Adopsi Smartphone Tinggi, Telkom tetap Optimistis dengan IndiHome

Dian Rachmawan (Dok)

JAKARTA (IndoTelko) – Adopsi penggunaan smartphone di Indonesia termasuk paling tinggi di dunia.

Dari riset yang dilakukan Google Indonesia bekerjasama dengan Taylor Nelson Sofres (TNS) terungkap  Indonesia merupakan satu dari 12 negara di dunia yang penggunaan smartphone  lebih tinggi daripada komputer, dengan perbandingan 28% banding 15%.

Tahun lalu, adopsi smartphone di Indonesia tahun mencapai 28% dari posisi sebelumnya 14%. Ini semakin menunjukkan Indonesia sebagai negara mobile broadband dan memberikan tantangan yang lumayan berat bagi pemain Fixed Broadband dengan andalan akses serat optik.

Bila dilihat ada 60 juta jumlah rumah tangga di Indonesia, dimana tingkat penetrasi  Fixed Broadband baru mencapai 5% atau tingkat penetrasi sebesar 13% dari jumlah rumah tangga yang di dalamnya terdapat pengguna internet. (Baca juga: Adopsi smartphone Tinggi di Indonesia)

“Sebenarnya fixed dan mobile broadband itu tak berkompetisi, tetapi saling melengkapi. Bagi negara-negara yang tak punya sejarah menggelar Post, Telecommunication, Telegraph (PTT), biasanya mobile menjadi pilihan untuk meningkatkan teledensitas. Tetapi, di negara-negara maju seperti Korea Selatan dan Jepang, Fixed Broadband itu pilihan utama, karena kenyamanan dan kecepatan yang diberikan,” jelas Direktur Consumer Telkom Dian Rachmawan, kemarin.    

Menurutnya, jika melihat profiling dari pengguna internet di Indonesia, khususnya untuk perumahan, Fixed Broadband adalah solusi paling tepat. “Di rumah itu butuh triple play yakni telepon, internet, dan TV. Inilah yang membuat Telkom yakin IndiHome itu bisa mencapai tiga juta pelanggan tahun ini,” tegasnya.

Diungkapkannya, Telkom sudah memiliki kapasitas Fiber to the Home (FTTH) 20 Juta Home Passed, hal yang perlu dilakukan sekarang memberikan pemahaman terhadap kebutuhan triple play dari IndiHome. (Baca juga: Strategi Telkom di Fixed Broadband)

Di level backbone, Telkom telah menggelar fiber optic  yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Salah satunya adalah dengan merampungkan kabel laut sepanjang 3.500 KM yang menghubungkan Sulawesi Maluku dan Papua atau dikenal dengan sebutan SMPCS pada bulan Maret 2015.   

“Sebagus-bagusnya 4G, kalau pengguna banyak throughput tak bisa kencang. IndiHome ini bisa 100 Mbps, bisa melayani sampai 20 smartphone kalau mau offloading. Sekarang aplikasi era streaming yang butuh internet kencang. Cek saja di sekitar kita, apa bisa streaming kencang dengan mobile. Pasti pada nyantol ke WiFi,” katanya.

Edukasi    
Lebih lanjut dikatakannya, untuk mempercepat penetrasi layanan IndiHome, Telkom tengah gencar melakukan edukasi dan retensi ke daerah yang potensial. Terbaru, dengan mendukung konser band legendaris Air Supply di Malang-Yogyakarta pada 10-11 Maret 2015.

Untuk mendukung pelaksanaan Konser Air Supply, Telkom juga menyediakan kemudahan akses Internetkepada masyarakat luas melalui penyediaan WiFi.id Corner atau yang selama ini dikenal sebagai WiCo. Dengan fasiitas ini diharapkan masyarakat kota Malang dan Yogyakarta yang hadir dilokasi konser dapat dengan mudah melakukan akses Internet.

Untuk melayani kebutuhan high speed Internet di Malang dan Yogyakarta, Telkom telah menggelar fiber optic yang bisa melayani 100 ribu pelanggan di Malang dan Yogyakarta dan saat ini IndiHome sudah menjadi market leader penyedia layanan Internet broadband kedua kota tersebut.

“Kami lakukan edukasi di kedua kota tersebut karena selama ini dikenal sebagai kota pelajar dan mahasiswa sehingga tingkat kebutuhan akan akses internet sangat besar. Basis pengguna Internet di Malang dan Yogyakarta selama ini terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan sehingga kehadiran IndiHome merupakan sebuah langkah yang tepat untuk lebih meningkatkan penetrasi internet di kedua kota tersebut,” pungkasnya.(dn)