Industri seluler diperkirakan tumbuh 3% di 2019

JAKARTA (IndoTelko) - Industri seluler diperkirakan mulai pulih pada 2019 dimana diperkirakan mengalami pertumbuhan 3% dibandingkan 2018.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Giovanni Dustin dalam kajian yang diterbitkan 10 Desember 2018 memprediksi walaupun data yield tak akan naik di 2019, tetapi  pertumbuhan pendapatan industri seluler akan berubah positif pada 2019, mencapai sekitar 3% YoY.

"Kami berharap pertumbuhan konsumsi data industri tetap kuat (sekitar 60% YoY di 2019) di tengah migrasi data yang berlanjut. Bahkan dengan turunnya pendapatan suara dan SMS, pertumbuhan pendapatan  tetap sehat, selama pertumbuhan konsumsi data yang kuat terus berlanjut," tulisnya dalam kajian itu.

Diungkapkannya, sejumlah operator besar telah meningkatkan harga paket datanya pada Desember 2018. XL telah meningkatkan harga Xtra quota sebesar 20%. Indosat juga telah meningkatkan harga beberapa paketnya sekitar 10% (hanya untuk pembelian paket melalui modern channel). Sebaliknya, Telkomsel memberikan bonus kuota data untuk beberapa paketnya.

Namun, kenaikan data yield setelah berakhirnya registrasi prabayar lebih didasarkan pada "itikad baik" antar operator yang bisa berakhir apabila churn rate tidak bisa turun sampai single digit. Kondisi sekarang semua operator lebih memprioritaskan subscriber market share daripada revenue market share (khususnya di luar Jawa).

Tingkat churn industri telah menurun dari sekitar 16-19% menjadi sekitar 11-14%. Penurunan terlihat agak marjinal, yang menyiratkan kelemahan pada tingkat penegakan. Penurunan juga telah melampaui harapan operator, awalnya mereka mengharapkan tingkat churn untuk turun ke high single digit.

Kunci sukses dari registrasi prabayar adalah pemerintah harus lebih tegas di tingkat penegakan hukum.  

Kompetisi
Hal yang menarik adalah melihat pertarungan Telkomsel, XL, dan Indosat untuk pasar di luar Jawa pada 2019.  Dengan EXCL mempertahankan agresifitas (network rollout yang agresif plus  harga kompetitif) di luar Java, diperkirakan operator ini bisa meningkatkan pangsa pasar pelanggannya di luar Jawa. Namun, kami percaya bahwa XL akan mengambil subcribers Indosat,  bukan Telkomsel. 

Dominasi Telkomsel diperkirakan masih sulit digoyang di luar Jawa karena diuntungkan sebagai pemain pertama di kawasan tersebut, lanskap regulasi interkoneksi yang belum berubah, dan tidak adanya memiliki tingkat interkoneksi yang tinggi dan tidak adanya mobile number portability di Indonesia.

Bagi investor ritel, disarankan karena ketidakpastian di sektor data untuk melakukan pendekatan bottom-up daripada pendekatan dari atas ke bawah. Di 2019, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) masih menjadi pilihan utama untuk dikoleksi sahamnya.(id)