Lima bulan, Bukareksa pikat 25 ribu investor

Business Development Manager Bukalapak Gahayu Handari (dok)

JAKARTA (IndoTelko) - Penjualan reksadana online, Bukareksa, yang dijual marketplace Bukalapak ternyata lumayan diminati investor.

“Fitur produk BukaReksa ini sudah dikenalkan sejak awal tahun ini dan kita sudah mencapai lebih dari 25 ribu pengguna hingga 5 bulan setelah peluncuran produk ini,” ujar Business Development Manager Bukalapak Gahayu Handari dalam Seminar “Reksa Dana – Produk Investasi Aman, Mudah dan Terjangkau”, kemarin.

Dikatakannya, Bukalapak sebagai online marketplace memberi kesempatan untuk para UKM dan masyarakat Indonesia untuk berinvestasi secara aman dan benar melalui fitur Reksa Dana Online, BukaReksa.   
 
Head of Fund Marketplace Bareksa Teddy Sunandar mengatakan sebenarnya banyak investor yang berminat untuk investasi namun belum memahami apa itu investasi. "Kita ingin mengajak masyarakat agar bisa lebih tahu tentang investasi secara benar," katanya.

Deputi Direktur Edukasi Direktorat Literasi dan Edukasi Keuangan OJK Jalius mengatakan daya beli akibat akumulasi capital yang cukup besar di masyarakat merupakan aset nasional yang harus dikelola dengan benar, agar tidak memicu konsumsi yang berlebihan atau melakukan investasi yang keliru dan tidak produktif.

Pertumbuhan ekonomi ini juga dinikmati masyarakat yang bergerak dalam usaha kecil dan menengah (UKM) maupun usaha lainnya. Disamping itu, seminar ini juga memberikan pemahaman mengenai keamanan investasi Reksa Dana serta pengelolaan investasi Reksa Dana.

“Masih banyak sekali pelaku investasi di Indonesia yang terjebak dan memanfaatkan jasa keuangan yang salah. Hal tersebut dikarenakan pengetahuan masyarakat terkait produk investasi masih minim. Oleh karena itu, masyarakat harus diberikan pemahaman terkait investasi, terutama mengenai legalitas investasi dan perlindungannya,” ujarnya.

Direktur Kebijakan dan Dukungan Penyidikan OJK Tongam L Tobing menambahkan maraknya kasus investasi bodong di tengah-tengah masyarakat Indonesia merupakan tanda rendahnya tingkat literasi terhadap produk investasi. Masyarakat hanya tergiur dengan imbal hasil yang sangat tinggi, tanpa mempertimbangkan aspek legalitas dan risiko. Karena itu, sebelum melakukan investasi, masyarakat perlu memastikan bahwa produk investasi tersebut

"Masyarakat perlu mengetahui profil risiko dirinya dalam berinvestasi, karena perlu dipahami bahwa imbal hasil yang tinggi tentunya akan membawa risiko yang tinggi pula,” ujarnya.(wn)