Soal Industri 4.0, Jokowi atau Prabowo yang unggul?

JAKARTA (IndoTelko) - Debat pemilihan Presiden (Pilpres) putaran kedua pada Minggu (17/2) memunculkan perdebatan tentang Revolusi Industri 4.0 (Industri 4.0).

Semua  berawal dengan pertanyaan yang dibacakan moderator ke Calon Presiden No 01 Joko Widodo (Jokowi).

"Kita akan beralih ke tema energi dan pangan. ini adalah tabung yang telah dipilih oleh calon Presiden nomor urut 01 akan saya bacakan. waktunya masih sama seperti tadi, dua menit, dan masing masing diberikan kesempatan untuk menanggapi satu menit. baik. Pertanyaannya adalah, saat ini kita memasuki revolusi industri 4.0 yang ditandai antara lain dengan berkembangnya internet, kecerdasan buatan, drone, dan robot yang menimbulkan dampak signifikan pada aspek ekonomi sosial dan budaya. Pertanyaannya, apa strategi Bapak menghadapi revolusi industri 4.0 di sektor pertanian, perikanan, dan peternakan yang sebagian besar pelakunya masih skala kecil dan tradisional?" tanya moderator.

Jokowi pun tangkas menjawab denganmenyatakan dalam revolusi industri 4.0 ini akan mengandalkan  kecepatan internet yang sangat tinggi, artificial intelligent (AI), internet of things, Big Data, hingga advan robotics. 

"Saya meyakini bahwa dengan persiapan pembangunan sumber daya manusia kita akan bisa mempersiapkan bangsa kita menuju revolusi industri 4.0. sebagai contoh misalnya petani. Perlunya petani dikenalkan pada yang namanya marketplace sehingga mereka bisa berjualan secara online. sehingga hubungan antara petani dengan konsumen ini semakin dekat. Menyiapkan juga usaha-usaha kecil, usaha-usaha mikro, usaha supermikro untuk tahu bagaimana mereka bisa memanfaatkan online sistem ini. Sehingga membangun ekosistem offline dan membangun ekosistem online sangat diperlukan dalam waktu yang sangat cepat. inilah proses-proses yang terus kita kerjakan di lapangan. sehingga kita tidak tertinggal dengan negara negara lain dalam menyongsong revolusi industri 4.0," katanya.

Jokowi menambahkan infrastruktur kabel laut Palapa Ring sudah dibangun di Indonesia bagian Barat bagian Timur bagian tengah semuanya hampir sudah 100%.  Begitu juga adopsi sistem 4G, yang telah mencapai 74% kabupaten kota. "Tahun ini saya kira kalau ini selesai kita akan gampang masuk sekali," optimisnya.

Capres No 02, Prabowo Subianto pun menangkis jawaban Jokowi. "Kita sama-sama memahami dahsyatnya perkembangan industri 4.0 yang akan datang dengan artificial intelligence, robotik ini akan berdampak. suatu pabrik yang punya biasanya pabrik mobil di Jerman yang punya lima belas ribu pekerja bisa diganti sekarang dengan robot-robot dan hanya membutuhkan kurang dari lima puluh orang bekerja. Ini akan berdampak, tapi inti yang saya ingin sampaikan adalah kita bicara industri 4.0. kita sekarang masih belum bisa membela petani petani kita sendiri. Ini yang kita masalahkan. Kita juga belum bisa menjamin harga harga pangan terjangkau oleh rakyat kita. ini yang saya permasalahkan. bagus kita bicara industri 4.0 tapi saya lebih ingin menjamin bahwa Indonesia bisa menyediakan pangannya sendiri tanpa impor-impor dari negara manapun," tegas Prabowo.

Jokowi pun tak ragu membalas pernyataan Prabowo. "Kalau saya melihat dengan pembangunan sumber daya manusia yang tadi saya sampaikan. Saya meyakini bahwa kita akan menyongsong revolusi industri 4.0 itu dengan optimis. Coba kita lihat, sekarang ini produk-produk petani sudah masuk ke marketplace TaniHub," ungkapnya.

Jokowi mengungkapkan TaniHub sudah memasarkan produk-produk petani dari produsen langsung ke konsumen sehingga harganya bisa dipangkas. Begitu juga kredit-kredit yang dilakukan oleh fintech peer to peer yang juga sudah langsung bisa dilakukan kepada para petani. "Saya kira itu hal yang konkrit yang lebih justru membuka kesempatan bagi petani-petani kita untuk melompat dalam berproduksi karena diberikan harga yang lebih baik. tidak lewat agen agen di tengah yang terlalu banyak," tukasnya.

Salah Kaprah
Pengamat Telekomunikasi Heru Sutadi melihat meskipun paparan dari Jokowi terkesan "paham" dengan istilah Industri 4.0, tetapi dalam wacananya banyak salah kaprah.

"Revolusi Industri 4.0 perlu dihitung dampaknya seperti apa karena tidak semua bisa melompat ke 4.0, sebab industri kita yang tergolong 2.0 juga masih banyak. Belum lagi soal SDM atau tenaga kerja yang akan mengalami perubahan ketika smart factory/robot/otomatisasi diimplementasikan. Capres 02 itu dia bicara filosofisnya, kalau 01 dia mau menunjukkan kenal istilahnya, tetapi seperti tak match dengan tujuan Industri 4.0, apalagi dikaitkan dengan pertanian yang mana tujuan revolusi itu adalah produktivitas dan efisiensi, baru ke penjualan," ulasnya.

Menurutnya, pemanfaatan industri 4.0 untuk pertanian harusnya arahnya bukan ke marketplace tapi harusnya bagaimana memanfaatkan seperti Internet of Things untuk pertanian, termasuk peternakan, perkebunan dan lainnya.

Ketua Dewan Pembina Indonesian Digital Empowerment Community (IDIEC) Mochamad James Falahuddin mengaku seperti dejavu menonton perdebatan soal Industri 4.0 yang diperlihatkan kedua Capres.

"Saya merasa kembali seperti 2014, dimana Pak Jokowi bicara Teknologi Informasi (TI) kala itu dengan lantang bicara, panggil programmer, dua minggu selesai atau terbangkan drone untuk jaga perbatasan. Jargon ini diulang lagi seolah-olah beliau paham sekali digitalisasi dengan cara menjawab tentang Revolusi Industri 4.0. Sementara Pak Prabowo saya lihat tak mampu mengeksplorasi gagasannya yang mengingatkan dampak dari Revolusi Industri 4.0. Kesimpulan saya, isu ini hanya jargon untuk menarik kalangan milenial," pungkasnya.(dn)