Memoles Industri Kreatif Digital agar Bersinar

Ilustrasi (dok)

Pemerintahan Presiden Joko Widodo dikabarkan tengah menggodok pembentukan Badan Ekonomi Kreatif yang bisa menopang pertumbuhan pembangunan.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mendapat tugas untuk mempersiapkan Badan yang posisinya setara dengan kementrian itu. Badan ini diharapkan bisa memberikan nilai keekonomian baru setelah menjalani masa transisi selama 6 bulan mendatang.

Badan Ekonomi Kreatif akan diisi akademisi, pebisnis, komunitas dan government. Badan ini  merupakan inkubasi atau jembatan antara pelaku kreatif dan pihak komersil.  

Saat ini nilai industri kreatif sekitar Rp 500 triliun atau 7% dari PDB, tetapi industri kreatif digital sumbangan hanya Rp 12 triliun. Pemerintah memesang target ambisius yakni kontribusi bisa menjadi 20% ke PDB.

Target yang dipasang ini jika dilihat dengan kondisi lapangan memang lumayan tinggi. Peringkat ICT Indonesia masih berada di bawah beberapa negara ASEAN jika merujuk pengukuran World Economic Forum (WEF) yang menempatkan di nomor 64 kalah dibandingkan Singapura (2) dan Malaysia (30).

Dilihat dari sisi Network Readiness Index dari WEF yang mengukur secara holistik pengembangan  ICT  dan dampaknya di sebuah negara, Indonesia menempati posisi 64, dibawah posisi Singapura (urutan 2) dan Malaysia (urutan 30).

Network Readiness Index Indonesia berada di atas rata-rata lower-middle income group dimana Indonesia memiliki nilai yang baik dari sisi affordability, skill serta business usage. Tetapi, memiliki nilai rendah di sisi individual usage serta infrastructure dan content readiness. Ujungnya, nilai economic impact menjadi rendah.

Namun, kondisi ini tentu tak menjadikan Indonesia harus berkecil hati. Jika para pelaku ekonomi kreatif berbasis digital berhasil mengombinasikan ilmunya dengan kewirausahaan, tentu sektor ini bisa memperkuat daya saing Indonesia dalam pasar bebas ASEAN nantinya.   

Bukankah kekuatan wirausaha itu mampu mencermati kesempatan dan memberikan nilai tambah saat sumber daya di sekitarnya minim atau tidak ada? Kali ini peerintah menunjukkan dukungan dengan membentuk Badan Ekonomi Kreatif, seharusnya aksi para Technoprenuer lokal menjadi lebih dahsyat di masa mendatang.

@IndoTelko