai total belanja Rp 76,09 miliar.

Belanja iklan pasangan Capres-Cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin paling besar di tiga stasiun televisi yaitu RCTI dengan jumlah total Rp 13,68 miliar dari 194 iklan, disusul di SCTV dengan jumlah total Rp 11,84 miliar dari 170 iklan, dan MNC TV senilai Rp 10,97 miliar dari total 199 iklan. 

Sedangkan pasangan Capres-Cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno paling banyak di tiga stasiun televisi, yaitu SCTV dengan total belanja Rp 16,84 miliar dari 189 iklan, Indosiar dengan total Rp 13,40 miliar dari 174 iklan, dan di RCTI dengan total Rp 7,71 miliar dari 136 iklan.

Apabila dilihat total pendapatan media televisi dengan pendapatan terbesar adalah SCTV sebesar Rp. 108,53 miliar. Stasiun televisi ke-2 adalah Indosiar dengan Rp. 97,72 miliar, Posisi ke-3 dengan TVOne dengan Rp. 82,49 miliar dan ke-4 RCTI Rp. 60,69 miliar  Selanjutnya ANTV pada posisi ke-5 yang pendapatan sebesar Rp46,29 miliar. Posisi ke-6 yaitu Metro TV dengan pendapatan Rp46,11 miliar. Disusul MNC TV pada posisi ke-7 dengan pendapatan sebesar Rp40,66 miliar.

Global TV di posisi ke-8 dengan pendapatan Rp. 39,98 miliar. Posisi ke-9 dan ke -10 adalah Trans TV dengan pendapatan Rp.24,86 miliar dan Kompas TV dengan pendapatan Rp. 24,75 miliar. Posisi ke-11 sampai dengan ke-13 adalah Trans 7 dengan pendapatan Rp.18,10 miliar. TVRI dengan pendapatan Rp.7,26 miliar dan NET dengan pendapatan Rp. 5,53 miliar.(id)