Rudiantara sarankan industri keuangan adopsi Blockchain

Rudiantara.(dok)

JAKARTA (IndoTelko) - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menyarankan industri keuangan, khususnya perbankan, untuk mengadopsi teknologi Blockchain sebagai bagian dari transformasi digital dalam memberikan layanan ke nasabah.

"Saya tengah dorong lebih dalam mengenai penggunaan Blockchain di industri keuangan. Terlebih lagi, kami telah mempelajari bahwa Blockchain adalah teknologi yang sangat berhubungan dengan industri ini. Terkadang kita memang dituntut mampu mengalami beberapa hal seperti penggunaan sistem tradisional dan bisnis model baru yang mungkin beberapa orang akan menganggapnya sebagai perusak sistem pembayaran tradisional," katanya seperti dikutip dari laman Kominfo belum lama ini.

Diungkapkannya, secara resmi sebagai Menkominfo telah menjelaskan mengenai penggunaan Blockchain untuk pembayaran pajak di Indonesia. "Tapi saya belum melihat dunia perbankan Indonesia untuk memanfaatkan teknologi blockchain," katanya.

Menurutnya, tantangan dunia perbankan saat ini adalah pengelolaan bisnis tradisional dan model bisnis baru. "Proses bisnis tradisonal yang selalu prudency, secrecy, sementara model bisnis fintech atau e-money cenderung disruptif karena faktor teknologi," katanya.

Diakuinya ada banyak risiko dalam pengelolaan keuangan, mulai dari fraud naik karena manajemen, user, pengambilalihan akun atau pencucian uang serta pencurian identitas. Namun, banyak teknologi digital yang akan memudahkan dan membantu industri keuangan seperti  Artificial Intelligence, Blockchain, dan machine learning.

Isu Keamanan
Lebih lanjut Rudiantara mengingatkan pentingnya keamanan informasi (security) dalam pengelolaan industri keuangan dan perbankan.   

Berdasarkan data, jika pada tahun 2010 transaksi cashless di seluruh dunia mencapai hampir US$ 300 Miliar, maka pada tahun 2020 diestimasikan transaksi tersebut mencapai lebih dari US$ 700 Miliar.

"Khusus untuk negara-negara berkembang di Asia, termasuk Indonesia, kenaikan itu di tahun 2020 akan mencapai sekitar US$ 650 miliar dari sebelumnya di tahun 2010 sebesar US$ 250 miliar," katanya.

Mengutip sumber UBS 2018, Menkominfo menyebut pertumbuhan untuk transaksi dengan uang non-cash di negara-negara berkembang Asia tumbuh 30% pertahun dari tahun 2015 hingga 2020.

Isu keamanan teknologi informasi menjadi perhatian penting untuk semua industri yang menggunakan teknologi, terutama industri keuangan. Berdasarkan data yang dipaparkan oleh  2018 Security Report, Check Point, di masa lalu sebanyak 64% lembaga-lembaga keuangan di seluruh dunia pernah dijebol lewat serangan cyber. Termasuk perusahaan-perusahaan juga oernah dijebol. Bahkan menurut sumber tersebut semua bisnis pernah kena jebol lewat cyber mobile.

"Apalagi sebagian besar transaksi keuangan digital berlangsung di negara-negara Emerging Asia yang masih mengalami kerentanan serang siber," kata pungkasnya.(wn)