Dibalik jurus mabuk Bos Indosat

CEO Indosat, Alexander Rusli (dok)

President Director & CEO Indosat Alexander Rusli menjadi primadona media massa dalam waktu seminggu belakangan ini.

Pria berkacamata yang dikenal blak-blakan ini melancarkan serangan frontal ke Telkom Group. Sorotan tajam dari Pria yang pernah menjadi Staf Khusus di era Menkominfo dan Menteri BUMN Sofian Djalil ini lumayan menohok manajemen Telkom Group.

Serangan pertama yang dihantam adalah anak usaha Telkom yakni Telkomsel. Skema tarif dari penguasa seluler ini disindir di media sosial dalam kampanye Buktikan Rp1. Tak berhenti disitu, Telkomsel juga dituding memonopoli pasar luar Jawa dengan penguasaan market share hingga 80%.

Belum puas, Alex melontarkan peluru ke Telkom. Penguasa pasar infrastruktur ini dituding diskiriminasi dalam berbisnis dan lebih mengutamakan Telkomsel dalam penyewaan kapasitas jaringan.

Langkah dari Alex ini oleh banyak kalangan dianggap di luar kebiasaan. Soalnya, Alex adalah pemimpin dari operator kedua terbesar di Tanah Air. Indosat Ooredoo bukan pemain baru di industri telekomunikasi. Bahkan, sudah menjadi rahasia umum banyak juga mantan eksekutif dari Telkom Group ada di Indosat, begitu juga sebaliknya.

Contohnya, seorang Herfini Haryono yang duduk sebagai Chief Wholesale & Enterprise Officer Indosat Ooredoo adalah mantan Direktur di Telkomsel.

“Terpaksa keluar jurus mabuk, kalau tidak gak bakal seperti sekarang kan. Kita cuma minta barrier interkoneksi dihilangkan dan diijinkan untuk berbagi jaringan aktif agar efisien. Dua aturan ini belum keluar juga karena dihambat terus. Kalau kita tak ramaikan sekarang, tak terwujud itu,” ungkap Alex kepada sejumlah media termasuk, IndoTelko, beberapa waktu lalu.

Indosat Ooredoo sangat berharap biaya interkoneksi turun diatas 26% bahkan kalau bisa mencapai diatas 50% agar bisa mengakuisisi pelanggan di pasar yang dikuasai Telkomsel. Untuk menunjang tarif terjangkau, dalam investasi pun rencananya dilakukan dengan efisien memanfaatkan berbagi jaringan atau network sharing.

Regulasi soal network sharing masih menunggu tanda tangan Presiden terhadap penyesuaian Peraturan Pemerintah (PP) No 53/2000 tentang telekomunikasi. Sedangkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Permenkominfo) soal interkoneksi akan dikeluarkan pada Agustus mendatang. Dua regulasi ini memang mengundang perdebatan di antara pemain sehingga aroma tarik menarik kepentingan sangat kental.

Alhasil, keluarlah jurus mabuk dari Alex. Jika di posisi seorang Alex,  tentu dapat dipahami mengingat Indosat Ooredoo dalam tiga tahun terakhir sudah melakukan modernisasi jaringan dan ingin investasinya kembali. Singkatnya, sebagai pemain, Alex sudah optimal menjalankan perannya.

Hal yang menggelitik tentunya menanyakan peran dari regulator. Ingat, yang diminta oleh Indosat sebenarnya adalah adanya perubahan regulasi, sedangkan isu seputar Telkom Group, tak lebih dari sasaran antara. Ibarat bermain bilyar, teknik pantulan tengah digunakan untuk memasukkan bola yang diinginkan. (Baca juga: Provokasi Indosat)

Sangat menarik menunggu posisi dari Menkominfo Rudiantara dari sangkarut ini. Bisa dikatakan inilah ujian sebenarnya bagi kepemimpinan Rudiantara sejak menjadi Menkominfo. Mengikuti maunya Indosat, mengakomodasi Telkom Group, atau bermain aman dengan tak melakukan apapun dan membiarkan pertempuran menjadi sengit. (Baca juga: Revisi aturan frekuensi)

Apapun langkah yang akan diambil Rudiantara, tekanan keras dari Alex telah membawa Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) masuk menyelidiki kasus ini, baik tentang isu monopoli Telkomsel di luar Jawa dan penerapan tarif Rp 1 oleh Indosat di luar Jawa. (Baca juga: KPPU selidiki Telkomsel dan Indosat)

Jika tak tahu kapan berhenti melancarkan serangan, dan mulai merangkul, bisa saja jurus mabuk berbalik menyerang Indosat dan malah merugikan industri secara keseluruhan.

@IndoTelko