GO-JEK, ridehailing terfavorit di Indonesia

JAKARTA (IndoTelko) - ecommerceIQ mengungkapkan aplikasi ridehailing besutan GO-JEK menjadi terfavorit untuk on demand service transportasi di Indonesia.

Hal itu terlihat dari Consumer Pulse by ecommerceIQ yang menjadi sebuah serial mengupas perilaku konsumen atau pengguna suatu produk secara lebih mendalam dan mengubah temuan tren dan perilaku tersebut mereka menjadi sebuah strategi bisnis.

Pada bulan Januari 2018, ecommerceIQ melakukan survei yang diikuti oleh 515 orang di kota-kota besar di Indonesia, untuk mencari tahu transportasi berbasis aplikasi mana yang menjadi pilihan orang Indonesia.

Tim melakukan survei online terhadap 515 orang (46% pria, 54% perempuan) di kota besar di Indonesia - Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Beli, Nusa Tenggara Barat hingga Papua.

GO-JEK menjadi favorit di antara responden survei (56%) dan orang Indonesia sejak didirikan pada tahun 2010.

Perusahaan teknologi Indonesia pertama yang telah meraih gelar unicorn ini mengawali bisnisnya dari call center dengan hanya memiliki 20 pengemudi hingga sekarang mencapai lebih dari 654.000 pengemudi di 50 kota di Indonesia.

Grab berada dalam urutan kedua dengan dukungan 33%, Uber di urutan terakhir dengan 8%, serta 3% responden melaporkan bahwa mereka sama sekali tidak menggunakan transportasi berbasis aplikasi.

Pemicu
Saat mempertimbangkan hasil ini, ada beberapa faktor yang mempengaruhi rangking bagi aplikasi menduduki posisi penting di hati responden yakni menjadi penggerak pertama (Go-Jek), memiliki jangkauan terbesar (Grab), momen masuk ke pasar,(Go-Jek Oktober 2010, Grab Juni 2014, Uber Agustus 2014), dan lokasi responden.

Beberapa bulan yang lalu, Grab mengumumkan ekspansi ke 100 kota di Indonesia, menjadikannya pemain dominan di negara ini. Sementara itu, Go-Jek dan Uber hanya bisa diakses di 50 kota dan 34 kota di Indonesia.

Alasan
Sementara dari hasil survei ditemukan alasan utama responden memilih menggunakan ridehailing karena alasan “safety” atau keamanan sebagai faktor utama saat memilih aplikasi mana yang akan mereka gunakan.

Studi dari eIQ menunjukkan bahwa kebanyakan dari responden (26%) mementingkan keamanan dibandingkan dengan fitur lain ketika memilih aplikasi mana yang akan mereka gunakan.

Alasan kedua yang paling populer dan tidak mengejutkan mengapa orang menggunakan satu aplikasi bergengsi di atas yang lain adalah kemudahan menemukan driver atau pengemudi (23%).

Sisa dari alasannya adalah sebagai berikut: Promosi dan diskon yang sering (22%),     Navigasi yang mudah dalam aplikasi (16%), Banyak pilihan pembayaran (5%),Pilihan makanan yang beragam (3%), Customer service yang ramah (3%), dan Loyalty rewards (2%).

Konsumen juga menunjukkan bahwa mereka tidak menyukai fitur e-wallet. Tidak mengherankan karena tidak ada penggunaan yang meluas selain dari aplikasi layanannya sendiri.

Sebanyak 46% responden mengaku memiliki dua aplikasi terpasang di ponsel pintar mereka. 23 % responden memiliki tiga aplikasi yang terpasang, 29% memiliki satu aplikasi dan 2% tidak menggunakan aplikasi apapun.

Harga dan promo juga membawa lebih banyak bobot setelah Kementerian Perhubungan mengumumkan tarif dasar untuk semua layanan taksi online; Rp3 ribu - Rp 6 ribu per kilometer di wilayah Jawa, Bali, dan Sumatra. Untuk Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua, tarifnya lebih besar yaitu Rp 3.700 - Rp 6.500 per kilometer.

Berdasarkan penelitian eIQ, tarif bervariasi di antara masing-masing aplikasi. Go-Jek mematok harga Rp 45 ribu untuk jam sibuk, yang lebih mahal dibandingkan dengan Grab and Uber yang menawarkan tingkat lonjakan hingga Rp 32,500 dan Rp 28 ribu. Tarif berdasarkan perjalanan sepanjang 15 km yang tim eIQ coba untuk masing-masing aplikasi selama jam sibuk.(wn)