Belajar dari peluncuran satelit Telkom 3S

Pemasangan bendera Merah Putih di Fairing Roket Ariane 5 yang membawa satelit T3S (Foto:Arianespace)

Satelit Telkom 3S (T3S) milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) akhirnya diluncurkan ke angkasa menuju slot orbit 118 Bujur Timur oleh roket Ariane 5 pada 14 Februari 2017 dari Kourou, French Guiana pada jam 18.39  atau sekitar 04.40 WIB.

Roket Ariane 5 adalah milik Arianespace, wahana peluncur yang dipilih oleh Thales Alenia Space sebagai pembuat satelit Telkom 3S.

Telkom memang tak mau ambil resiko dalam meluncurkan satelit T3S ke angkasa. Hal itu bisa dilihat dari dipilihnya model kerjasama In Orbit Delivery (IOD) bukan On Ground Delivery (OGD) dengan Thales Alenia Space.

Asal tahu saja, di bisnis peluncuran satelit biasanya yang dipilih OGD bukan IOD. Dalam OGD, sang pemilik satelit bisa lebih fleksibel memilih mitra wahana peluncur kala satelit selesai dibuat. Tetapi dalam IOD, tanggung jawab pembuat satelit selesai kala satelit berada di slot orbitnya.

Telkom memilih model IOD bukan tanpa alasan. Belajar dari satelit Telkom 1 atau Telkom 2 yang meleset jadwal peluncuran atau apesnya satelit Telkom 3 yang gagal menuju orbit, tentunya untuk T3S yang menelan investasi US$ 215 juta ini tak mau ambil resiko.

Ditambah lagi, Kapling slot orbit 118 derajat bujur timur dari Persatuan Telekomunikasi Internasional (ITU) sedianya untuk 36 transponder C-band dan 13 transponder Ku-band. Namun, satelit Telkom 2 hanya punya 24 transponder C-band standar. Jika tak dipakai semua, izin penempatan slot orbit bisa dicabut dan diserahkan ke negara lain yang sudah mengincarnya.

Nama Besar

Telkom memilih Thales Alenia Space sebagai mitra manufaktur dari Satelit Telkom-3S. Perusahaan ini adalah yang membuat satelit Palapa D milik Indosat.

Sedangkan satelit T3S diperkirakan memiliki masa operasi 18 tahun (aktif 15 tahun), dengan kapasitas 49 ransponder, terdiri atas 24 transponder C-Band (24 TPE), 8 transponder extended C-Band (12 TPE), dan 10 transponder Ku-band (13 TPE).

Wahana peluncur mengandalkan Arianespace. Fasilitas Arianespace sudah tersebar di lima lokasi di seluruh dunia, yakni Perancis, Amerika Selatan, Washington DC, Tokyo, dan Singapura.  

IndoTelko yang mendapat kesempatan dari  Telkom untuk melihat salah satu pabrik Thales Alenia Space di Cannes, Prancis dan menyaksikan langsung peluncuran dari Kourou mendapatkan kesan kedua perusahaan yang ditunjuk Telkom memang ahli di bidangnya.

IndoTelko bersama rombongan media dan Tim Telkom berfoto bersama di pabrik Thales Alenia Space

Semua proses mulai dari pabrikasi, integrasi, testing hingga peluncuran Telkom 3S semuanya tepat waktu, tidak ada anomali atau masalah yang signifikan muncul jelang Lift Off.   

Budaya kerja dari kedua perusahaan ini patut dicontoh oleh pemain di Indonesia jika memang ingin serius bermain di bisnis antariksa khususnya atau teknologi informasi umumnya.

Selama di lapangan, IndoTelko tak melihat adanya penyelesaian pekerjaan yang bersifat extra-ordinary atau rush-hour hingga membuat karyawan di kedua perusahaan lembur demi kejar tayang untuk T3S. Bahkan, hari libur benar-benar dinikmati bukan untuk urusan pekerjaan yang akan menjelang hari H.

Model kerja yang dikembangkan Thales Alenia Space dan Arianespace sangat rapi dan berbasis proses dimana semua tahapan terintegrasi dengan baik sebagai rangkaian end to end sehigga mengalir dan efisien.

Mengandalkan model seperti itu setiap bagian dalam proses pekerjaan jelas siapa penanggung jawabnya sehingga  bila terjadi sesuatu anomali atau tidak sesuainya hasil pekerjaan akan sangat mudah menemukan "terdakwanya."

Semua orang tentu tidak ingin menjadi "terdakwa", maka mereka otomatis harus selalu menghasilkan deliverables yang berkualitas dengan menunjukkan kompetensi yang mumpuni.

Hal lain yang menjadi kunci sukses keduanya adalah selalu memperhatikan hal yang detail tanpa melupakan perkembangan teknologi.

Ditambah dengan budaya disiplin mengikuti prosedur kerja denga seksama, memperhatikan target waktu dan konsen yang tinggi terhadap data dan report, hasilnya adalah kesuksesan dalam setiap misi peluncuran. (Baca: Kumpulan berita T3S)

Terakhir adalah dukungan dari pemerintah untuk kedua perusahaan. Fasilitas yang dimiliki Arianespace di Kourou didukung habis oleh pemerintah Prancis dan  European Space Agency (ESA). (Baca: Thales Alenia Space)

Bagi Indonesia yang terdiri dari banyak pulau, satelit adalah infrastruktur strategis tak hanya sebagai salah satu backbone telekomunikasi tetapi juga untuk keperluan intelijen, cuaca, dan lainnya. Sudah saatnya lebih serius menangani infrastruktur ini dengan mengadopsi resep sukses kedua perusahaan besar di atas agar di masa mendatang tak terus menerus menjadi konsumen.

@IndoTelko