Penetrasi Sharing Economy kian deras ke aktifitas konsumen

JAKARTA (IndoTelko) – Penetrasi dari “sharing economy” yang dinisiasi startup seperti Go-Jek, Grab, Uber, Airbnb, Lazada, dan Tokopedia telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari aktifitas konsumen di Indonesia.

Analis dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia Mangesti Diah Sulistiani dalam kajian on Trend Focus: The rise of the “sharing economy” menilai para startup telah mengenalkan orang pada bentuk sharing baru, berkolaborasi, transaksi peer-to-peer, dan lainnya.

“Jenis model bisnis ini, yang telah menyebar ke sebagian besar sektor bisnis di seluruh dunia, mencirikan apa yang kemudian disebut "ekonomi bersama" (konsumsi kolaboratif),” tulisnya dalam kajian itu (8/2).

"Ekonomi bersama" mengacu pada kegiatan peer-to-peer yang melibatkan kolaborasi dan berbagi akses terhadap aset dan layanan melalui platform online. Dengan kata lain, ‘ekonomi bersama’ atau ‘konsumsi kolaboratif’ adalah model yang ditujukan untuk mengoptimalkan utilitas konsumen dalam kerangka teknologi berbasis digital baru.

Menurutnya, akses internet sangat penting bagi bangkitnya ‘ekonomi bersama’, karena internet memberi konsumen kemampuan untuk bertukar informasi (file sharing).

Faktor utama kedua dalam munculnya ‘ekonomi bersama’ adalah adopsi perangkat seluler yang meluas, yang memudahkan akses informasi kapan dan dimana saja. Yang terakhir, kemunculan platform pasar internet telah menciptakan cara baru untuk menghubungkan konsumen dan pengusaha.

“Karena ekonomi berbagi kini tidak dapat dipisahkan dari aktivitas sehari-hari orang Indonesia, kami percaya tren tersebut telah berhasil menembus aktivitas konsumen,” tutupnya.

Asing
Sementara Direktur Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengingatkan Indonesia jangan hanya menjadi pasar dari ekonomi gaya baru itu. “Saya bertanya, siapa yang merasakan manfaat besar dari sisi kapital dan nilai keekonomian dari fenomena ini. Apa benar negara kita merasakannya. Coba cek saja itu pemodal dari startup yang dibilang Unicorn lokal,” tukasnya.

Heru menegaskan, dirinya tak berfikir sempit dan anti dana asing, tetapi sebagai anak bangsa dirinya tak rela jika populasi Indonesia yang besar hanya sekadar pasar. “Ini kita terlalu longgar dan tak sadar menjadi medan pertarungan para pemodal asing. Negara harus hadir mengatur semua ini,” tutupnya.

Sedangkan Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia Aulia E Marinto mengingatkan jika menginginkan ada peran dari investor lokal di strartup harus ada insentif yang jelas. “Jangan pula ada orang mau tanam modal, ditanya pula duit darimana nih. Lha itu yang asing siliweran duitnya tanpa bisa dijangkau. Kalau udah gitu, keder dong investor lokal,” pungkasnya.  

Asal tahu saja, dalam waktu 2016 - 2017 total dana asing yang masuk ke startup mencapai setidaknya US$2,76 miliar atau setara Rp 37,26 triliun. Diperkirakan pada tahun 2016 sebanyak US$ 37 juta (Rp 499,5 miliar) dan tahun 2017 mencapai US$ 2,39 miliar (Rp32,37 triliun).

Para  Unicorn alias startup dengan valuasi diatas US$ 1 miliar (Rp 13,5 triliun) banyak menikmati aliran dana asing yaitu Go-Jek, Traveloka, Tokopedia dan Bukalapak.  

Go-Jek mendapat suntikan dana US$ 1,2 miliar (Rp16,2 triliun). Dana ini berasal dari Tencent Holding Limited.  Tokopedia mendapatkan suntikan dana dari Alibaba Grup sebesar US$ 1,1 miliar (Rp 14,85 triliun).

Traveloka mendapatkan dana dari konsorsium investor Expedia, Sequoia dan JD.com sebesar US$ 350 juta (Rp 4,73 triliun).

Crunchbase mencatat pemodal dari Traveloka adalah Expedia Inc, Sequoia Capital asal AS, JD.com dan Hillhouse Capital Grup dari China. Ada juga East Ventures dari Jepang dan Global Founders Capital dari Eropa.

Tokopedia pemodalnya diantaranya Indonusa Dwitama yang tercatat sebagai investor dalam negeri. Indonusa menjadi investor awal Tokopedia yang menyuntikkan Tokopedia pada tahun 2009.

Pada tujuh putaran penghimpunan dana lainnya, pemberi dana adalah investor asing. Mayoritas berasal dari Jepang. Yakni, East Ventures, CyberAgent Ventures, Beenos Partners, SoftBank dan Telecom Corp. Sisanya, SoftBank Ventures dari Korea Selatan dan Alibaba Grup.

Bukalapak dikuasai Emtek Group 49,1%. Pemodal asingnya Gree Ventures, 500 Startup dan Queens Bridge Venture Partners.(dn)