TiPhone bersiap terbitkan obligasi Rp2 triliun

Sekretaris Perusahaan TIPhone Semuel Kurniawan.(dok)

JAKARTA (IndoTelko) - PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk(TELE) bersiap menerbitkan obligasi melalui penawaran umum berkelanjutan (PUB) sebesar Rp2 triliun pada tahun ini.

Obligasi akan diterbitkan dalam dua tahap. Tahap pertama, perseroan berencana merilis obligasi senilai Rp1,2 triliun terlebih dahulu.

"Kami akan emisi senilai Rp1,2 triliun dari total Rp2 triliun. Dipertengahan tahun ini akan kami realisasikan,"ujar Sekretaris Perusahaan TIPhone Semuel Kurniawan, di Jakarta, Kemarin.

Dana hasil emisi obligasi tahap pertama akan dialokasikan untuk pelunasan utang perseroan yang jatuh akan tempo. "Kami berencana refinancing utang, karena ada utang peruasahaan yang akan jatuh tempo pada bulan Juli ini," ungkapnya.

Saat ini rasio utang perseroan masih sesuai dengan guidance perbankan yang ada. Terkait proses obligasi saat ini, masih menunggu hasil dari lembaga pemeringkat terkait rating atas obligasi tersebut.

"Kalau berjalan lancar, minggu ini sudah keluar rating obligasi itu," jelasnya.

Sementara sisa PUB ini yang senilai Rp800 miliar dari total Rp2 triliun, diprediksi akan diluncurkan pada tahun depan. Hal itu mengingat ada kebutuhan atau utang yang akan jatuh tempo senilai Rp200 miliar pada tahun 2019.

"Kami ada utang jatuh tempo besarannya Rp200 miliar tahun depan. Kemungkinan tahun depan kami akan emisi Obligasi lagi," pungkasnya.  

Target
Sementara Direktur Keuangan TiPhone Meijaty Jawidjaja mengaku optimis bisa mencatatkan pertumbuhan sekitar 10% dibandingkan 2017 atau beradai di angka Rp31 triliun pada 2018.

"Kami menargetkan pertumbuhan pendapatan 10% tahun ini. Itu akan disumbang dari penjualan prepaid voucher dan card," katanya.

Semuel Kurniawan menambahkan ada beberapa faktor bisa mempengaruhi kinerja keuangan terutama di sisi laba bersih.

"Kami lihat 2018 kalau terlalu optimistis itu kami takut karena ada Pilkada. Kedua, iklim politik karena kan kita tidak tahu politiknya akan tenang atau politiknya akan chaos. Apalagi bisnis kan selalu bersinggungan dengan politik," ungkapnya.

Sekadar informasi, pada 2017 lalu perseroan juga harus menerima laba bersihnya turun sebesar 10% dari Rp468 miliar. Padahal, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp27,91 triliun pada akhir 2017, tumbuh 2,21% dari Rp27,31 triliun pada 2016.

Penjualan berasal dari penjualan voucher dan prepaid card senilai Rp20,69 triliun, penjualan telepon genggam senilai Rp7,21 triliun, dan lainnya Rp1,18 miliar.(ak)