JAKARTA (IndoTelko) –Tingginya adopsi cloud computing dan sejumlah aturan yang mendorong bisnis data center ternyata belum menjadikan pasar Indonesia siap untuk infrastruktur pusat data dengan spesifikasi Tier 4.
“Pasar belum siap pasar karena biaya pembangunan untuk Tier 4 itu mahal, sementara respon spesifikasi itu belum tinggi. Karena itu kami fokus ke data center Tier 3 saja,” ungkap Vice President Sales Biznet Data Center Ferryus Eko Seftanto, kemarin.
Menurutnya, pasar di Indonesia masih sensitif terhadap harga dalam menggunakan data center. “Selain itu awareness juga belum tinggi untuk Tier 4,” tambahnya.
Diungkapkannya, data center tier 4 memiliki biaya pembangunan (cost to build) yang lebih tinggi 50% dari cost to build data center tier 3. Biaya operasional juga tinggi, di mana sebesar 80% berasal dari biaya listrik.
Tingginya biaya pembangunan dan operasional membuat harga sewa data center tier 4 bisa mencapai dua kali lipat dari harga sewa data center tier 3.
Di Indonesia, belum banyak pemain yang membangun data center berspefisikasi tier 4. Rata-rata yang tertinggi masih di tier 3. Biznet memiliki fasilitas data center tier 3, yang diklaim memiliki teknologi setara dengan tier 3 plus. Data center miliknya berlokasi di Cimanggis, Jawa Barat, dengan total area seluas 150 ribu meter persegi (square meter/sqm).
"Kami baru buka 6.000 meter persegi. Namun, okupansinya baru sekitar 30%. Kami masih fokus untuk mendorong okupansinya hingga 50% pada tahun ini. Sehingga tahun ini kami belum ada pembangunan data center baru," tuturnya.
Perseroan menargetkan okupansi data center di Cimanggis dapat meningkat menjadi 80% pada tahun depan.
Pemimpin pasar data center di Indonesia adalah TelkomSigma dnegan penguasaan sekitar 35% pangsa pasar. Anak usaha Telkom ini juga tak memiliki data center Tier 4. (Baca juga: TelkomSigma jawab tantangan)
Pasar data center kian panas seiring Multipolar Technology dan Anabatic akan membangun infrastruktur tersebut untuk mencuil pasar Teknologi Informasi.(ak)