IDPRO akan sertifikasi data center

Perwakilan dari anggota dan founder IDPRO, dari kiri ke kanan: Nexcenter, Elitery, Telkomsigma, Lintasarta, PPST Universitas Indonesia, CBN, GTN, DCI, dan XL Axiata.(Foto:IDPRO)

JAKARTA (IndoTelko) - Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) berencana akan melakukan sertifikasi fasilitas data center untuk mengembangkan kualitas dari bisnis anggotanya.

IDPRO terdiri dari pemain-pemain data center utama di Indonesia seperti DCI, Elitery, GTN, Nexcenter, XL, Telkomsigma, dan kelompok akademisi dari Pusat Penelitian Sains dan Teknologi Universitas Indonesia yang didirikan pada 22 Juni 2016.

"Kami ingin mengkonsolidasikan dan memperkuat potensi industri data center di Indonesia demi kemajuan pertumbuhan teknologi informasi di seluruh negeri. Salah satunya dengan melakukan sertifikasi ini. Kami akan melakukan standardisasi sendiri terhadap penyedia jasa pusat data di Indonesia, membentuk tim auditor, serta melakukan edukasi kepada para pengguna jasa pusat data," jelas Ketua IDPRO Kalamullah Ramli, kemarin.

Menurutnya, standar layanan data center yang ideal mencakup beberapa hal. Pertama, data center harus memiliki lokasi yang strategis, dukungan ketersediaan listrik yang terjamin dan berkelanjutan, suplai air yang terjaga, fasilitas untuk secara langsung menghubungkan data center ke lokasi para pelanggannya, fasilitas keamanan yang mumpuni, serta keamanan dari gangguan bencana alam.

Kedua, penyedia data center harus memenuhi standar teknologi data center terkini yang sudah menggunakan pendekatan teknologi cold containment, efisiensi pemanfaatan tenaga listrik, penggunaan water chiller hingga penyuplai listrik Dynamic Rotary Uninteruptable Power Supply (DRUPS) dan LED yang bebas dari bahan beracun. Hal ini bertujuan untuk menghemat penggunaan lstrik, dan menjaga keamanan pasokan daya listrik.

Ketiga, keamanan. Keamanan adalah hal yang harus diperhatikan dan dijamin oleh penyedia jasa data center bagi pelanggannya untuk memberikan rasa aman dan kepercayaan. Keamanan yang harus diperhatikan dimulai dari keamanan lingkungan sekitar data center, bangunan yang digunakan, dan juga keamanan dalam menjaga semua aset yang berada di dalam gedung.

Selanjutnya, selain penjaminan keamanan secara fisik, penyedia jasa data center juga harus mampu menjaga keamanan non-fisik yang menyangkut teknologi yang digunakan untuk melindungi data-data pelanggan dari risiko peretasan, pencurian, serta infiltrasi virus yang berpotensi mengacaukan sistem operasi.

Hal terakhir yang menjadi standar ideal layanan data center adalah fasilitas transportasi, fasilitas kesehatan, dan fasilitas infrastruktur kelistrikan yang mumpuni layaknya suplai gas dan BBM.

Diungkapkannya, saat ini total luas data center yang dikelola anggota IDPRO telah mencapai sekitar 350.000 meter persegi. "Data adalah dewa. Siapa yang memiliki data, dia memiliki masa depan. Kami bertekad untuk menjadikan Indonesia sebagai digital nation yang memiliki kedaulatan terhadap data. Kita sudah ada aturannya yakni PP Nomor 82 Tahun 2012 yang mewajibkan semua data orang Indonesia harus berada di Indonesia,” tegas Pria yang akrab disapa Mulli ini.

Bangun Ekosistem
Lebih lanjut Mulli mengatakan, untuk membangun ekosistem bisnis data center di Tanah Air, IDPRO akan menggelar Konferensi Data Center pada tanggal 22 Februari 2017 mendatang.  

Konferensi ini diadakan untuk memberikan informasi edukatif kepada masyarakat dan dunia industri di Indonesia mengenai pentingnya data center. Dalam acara ini, IDPRO juga akan memberikan penjelasan yang lebih mendalam kepada para pelaku bisnis dan industri di tanah air mengenai pentingnya pengembangan dan penerapan Standar Nasional Indonesia untuk bidang data center.

Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pengertian yang baik dan benar tentang data center sehingga dapat mengembangkan kualitas layanan industri data center di Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Untuk mempermudah penyediaan informasi yang aktual seputar IDPRO dan industri data center di Indonesia bagi masyarakat, IDPRO mmeluncurkan website resmi mereka yang dapat di akses di www.idpro.id. Website IDPRO ini mulai resmi beroperasi pada tanggal 14 Desember 2016.

Bendahara IDPRO Hendra Suryakusuma mengutip data dari lembaga riset Frost and Sullivan yang menyatakan nilai pasar pusat data di Indonesia mencapai US$ 58,1 juta pada 2015. Diproyeksikan, pada 2022 akan mencapai US$ 482 juta, dengan rata-rata pertumbuhan setiap tahun mencapi 30%.

Sekjen IDPRO Richard Kartawijaya mengajak semua penyelenggara pusat data di Indonesia untuk bergabung di asosiasi ini. "Bersama-sama kita kuatkan asosiasi pusat data kita, supaya kita memiliki kualitas kelas dunia, dan dapat melakukan sertifikasi maupun standardisasi terhadap pusat data kita sendiri, tanpa harus kita menyewa kepada pihak luar, seperti Uptime Institute, karena biayanya sangat mahal,” ujarnya.(id)