Dukungan Axiata Kuat, Peringkat XL Stabil

Ilustrasi (dok)

JAKARTA (IndoTelko) – Lembaga Fitch Ratings menegaskan peringkat PT XL Axiata Tbk (EXCL) pada surat utang global jangka panjang dan surat utang rupiah di level BBB.

Lembaga ini juga menegaskan peringkat nasional jangka panjang XL pada level AAA(idn) dengan outlook stabil.

Analis Fitch Ratings Nitin Soni dalam keterangan tertulis, Jumat (23/1) menyatakan peringkat nasional AAA tersebut menunjukkan peringkat tertinggi yang diberikan oleh Fitch Ratings pada skala peringkat nasional untuk Indonesia.

Peringkat ini diberikan untuk emiten atau utang emiten dengan prediksi risiko relatif terendah atas gagal bayar utang dibandingkan dengan emiten lain atau obligasi negara.

Peringkat BBB untuk XL berkaitan erat dengan kekuatan kredit induk usaha EXCL sebesar 66,5% yakni Axiata Group Berhad. Peringkat Fitch untuk XL secara top-down sesuai dengan kriteria induk dan anak usaha mengingat kepentingan strategis dan keuangan mereka bagi induk.

XL adalah anak usaha Axiata yang memiliki pertumbuhan tercepat dengan berkontribusi 35% dan 34% terhadap pendapatan dan EBITDA selama sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2014.

Menurutnya,Axiata memiliki kemamuan dan kemampuan untuk mendukung keperluan XL, mengingat besarnya perusahaan dan merek yang dimiliki XL. Komitemen itu diperlihatkan dengan  memberikan dukungan nyata berupa  pinjaman US$500 juta kepada XL untuk mendanai sebagian akuisisi Axis pada tahun lalu.

Membaik
Dalam analisanya, diperkirakan leverage dari XL akan membaik pada  2015  dengan Funds flow from operations (FFO)-adjusted net leverage ke sekitar 3,0x dari 3,5x di akhir 2014 dikarenakan diterimanya dana Rp 5,6 triliun dari penjualan 3.500 menara dan  Rp 1,1triliun dari penjualan saham treasuri.

XL diperkirakan akan menggunakan dana kas untuk membayar sebagian dari utang perusahaan senilai Rp 30 triliun hutang perusahaan.

Perseroan diperkirakan  akan diuntungkan oleh biaya sewa yang dibawah harga pasar sebesar Rp 10 juta per menara per bulan.
Fitch memperkirakan XL akan memonetisasi 6.500 menara yang tersisa antara tahun 2015 atau 2016 untuk mengurangi tingkat utangnya.

Sementara untuk pertumbuhan usaha diperkirakan XL mengalami single digitseiring dengan bertumbuhnya industri, didorong oleh layanan data yang bertumbuh cepat karena meningkatnya ketersediaan dari smartphones murah.

Marjin operating EBITDAR dari XL akan tetap berada di sekitar 40% di 2015-2016 karena layanan data yang memiliki marjin lebih rendah akan mensubstitusi layanan suara dan teks yang lebih menguntungkan selagi tarif layanan data tetap rendah.

Selama tahun lalu sebagai dampak dari persaingan harga pada segmen data, EBITDA marjin dari segmen tersebut mencapai 15%-20%,  jauh lebih rendah dari keuntungan tradisional suara dan teks di atas 40%.

Tarif data turun secara bertahap karena operator telekomunikasi mengutamakan promosi penggunaan internet dari pada keuntungan. Tarif data rata-rata dari XL per megabyte turun ke Rp 40 di 2014 dari Rp 70 setahun sebelumnya.

Fitch masih memperkirakan akan ada operator lapis kedua hengkang dari kompetisi tahun ini  sehingga jumlah pemain menjadi empat dari enam, dengan harapan tarif data menjadi lebih stabil.

Bottom Line
Sedangkan kondisi bottom line XL diperkirakan meningkat tahun ini karena keberhasilan  mengelola biaya opersional lebih efektif. Untuk Free cash flow (FCF),  XL kemungkinan akan negatif di 2015 karena FFO dari perusahaan sebesar Rp 7 triliun akan hanya cukup untuk membiayai target belanja modal dengan nominal yang sama.

Fitch memperkirakan FCF akan positif di 2016 karena penghematan belanja modal akan diperoleh dari akuisisi Axis. Belanja modal yang berhubungan dengan data dari XL akan menurun karena perusahaan berinvestasi lebih dulu daripada pesaingnya.(ak)