Menyoal aplikasi untuk pesta demokrasi

Ilustrasi

Tak terasa dalam hitungan minggu perhelatan demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2017 akan masuk masa pencoblosan.

Animo mesyarakat lumayan tinggi terhadap kegiatan pesta demokrasi ini, terutama Pilkada DKI Jakarta yang dianggap mirip-mirip sebagai pemanasan menuju Pemilihan Presiden 2019.

Media sosial pun lumayan riuh menyambut setiap tahapan dari Pilkada serentak ini. Hal  itu terlihat  kala digelar debat kedua Pilkada DKI Jakarta pada Jumat (27/1) lalu.  

Dalam pernyataan resminya Twitter menyatakan pada Jumat (27/1) malam terdapat setidaknya 560.000 Tweet yang terkait dengan #Debat2PilkadaDKI, di mana puncak percakapan terjadi pada jam 09.31 WIB dengan 1.700 Tweet per menit.

Itu baru di twitter, belum di platform lainnya. Facebook dipastikan lebih riuh. Catatan We are Social menyatakan Jakarta adalah kota keempat terbesar dengan 16 juta pengguna aktif Facebook, sementara Indonesia pemilik 106 juta pengguna aktif facebook.

Data We Are Social yang diberi judul 2017 Global Digital juga  menyatakan penetrasi internet Indonesia sekarang 51% dari populasi. Sedangkan lama orang  di mobile phone itu 03.55 dan desktop 04.48, dan  konten 69% diakses via smartphone.

Melihat profil dari netizen mengakses informasi dan potensi mendulang suara dari kelompok ini, tak heran banyak Pasangan Calon (Paslon) atau terafiliasi dengan jagoannya  mulai bermain aplikasi.

Simak aksi Tim Pemenangan Paslon Pilkada DKI Jakarta Anies Baswedan-Sandiaga Uno melalui  aplikasi game "Aksi Bersama" untuk memperkenalkan program mereka kepada publik.

Permainan yang tersedia untuk perangkat berbasis iOS dan Android merupakan hadiah dari Komunitas Alumni Muda Universitas Indonesia.     

Selain game, tim Anies-Sandi juga membuat aplikasi untuk relawan mereka "Salam Bersama DKI Jakarta", yang antara lain berisi kumpulan pemberitaan pasangan calon tersebut. Terakhir, dengan bekal dukungan Artis Raffi Ahmad akan ada serial konten video tentang program Anies-Sandi tak lama lagi.

Sementara Partai Solidaritas Indonesia yang dikenal  sebagai salah satu pendukung Paslon Petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat, membuat aplikasi Go Ahok 2 untuk memantau kinerja pasangan petahana tersebut. Aplikasi berbasis lokasi dan crowdsourcing ini dapat digunakan oleh relawan maupun publik, untuk melihat kinerja pasangan calon nomor urut dua itu.

Kawal hasil
Aplikasi tak hanya digunakan untuk sosialiasi kegiatan, tetapi juga mengawal hasil Pilkada DKI Jakarta nantinya.

Paslon Pilkada DKI Jakarta  Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni memaksimalkan aplikasi 'Jaga Agus Sylvi'.

Aplikasi yang bisa diunduh di ponsel pintar berbasis android itu dibuat oleh relawan dengan tujuan meminimalisir potensi kecurangan yang mungkin akan menimpa pasangan nomor urut satu tersebut.

Ada juga aplikasi untuk melihat perhitungan suara yang “independen” seperti "Kawal Pilkada" atau MataRakyat.

KawalPilkada memuat data hasil penghitungan suara (formulir C1) di tiap TPS yang kemudian dikumpulkan dengan data serupa dari TPS lain di seluruh Jakarta. Semua data yang diunggah melalui aplikasi tersebut akan ditampilkan dalam laman kawalpilkada.id.

Sedangkan MataRakyat dibesut inTouch Innovate Indonesia  mengandalkan penghitungan cepat dengan metode Crowd Participation oleh relawan e-Saksi yang ada di 13 ribu TPS di seluruh DKI Jakarta.

Aplikasi yang kian ramai bermain di ranah demokrasi ini sebaiknya harus diawasi dengan ketat oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) layaknya lembaga survei yang terverifikasi dan terakreditasi.

Jika tak ada aturan dan pengawasan terhadap aplikasi-aplikasi ini, bisa terjadi pembentukan opini yang malah membuat kesimpangsiuran informasi layaknya lembaga survei kala berlomba mengumumkan hasil Quick Count pemilu ketika mereka belum diakreditasi.

Sudah menjadi rahasia umum, teknologi itu netral tetapi yang mengoperasikannya belum tentu tak berpihak.

 @IndoTelko