"Perang Kartu" di debat Cawapres 2019

KTP elektronik yang diperlihatkan Cawapres Sandiaga Uno kala debat Cawapres 2019.(ist)

JAKARTA (IndoTelko) - Debat calon wakil presiden (Cawapres) 2019 yang menghadirkan KH. Ma'ruf Amin (KMA) dan Sandiaga Uno pada Minggu (17/3) malam menyajikan "Perang Kartu" yang lumayan menarik perbincangan warganet.

Istilah "Perang Kartu" tak bisa dilepaskan dari aksi Cawapres dari No 01 KH. Ma'ruf Amin (KMA) yang memamerkan tiga "Kartu Sakti" jika dirinya bersama dengan Calon Presiden Joko Widodo (Jokowi) diberi kepercayaan memimpin Indonesia untuk 2019-2024.

Dalam penyampaian visi misinya, KMA di bidang kesehatan dipastikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) akan berlanjut, begitu juga Program Keluarga Harapan (PKH), dan beasiswa di pendidikan.

"Kami akan mengeluarkan tiga kartu, Kartu KIP Kuliah, Kartu Sembako Murah, Kartu Pra Kerja, ini kartu yang akan kami keluarkan itu. Untuk apa kartu ini, supaya anak-anak miskin bisa kuliah, supaya ibu-ibu bisa berbelanja dengan murah ,supaya mudah untuk mendapatkan kerja. Kenapa, karena pemerintah telah menyediakan tempat latihan dan tempat kursus secara gratis," katanya.

Sandiaga pun tak mau kalah. "Kita ingin budaya Bhinneka Tunggal Ika dan toleransi menjadi warisan kita dan membuka lapangan kerja. Seluas luasnya. Untuk semua layanan daripada pemerintah kita tidak ingin merepotkan dan membebani negara dengan menerbitkan kartu kartu yang lain, mari kita ambil dompet masing-masing, dompet kita keluarkan ibu ibu yang di rumah terutama bapak bapak semua anak muda keluarkan satu kartu yang sudah semua kita miliki yaitu Kartu Tanda Penduduk KTP ini super canggih," kata Sandi.

Menurut Sandi, KTP elektronik (e-KTP) sudah memiliki chip teknologi di dalamnya yang akan memudahkan era revolusi industri 4.0 dengan big data dan single identification number.

"Semua fasilitas layanan baik ketenagakerjaan,pendidikan,kesehatan semua rumah siap kerja bisa diberikan. PKH kita akan tambah jadi PKH Plus. Di dalam program yang hanya membutuhkan KTP ini. Ini menjadikan kartu kami," tutupnya.

Ideal
Menurut Ketua Umum Indonesian Digital Empowerment Community (IDIEC) M. Tesar Sandikapura ide Sandi menjadikan e-KTP lebih "powerfull" sudah sesuai dengan tujuan awal dari kartu itu dirancang.

"Dulu itu penerapan Single Identity Number (SIN) adalah tujuan akhir dari e-KTP. Penerapannya akan ke Public Key Infrastructure (PKI) dan Digital Signature. Maunya kan e-KTP itu chip-nya yang menyimpan DATA, sehingga bisa menggantikan beberapa kartu konvensional yang masih statis," jelasnya di Jakarta Senin (18/3).

Direktur Indonesia ICT Institute Heru Sutadi menambahkan memang menjadi pertanyaan di kalangan profesional Teknologi Informasi pemerintah banyak menerbitkan kartu padahal e-KTP idealnya sudah bisa menjadi kartu sakti bagi masyarakat layaknya di negara maju.

"Identity card di banyak negara masih berbentuk kartu tapi bukan kartu tanda penduduk melainkan kartu terintegrasi penduduk," tukasnya.(dn)