Cara Telkomsel besarkan TCASH

JAKARTA (IndoTelko) – Telkomsel termasuk salah satu pionir dalam bermain uang elektronik (e-Money) di tanah air melalui TCASH.

TCASH yang masuk dalam bisnis digital di anak usaha Telkom itu bisa dikatakan sebagai satu-satunya e-Money milik operator seluler yang masih bertahan di tengah kepungan pemain baru seperti OVO atau GO-PAY yang tengah merajai pasar.

Menutup akhir 2018, TCASH telah sukses menjangkau lebih dari 30 juta pelanggan lintas operator telekomunikasi di 34 provinsi di Indonesia, dengan lebih dari 20 juta transaksi bulanan yang berasal dari layanan di lebih dari 75.000 merchant outlets. 

Sebuah pencapaian luar biasa jika dibandingkan Indosat yang memilih mundur teratur dari bisnis e-Money dengan melakukan managed service Dompetku (e-Money Indosat) ke PayPro atau XL Tunai yang masih meragu dikembangkan XL Axiata seiring adanya aturan Bank Indonesia tentang batas kepemilikan asing untuk pemilik  e-Money.

“Kami memiliki cara berbeda dengan para startup dalam mengembangkan TCASH. Kita tidak mau terjebak dengan “bakar-bakaran” uang seperti lakukan subsidi harga atau jor-joran dalam akuisisi merchant. Kita kembangkan TCASH tetap dengan menjaga profitabilitas dan revenue,” ungkap Direktur Keuangan Telkomsel Heri Supriadi, belum lama ini.

Heri menjelaskan, Telkomsel melakukan reborn dari TCASH sejak beberapa tahun lalu dan pada 2017 mulai memisahkan kantornya dari Telkomsel. 

“Itu agar mereka bisa lebih agile dan cepat dalam bertindak karena bisnis ini butuh kecepatan. Tetapi untuk ke arah pemisahan harus dikaji dulu secara matang, sekarang biarkan berkembang dulu,” ulasnya.

Optimalkan
CEO of TCASH Danu Wicaksana mengungkapkan dalam mengembangkan layanan eMoney, TCASH mengoptimalkan infrastruktur yang dimiliki Telkomsel. 

Mulai dari kekuatan infrastruktur jaringan, networking sebagai anak usaha Telkom, hingga posisi sebagai salah satu flagship eMoney milik BUMN.

“Kita memang tak ikut-ikutan dalam bakar-bakaran duit. Kalau dilihat, TCASH mainnya sangat spesifik seperti di segmen transportasi, bayar tagihan, branchless banking, dan lainnya,” katanya.

Asal tahu saja, TCASH baru saja menjadi salah satu uang elektronik yang mendukung uji coba digitalisasi penyaluran pembiayaan kredit Ultra Mikro (UMI).

Program ini merupakan sinergi TCASH bersama Kementerian Keuangan, BAKTI Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta Lembaga keuangan digital lainnya, yang diluncurkan secara resmi pada Selasa (11/12). 

Sebagai target wilayah uji coba, TCASH menyasar masyarakat anggota koperasi di kawasan Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, dimana penyaluran kredit UMI ini diarahkan sebagai pembiayaan modal bisnis anggota koperasi, khususnya untuk pengembangan Konter Pembayaran Resmi Bang TCASH di wilayah tersebut.

Layanan penyaluran pembiayaan kredit UMI akan turut serta melengkapi beragam layanan lainnya yang telah dihadirkan TCASH, seperti pembelian paket pulsa dan data, pembayaran tagihan (tagihan air bersih di 155 kota, BPJS, listrik, internet), donasi digital, pengiriman dana antar-pengguna (peer-to-peer transfer), pembayaran parkir dengan aplikasi Parkee.

Berikutnya pembayaran transportasi, seperti pembelian tiket kereta api lokal Bandung Raya melalui aplikasi KAI Access, kereta bandara Railink di Soekarno-Hatta Cengkareng dan Kualanamu Medan, BRT Semarang, taksi Bluebird, dan pembelian tiket melalui aplikasi Tiket Damri Bandara di wilayah Jakarta dan sekitarnya,pembelian micro insurance Sun Life, remitansi domestik dan internasional, linked-account, bersama BTPN, BTN, dan Bank BNI; hingga pembelian BBM secara non-tunai di 230 SPBU Pertamina, serta SPBU Total.

“Layanan penyaluran pembiayaan kredit UMI ini sejalan dengan fokus bisnis TCASH di tahun mendatang, yaitu pemberdayaan masyarakat di segmen underbanked melalui kemudahan akses terhadap layanan keuangan. Kami optimis layanan ini dapat diterima dengan baik dan turut membantu pengembangan bisnis lokal masyarakat di Lombok Timur. Ke depannya, kami akan memperluas cakupan wilayah penyaluran pembiayaan kredit UMI menggunakan TCASH ini ke wilayah lainnya di pelosok negeri, seperti Medan, Semarang, Yogyakarta, dan Probolinggo,” tutup Danu.(tp)